PT BANK CENTRAL ASIA TBK MAKSIMALKAN LAYANAN DIGITAL

0
324
Felicia M Simon, Executive Vice President of Consumer Loan BCA.

Produk layanan berbasis digital yang telah dihadirkan KPR BCA, salah satunya melalui website rumahsaya.bca.co.id yang dilengkapi dengan berbagai fitur pengajuan KPR secara online.

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020 telah menghambat aktivitas bisnis berbagai sektor, bahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pun anjlok hingga di akhir 2020. Meski demikian, berbagai penyesuaian dan terobosan yang telah dilakukan memberi secercah harapan mulai menggeliatnya aktivitas bisnis menuju arah pemulihan. Tidak heran, banyak perusahaan yang menyampaikan tren pertumbuhan positif di akhir tahun lalu.

Demikian halnya pada sektor perbankan yang tentu tidak lepas dari dampak pandemi. Sebagai sektor usaha yang memiliki fungsi intermediasi, kinerja perbankan sangat bergantung pada sektor-sektor terkait lainnya. Salah satunya adalah sektor properti yang terkoreksi tajam di sepanjang 2020 lalu.

Sebagaimana analisis yang dilakukan Indonesia Property Watch, penjualan pasar perumahan sepanjang tahun 2020 di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek)-Banten sebagai benchmark perumahan nasional menurun drastis sebesar 31,8 persen dibandingkan penjualan tahun 2019, dan ini merupakan tingkat penjualan terendah sejak siklus properti mengalami perlambatan tahun 2013.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebagai bank swasta terbesar juga terus melakukan
berbagai upaya guna menjaga kualitas KPRnya. Sejak akhir Q1 2020, KPR BCA fokus pada
restrukturisasi yang diberikan kepada nasabah yang terdampak Covid-19, sehingga nasabah tetap mampu melanjutkan pembayaran kreditnya. Hal ini secara otomatis juga menjaga kualitas kredit KPR secara keseluruhan.

Pada saat Q3 2020, setelah melihat kondisi usaha yang berangsur mulai bergerak kembali,
BCA menyelenggarakan gelaran KPR BCA ONLINEXPO yang berlangsung selama satu
bulan. Di tengah pandemi, BCA tetap berusaha memenuhi kebutuhan nasabahnya.

Dalam gelaran EXPO online tersebut, disediakan berbagai fasilitas, seperti konsultasi melalui live chat, telepon, dan video call. Selain itu, nasabah juga dapat mengajukan permohonan KPR secara online. “BCA berupaya untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam aktivitas baik internal maupun eksternal untuk mendukung kegiatan operasional sehari-hari, sehingga nasabah tetap terlayani dengan baik,” ujar Felicia M Simon, Executive Vice President of Consumer Loan BCA.

Namun jauh sebelum pandemi, sejatinya KPR BCA juga telah mengembangkan sistem otomasi dan digitalisasi, baik untuk keperluan operasional maupun layanan kepada nasabahnya. Sehingga dengan situasi pandemi, BCA pun semakin intens memberikan pelayanannya dengan memanfaatkan teknologi tersebut.

“Tidak ada pandemi pun, BCA sudah bergerak ke arah sana, hanya dengan situasi pandemi ini menjadi enforcement bagi digitalisasi di sektor perbankan,” ungkap Felicia.

Menurutnya, penyesuaian yang dilakukan tersebut lebih kepada mempercepat dan memaksimalkan penggunaan infrastruktur layanan digital yang sudah ada dan membiasakan karyawan BCA untuk memberikan layanan secara virtual. Contohnya, pembukaan rekening secara online dan gelaran KPR BCA ONLINEXPO.

Beberapa produk layanan berbasis digital yang telah dihadirkan KPR BCA, salah satunya melalui website rumahsaya.bca.co.id yang dilengkapi dengan berbagai fitur pengajuan KPR secara online, antara lain pengajuan KPR melalui e-form, tracking status pengajuan KPR melalui website bca.co.id dan website rumahsaya.bca.co.id. Dengan demikian, layanan dan informasi KPR BCA dapat diakses dari manapun dan kapanpun.

Layanan berbasis digital ini tentunya untuk memberikan solusi sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat dalam mewujudkan hunian ideal yang sejalan dengan perkembangan teknologi. “Melalui layanan ini, nasabah maupun masyarakat umum dapat dengan mudah menikmati berbagai layanan maupun informasi KPR BCA dimanapun dan kapanpun tanpa perlu ada tatap muka, tanpa adanya batas ruang dan waktu,” terang Felicia.

Hingga Q3 2020, pencapaian kredit konsumer turun 9.4 persen YoY, sedangkan pencapaian KPR BCA turun 3.1 persen YoY. Hal ini, menurut Felicia, dikarenakan selama pandemi, pihaknya fokus pada pengelolaan kualitas kredit, di sisi lain, permintaan juga mengalami penurunan. “Dengan kualitas kredit yang terjaga, maka kami dapat lebih leluasa untuk melakukan pelepasan kredit yang lebih besar disaat kondisi sudah lebih baik,” katanya.

