Jakarta, propertyandthecity.com — Perum Perumnas menggandeng PT Paramount Enterprise International untuk menjajaki pengembangan lebih dari 14.000 unit hunian di Maros, Parayasa, dan Maja. Potensi pengembangan ketiga proyek tersebut mencakup lahan seluas lebih dari 200 hektare.
Rencana kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) oleh Pelaksana Tugas Direktur Utama Perum Perumnas Imelda Alini Pohan dan Presiden Direktur PT Paramount Enterprise International.
Kedua perusahaan akan mempelajari sejumlah skema pengembangan kawasan hunian tapak, termasuk kemungkinan pembentukan Kerja Sama Operasional (KSO). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan aset Perumnas sekaligus menambah pasokan rumah bagi masyarakat.
“Perumnas memiliki portofolio lahan strategis di berbagai wilayah yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” ujar Imelda dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Imelda, kerja sama dengan mitra yang memiliki kompetensi, pengalaman, jaringan, dan kapasitas investasi dibutuhkan agar lahan tersebut dapat dikembangkan menjadi kawasan yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Menyasar Maros, Parayasa, dan Maja
Tiga lokasi yang masuk dalam penjajakan kerja sama adalah proyek Perumnas di Maros, Sulawesi Selatan; Parayasa di Kabupaten Bogor, Jawa Barat; dan Maja di Kabupaten Lebak, Banten.
Secara keseluruhan, ketiganya mempunyai potensi pengembangan lebih dari 14.000 rumah pada lahan di atas 200 hektare. Namun, angka tersebut masih berupa target dalam tahap penjajakan dan belum menjadi realisasi pembangunan.
Penandatanganan MoU belum otomatis berarti seluruh unit akan segera dibangun. Kedua perusahaan masih harus menyelesaikan kajian kelayakan, menetapkan skema bisnis, membagi tanggung jawab investasi, menyusun tahapan pembangunan, dan menentukan komposisi produk di setiap lokasi.
Aspek tersebut penting karena kondisi pasar, infrastruktur, harga tanah, profil konsumen, serta kebutuhan hunian pada ketiga kawasan tidak sama.
Maja dan Parayasa Ditopang Konektivitas
Maja berada dalam koridor pengembangan Banten yang terhubung dengan layanan kereta komuter menuju kawasan Jabodetabek. Ketersediaan transportasi massal menjadi salah satu faktor penting bagi pengembangan hunian masyarakat yang bekerja di wilayah Tangerang dan Jakarta.
Parayasa juga berada di kawasan Bogor yang berkembang sebagai kantong hunian bagi masyarakat Jabodetabek. Pengembangan kawasan ini membutuhkan dukungan transportasi, jalan, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta aktivitas komersial agar tidak hanya menjadi kumpulan rumah.
Sementara itu, proyek di Maros dapat menyasar pertumbuhan kebutuhan hunian di kawasan penyangga Makassar. Strategi produknya perlu menyesuaikan kemampuan membeli, pola mobilitas, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Perbedaan karakter pasar tersebut membuat pengembangan tidak dapat menggunakan satu model yang sama. Jumlah unit, tipe rumah, harga, dan tahapan pembangunan harus mengikuti permintaan riil di setiap kawasan.
Bagian dari 14 Proyek Strategis Nasional
Kolaborasi dengan Paramount berlangsung setelah 14 lokasi proyek Perumnas ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2026.
Seluruh lokasi tersebut mencakup lahan sekitar 1.700 hektare dengan potensi pembangunan kurang lebih 127.000 unit hunian.
Portofolio pengembangannya meliputi kawasan perumahan berskala besar, hunian berorientasi transit atau transit-oriented development (TOD), hunian vertikal di perkotaan, serta revitalisasi kawasan perumahan.
Skala tersebut memperlihatkan besarnya aset yang perlu dikembangkan Perumnas. Namun, status PSN dan besarnya cadangan lahan tidak dengan sendirinya menjamin pembangunan dapat terlaksana sesuai target.
Pengembangan tetap membutuhkan modal, infrastruktur, perizinan, pembiayaan konsumen, dan tingkat penyerapan pasar yang memadai. Keterlibatan pengembang swasta dapat membantu menghadirkan kapasitas investasi serta pengalaman pengembangan kawasan, tetapi pembagian risiko dan orientasi produknya harus dirumuskan secara jelas.
MBR Tetap Harus Mendapat Tempat
Kerja sama dengan Paramount juga menjadi bagian dari strategi Perumnas dalam mendukung Program 3 Juta Rumah. Perumnas menyatakan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tetap akan menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan.
Komitmen itu perlu diterjemahkan dalam komposisi unit yang terukur. Hingga kini belum diumumkan jumlah rumah subsidi atau hunian terjangkau yang akan dibangun dari target lebih dari 14.000 unit tersebut.
Belum dijelaskan pula kisaran harga, jadwal pembangunan, sumber pembiayaan, pembagian unit pada setiap lokasi, serta porsi investasi masing-masing pihak.
Kejelasan tersebut diperlukan untuk mengukur kontribusi proyek terhadap Program 3 Juta Rumah. Tanpa target khusus bagi MBR, jumlah unit secara keseluruhan belum cukup menunjukkan seberapa besar kolaborasi itu memperluas akses masyarakat terhadap rumah layak dan terjangkau.
Kolaborasi BUMN dan Pengembang Swasta
Bagi Perumnas, kerja sama dengan pengembang swasta dapat mempercepat pemanfaatan lahan yang belum dikembangkan secara optimal. Sementara bagi Paramount, kolaborasi tersebut membuka peluang ekspansi di luar kawasan yang selama ini menjadi basis pengembangannya.
Paramount memiliki pengalaman mengembangkan kawasan berskala besar, termasuk Gading Serpong dan Paramount Petals di Tangerang. Keahlian tersebut dapat digunakan dalam perencanaan kawasan, pembangunan infrastruktur, pengembangan produk, dan pemasaran.
Akan tetapi, kerja sama BUMN dan swasta pada proyek perumahan rakyat harus tetap menjaga keseimbangan antara kelayakan bisnis dan mandat sosial. Pengembangan fasilitas komersial dapat membantu menjaga keberlanjutan kawasan, tetapi tidak semestinya mengurangi porsi hunian yang terjangkau.
Kolaborasi Perumnas dan Paramount menjadi langkah awal untuk menggerakkan aset di tiga kawasan. Ukuran keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh luas lahan dan jumlah rumah yang direncanakan, tetapi juga kecepatan realisasi, keterjangkauan harga, kualitas lingkungan, serta jumlah masyarakat yang benar-benar dapat menghuni rumah tersebut.
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung
- Anwar Tandjung





















