Top 5 This Week

Related Posts

2 Produk Baru Enviro Craft Meluncur di ARCH:ID 2026, Ada Genteng Komposit Anti Lapuk Motif Serupa Kayu Ulin

PropertyandTheCity.com, Tangerang (Banten)– Perabotan dari rotan tidak asing di negeri kita. Pemanfaatannya bahkan semakin luas, tidak sebatas meja, kursi, dan rak, tapi juga aneka aksesoris seperti partisi dan tatakan gelas/piring. Desainnya juga makin menarik dan inovatif. Jangan heran bila perabotan ini masih populer khususnta di kalangan menengah atas. 

Hanya saja, daya tahan rotan alami kurang ‘bandel’. Bila terus terpapar hujan dan panas, mudah lapuk. Sebabnya, sebagian besar masyarakat mulai bergeser ke rotan sintetis. Tampilannya mirip sekali dengan rotan alam. Bentuknya berupa helaian terbuat dari bahan sejenis plastik yang disebut polyseli. Bahan ini kemudian dianyam seperti menganyam helaian rotan asli menjadi berbagai perabot seperti meja, kursi, kabinet, sampai sofabed sesuai desain yang diinginkan.

“Menggunakan plastik yang sangat durable, tentu saja perabot dan perkakas rotan sintetis cocok untuk aplikasi outdoor karena tidak terpengaruh cuaca, tidak mudah patah atau lapuk,” kata Stanford S, Founder dan Direktur Enviro Craft by Charismatama di pameran arsitektur ARCH:ID 2026, ICE BSD, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (23/4/2026).

Media Briefing Enviro Craft pada ARCH 2026, Kamis (23/4). [Foto: Andr. Putri]

Enviro Craft by Charismatama adalah salah satu produsen produk anyaman rotan sintetis (sustainable material) yang peduli lingkungan. Pabrikan asal Surabaya, Jawa Timur, ini berkomitmen menghadirkan solusi material inovatif yang ramah lingkungan demi masa depan bumi yang lebih baik.

Berbeda dengan rotan asli yang model helaiannya hanya satu, rotan sintetis menawarkan aneka model helaian sehingga fleksibel diterapkan untuk berbagai gaya furniture, mulai dari industrial, tropis, shabby-chic, sampai klasik dan modern. Pun rotan sintetis tetap memiliki sisi ramah lingkungan kalau sudah berbentuk bahan jadi. “Helaiannya bisa didaur ulang karena terbuat dari plastik recycled,” lugas Stanford.

Pada perhelatan ARHC:ID 2026, Enviro Craft secara eksklusif menggandeng Barca Living dan Obssessionss, menciptakan koleksi perabot terbaru, Overlines. Produk terdiri sembilan jenis mulai dari dining chair (kursi makan), lounge chair (kursi santai), kabinet, side table (meja kecil fungsional yang ditempatkan di samping sofa, kursi atau tempat tidur), lampu, bench (bangku), dan lainnya. 

Produk kolaborasi perdana bagi Obssessionss untuk merancang perabot dan perkakas Enviro Craft dijawab dengan desain yang mengedepankan kesederhanaan bentuk melalui tampilan garis-garis lurus. Bentuk-bentuk lengkung dan ikatan konvensional yang mengganggu pandangan dikurangi, sehingga produk furnitur terkesan berkelas dan bergaya.

“Overlines mendasari konsep desain produk yang kami rancang bersama. Desain terlihat lebih dinamis lewat garis-garis tegas. Kami berusaha aplikasikan karakterisitk itu pada produk dengan tetap memaksimalkan bahan anyaman outdoor fabric untuk memastikan furnitur taman tetap awet, nyaman, dan terlihat bagus selama bertahun-tahun,” ungkap Karen Irene, Product Designer Obssessionss di acara yang sama.

Barca Living, industri manufaktur rotan, marmer, dan kayu dengan pengalaman lebih dari 30 tahun mengklaim kolaborasi cipta produk terbaru ini bertumpu pada kesederhanaan dari segi desain dan kecanggihan dari segi fungsi. Artinya, terjadi keselarasan antara sisi visual dan dekoratif dengan sisi fungsi produk yang efisien.

