Propertyandthecity.com, Tangerang – Kalangan pengembang terus melakukan inovasi untuk menghadapi kondisi bisnis properti yang menahan diri (wait and see) karena berbagai faktor, bukan hanya karena tidak punya uang. Inovasi tidak sebatas soal produk tetapi juga pola-pola pembayaran yang menarik. Rabu (22/1/2025), Sinar Mas Land (SML) meluncurkan program penjualan nasional bertajuk Move in Quickly dengan memberikan diskon langsung hingga 25 persen untuk pembelian produk propertinya di seluruh wilayah Indonesia. Promo berlangsung mulai 22 Januari hingga 31 Desember 2025.

Dalam program Move in Quickly, konsumen cukup membayar uang muka (down payment/DP) 15 persen dicicil 12 kali tergantung kapan akan melakukan pembelian, dan akan diberikan diskon tambahan berupa insentif gratis pajak 100 persen dari pemerintah bila propertinya bernilai di bawah Rp2 miliar dan dibeli sebelum Juni 2025. Periode pertama, yakni 22 Januari-30 April 2025 SML memberikan diskon hingga 25 persen dan subsidi DP hingga 15 persen. Namun, bila konsumen melakukan transaksi pembelian maksimal di 31 Januari 2025, akan ditambahkan double lucky draw berupa diskon sampai 3,5 persen. Bahkan, untuk nasabah bank rekanan SML akan diberikan voucher belanja senilai Rp2 juta secara cuma-cuma.
Promo lainnya rupa-rupa, mulai dari Free BPHTB, bebas biaya KPA hingga 2,5 persen, bebas IPL hingga 1 tahun, voucher furniture hingga 10 persen, voucher electronic hingga 4 persen dan hadiah konsumen hingga 3,5 persen, sesuai dengan produk pilihan konsumen. Untuk memudahkan konsumen mengikuti program SML menggandeng 21 bank penyalur KPR/KPA.
“Move in Quickly ini adalah momentum meneruskan program nasional yang sudah kami jalankan sejak 2019. Kami melihat peluang besar di tahun 2025 dengan kebutuhan properti yang terus meningkat. Program ini sangat membantu dan memudahkan konsumen untuk memiliki properti, terlebih pemerintah akan terus mensupport perekonomian khususnya dunia properti dan perbankan agar lebih maju lagi di tahun ini,” ujar Herry Hendarta, Deputy Group CEO Strategic Development & Assets Sinar Mas Land, dalam konferensi pers, Rabu (22/1).
Sementara itu, Dian Asmahani sebagai Chief of Corporate Sales & Marketing Sinar Mas Land mengatakan, program dengan tema serupa pada tahun 2020 telah sukses mendapatkan respon positif dari masyarakat. Capaian serupa juga terjadi pada program penjualan nasional tahun 2024 bertajuk Infinite Living juga berhasil memberikan kontribusi sebesar Rp 1,4 triliun mencakup 580 unit.
“Ada lebih dari 1.350 unit properti meliputi rumah, apartemen, dan kaveling yang siap dijual dalam program penjualan nasional ini. Harga propertinya mulai Rp500 juta sampai Rp5 miliar,” ucap Dian.
Adapun proyek SML yang ikut serta dalam program Move in Quickly adalah BSD City, Kota Wisata, Wisata Bukit Mas, Legenda Wisata, Grand City Balikpapan, Aerium, Southgate, Casa de Parco, Navapark, Deltamas, Pesona Wisata Balikpapan, Nuvansa Bay Batam, dan lainnya.
Dian mencontohkan pembelian rumah Alesha House di BSD City, Serpong, Tangerang (Banten). Harga jual rumah Rp1,58 miliar turun menjadi Rp1,24 miliar (harga akad KPR) setelah mendapat diskon 8 persen + 1,25 persen + 3,5 persen senilai total Rp201 jutaan. “DP 10 persen setara Rp118 juta kami subsidi full, jadi konsumen hanya bayar uang tanda jadi Rp20 juta, plus kita tambahkan voucher perabotan senilai Rp55 juta. Dengan asumsi tenor KPR 20 tahun, suku bunga 1,86 persen per tahun, maka cicilan per bulannya untuk dua tahun pertama adalah Rp6,2 juta. Sangat besar potongannya,” terangnya.
Hermawan Wijaya, Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), menyebut tahun ini SML memasang target moderat Rp9,5 triliun, sama seperti target dua tahun lalu. Program Move in Quickly diharapkan mampu meraih penjualan sebesar Rp2 triliun. “Kami selalu menargetkan angka capaian sifatnya lebih konservatif. Biasanya kami set target tidak pernah merivisi, tetapi mendekati angka,” ungkapnya.
Ia menyatakan, sejak dua tahun lalu bisnis properti mulai menunjukkan pemulihan. Tahun ini banyak harapan musabab regulator memberikan banyak stimulus kepada masyarakat untuk kemudahan membeli properti, kendati sejumlah isu seperti kenaikan PPN dari 11 menjadi 12 persen, geopolitik, lonjakan harga minyak global, dan moneter global masih memicu tekanan.
Meski begitu, Hermawan yakin peluang tumbuh terbuka lebar. Terlebih BI-Rate turun sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Kelonggaran ini setidaknya menguatkan prediksi bakal terkendalinya inflasi 2025 selaju dengan terjaganya nilai tukar Rupiah.
“Tantangan tahun 2025 sebetulnya ada pada tingkat kemampuan customer membeli produk. Bagaimana caranya kita sebagai developer meng-create inovasi cara bayar supaya mereka mampu membeli produk kita. Tahun lalu sudah bagus, tingkat suku bunga cukup bagus, tenor juga lebih panjang, bunga lebih fix jadi masyarakat bisa melihat kemampuan mencicilnya. Mereka bisa memastikan keamanan pendapatannya yang kemudian di-translate ke cicilan KPR, tentunya (properti itu) akan dibeli bila merasa aman dalam mencicil,” pungkas Hermawan.





