“Dengan kualitas kredit yang terjaga, maka kami dapat lebih leluasa untuk melakukan pelepasan kredit yang lebih besar disaat kondisi sudah lebih baik,” katanya.

TREN 2021

Hingga kini, pandemi Covid-19 masih terus berlanjut. Namun demikian, Felicia optimis pertumbuhan bisnis properti di tahun ini akan lebih baik, meski belum sepenuhnya kembali normal seperti masa pra-pandemi.

Hal ini mengingat pemulihan ekonomi juga bergantung pada pelaksanaan vaksinasi yang dilakukan secara bertahap oleh pemerintah sehingga membutuhkan waktu. “Masyarakat dan dunia usaha juga mulai menyesuaikan diri dan membudayakan cara kerja baru di masa new normal,” katanya.

Dia berharap, melalui kebijakan pemerintah dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional yang sedang berjalan saat ini sebagai stimulus untuk bisnis, dapat pulih lebih cepat dan berlanjut pada meningkatnya daya beli masyarakat.

Di sisi lain, rumah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan manusia, apalagi jika sudah berkeluarga, kebutuhan akan rumah tidak akan hilang. Penundaan pembelian rumah yang terjadi di tahun 2020 lebih disebabkan karena kekhawatiran calon pembeli akan
stabilitas keuangan mereka akibat pandemi.

“Beberapa kegiatan launching yang sukses dilakukan oleh pengembang di pertengahan hingga akhir 2020 diharapkan dapat berlanjut di 2021 sejalan dengan rencana-rencana
penjualan yang sudah dicanangkan oleh para pengembang tersebut,” ungkapnya.

Felicia menggambarkan, tren hunian yang bakal tetap menarik bagi konsumen, terutama kalangan milenial, biasanya dari segi lokasi yang mudah diakses dengan transportasi umum, seperti MRT, KRL dan Transjakarta, jika berada di wilayah Jabodetabek.

Sementara dari segi ukuran juga mencukupi kebutuhan keluarga dan desain minimalis yang tidak memerlukan biaya maintenance yang tinggi. Hunian juga yang memiliki desain dengan ruang kerja saat WFH (work from home) dan ruang terbuka yang memadai.

“Saat ini banyak orang semakin memperhatikan faktor kesehatan, sehingga ini pun menjadi pertimbangan penting bagi mereka sebelum beli hunian,” jelasnya.

Beberapa wilayah potensial yang menjadi bidikan BCA tersebut, selain di Jabodetabek, yakni Surabaya, Bandung, Semarang, dan beberapa kota lainnya. Untuk diketahui, hingga akhir Desember 2020, ada lebih dari 800 proyek perumahan maupun apartemen yang tersebar di seluruh Indonesia yang sudah bekerjasama dengan BCA.

Pada tahun 2021 ini, sektor properti diperkirakan akan tumbuh lebih baik dan begitu juga dengan target penjualan pengembang-pengembang yang bekerjasama dengan BCA.
Dengan suku bunga yang diperkirakan masih dalam tren menurun, ungkap Felicia, kebijakan pemerintah yang diharapkan dapat lebih efektif menekan laju penambahan kasus Covid-19 namun tidak melemahkan kegiatan usaha, serta vaksinasi yang saat ini sudah dimulai oleh pemerintah secara bertahap, maka diharapkan dapat berdampak positif terhadap sektor riil dan memulihkan minat dan daya beli masyarakat terhadap properti.

STRATEGI

Masih berkutat pada persoalan pandemi, BCA pun menyiapkan sejumlah strategi mengantisipasinya. Tantangan terberat di 2021 ini, sebut Felicia adalah mempertahankan kualitas kredit properti dari nasabah yang terdampak pandemi supaya dapat kembali lancar dan normal seperti semula.

Pola konsumsi dan preferensi masyarakat yang berubah juga turut mempengaruhi strategi bisnis properti sehingga dituntut untuk kreatif dalam ide-ide yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Terkait kualitas kredit, BCA melakukan monitoring secara berkala terhadap debitur KPR yang telah diberikan kebijakan restrukturisasi serta proaktif menawarkan solusi yang tepat supaya pembayaran kredit tetap berjalan dengan lancar. Sementara dalam strategi marketing, BCA mulai ekspansif ke segmen milenial serta metode pemasaran baru
seperti
EXPO Online.

Langkah strategis lainnya, yakni mengoptimalisasi pemanfaatan teknologi. BCA akan semakin memaksimalkan layanan berbasis digital kepada nasabah sebagai sebuah alternatif layanan bagi nasabah untuk beradaptasi di masa new normal.

Tentu tidak semua layanan bank akan dilakukan secara digital mengingat emotional bonding dengan nasabah sangatlah penting. Misalnya, gelaran BCA EXPO setiap tahunnya menjadi ajang bertemunya BCA dengan nasabah-nasabah setianya dan menjadi kesempatan bagi BCA memberikan layanan terbaiknya sesuai dengan kebutuhan nasabah.
“Saat ini, kantor-kantor cabang BCA masih dapat memberikan layanan tatap muka dengan nasabah dengan tetap menjalankan protokol kesehatan,” sebut Felicia.