“Perjalanannya cukup panjang, dimulai sejak Januari 2026 mulai dari desain, research and development sampai produk jadi di bulan April ini. Kami menciptakan sebuah dialog visual baru yang memadukan keahlian demi menciptakan sebuah mahakarya untuk Enviro Craft yang holistik dan menyatu dengan ruang,” ujar James, Direktur Barca Living.

Diversifikasi Produk

Menurut Stanford, Enviro Craft sejauh ini belum terlalu terpengaruh fluktuasi bisnis properti akibat kebijakan moneter yang ketat maupun gangguan logistik di Selat Hormuz yang mengancam ketersediaan bahan baku plastik. Tebal tipisnya pertumbuhan ekonomi dan sektor properti, tetap akan berdampak positif terhadap industri bahan bangunan. 

“Fokus kami menjaga mutu. Bila memang kenaikan harga tidak bisa dihindari, kami tetap mengutamakan perspektif dari konsumen,” ungkapnya.

Stanford mengatakan, salah satu strategi agar perusahaannya tetap eksis ialah melakukan ekspansi pengembangan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Enviroof, atap berbahan komposit dengan motif menyerupai serat kayu ulin. [Foto: Andr. Putri]

Terbaru, Enviroof Composite Roofing. Atap berbahan komposit ini adalah diversifikasi bisnis kedua Enviro Craft di produk atap. Dua tahun sebelumnya perusahaan memasarkan Envirox, atap sintetis rumbia atau alang-alang yang juga dirancang tahan terhadap panas, hujan, dan sinar matahari karena dilengkapi proteksi anti-UV.

Material Enviroof terbuat dari campuran limbah plastik, kaca, serat alam, atau setara polimer untuk menghasilkan ketahanan cuaca ekstrem, bobot ringan, dan ramah lingkungan. 

“Atap Enviroof hadir menjawab kebutuhan desainer dan arsitek akan material penutup atap yang estetis sekaligus bebas dari masalah klasik atap alami, seperti lapuk, sarang serangga, dan warna yang cepat pudar. Jaminan ketahanan warna hingga 20 tahun,” imbuh Stanford.

Kendati sintetis, tampilan atap tetap terlihat alami berkat motif menyerupai lembaran serat kayu Ulin dengan pilihan kelir hitam, abu-abu kehijauan dan coklat.  “Material ini tidak hanya cocok untuk wilayah pesisir seperti hotel atau resor, tetapi juga fleksibel digunakan pada rumah modern di perkotaan,” tandasnya.

Jelajah “After Tempo” Booth Enviro Craft

Produk Overlines dan Enviroof Composite itu bisa Anda temukan di booth Enviro Craft di Hall 5, ARCH:ID 2026. Mengusung konsep “After Tempo” hasil desain Spatial Sonata ini area peraga ini tampil menawan dan hangat.

Foto: Andr Putri

Booth dirancang mengandalkan material anyaman berbasis rotan sintetis yang merentang dari selubung ruang (spatial enclosure) hingga detail furniture.

“Kami percaya bahwa desain yang hebat tidak hanya dilihat, namun juga dirasakan. Setiap anyaman, setiap tekstur, dan setiap skala instalasi yang kami hadirkan di ARCH:ID membawa komitmen yang sama, yaitu desain yang berintegritas, kualitas pengerjaan, dan perhatian tanpa henti terhadap setiap detail yang diperlukan,” jelas Stanford.

Eric Ekaputra, Owner Spatial Sonata, menyebut, booth dengan dua fasad ini dilengkapi dua pintu masuk, yakni lorong sempit dan bukaan menyerupai terowongan mengarah ke ruang interior lebih lapang. Fasad depan didefinisikan oleh bidang melengkung dan bersudut yang mengikuti geometri lokasi, yang mana komposisi anyaman vertikal dan horizontal karya Enviro Craft memandu pergerakan pengunjung secara alami. 

“After Tempo adalah eksplorasi material yang benar-benar hidup. Kami ingin pengunjung merasakan bagaimana anyaman tidak hanya melingkupi ruang, namun menciptakan ruang itu sendiri,” pungkas Eric.

Pengunjung akan menemukan dua zona utama, The Chamber, ruang persegi panjang dengan langit-langit 3,6 meter yang memberikan penekanan vertikal dramatis, dan The Lounge, area santai terbuka yang menampilkan koleksi furniture Barca Living dan Obssessionss.

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles