Para pekerja milenial dan zilenial harus segera memiliki hunian, karena harga rumah cenderung cepat naik dan ada banyak biaya yang menyertainya. Juga mumpung sedang banyak kemudahan yang diberikan pengembang dan perbankan untuk membelinya. Membeli rumah harus menjadi prioritas pertama kaum muda saat mulai bekerja. Tapi apa sebenarnya masalah yang dihadapi para pekerja muda saat ingin membeli rumah pertama?
Baca juga, Ekspor Fesyen Modest Tembus US$5,97 Miliar, Kemendag Bidik Pasar Baru
Ahmad Mudzakky, seorang milenial berusia 29 tahun, telah menabung selama beberapa tahun terakhir untuk mewujudkan cita-cita punya rumah sendiri.
“Harus beli rumah, bukan karena tekanan sosial, tapi kalau sudah mampu beli rumah rasanya kerja keras selama ini terbayar. Rumah adalah pencapaian yang lebih dari resepsi mahal,” kata Zakky kepada Property and The City.
Karyawan tetap di sebuah bank swasta nasional ini menjelaskan bahwa mahalnya uang muka menjadi hambatan utama kenapa hingga saat ini dia belum membeli rumah. “Sekarang masih menabung untuk membayar uang muka. Banyak yang menawarkan tanpa depe, tapi cicilannya besar banget, takut gagal bayar,” tutur Zakky.
Meskipun bekerja di sebuah kantor di Bintaro, Tangerang Selatan, Zakky mengincar rumah di daerah Sawangan, Depok, Jawa Barat. Bukan karena tak berminat tinggal di Bintaro yang segala fasilitasnya lengkap, setelah sempat survei-survei ke sejumlah perumahan yang ditawarkan pengembang, harga rumah di Bintaro dan sekitarnya dinilainya sudah tidak murah dan tak terjangkau orang biasa.
“Pernah iseng-iseng tes mental masuk ke kantor marketing Bintaro Jaya. Rumah tapak paling murah Rp1,5 miliar, uang muka minimal 10 persen, berarti harus siapkan dana Rp150-200 juta di depan. Eh, beneran kena mental,” kelakarnya.
Ia mengaku juga sempat melihat-lihat rumah seken di sekitaran Ciputat, Tangerang Selatan, tidak jauh dari Bintaro Jaya. Di Jalan Merpati, Sawah Lama, Ciputat, seorang broker properti menawarkan rumah seken dengan luas bangunan 63 m2, tanah 90 m2 seharga Rp1,1 miliar. Dari sisi lokasi, Zakky tak jadi soal lantaran perumahan tersebut tidak jauh dari gerbang Tol Pondok Aren (Tol Jakarta Outer Ring Road), serta hanya 500 meter dari Mal Bintaro XChange, mal terbesar di dalam kawasan Bintaro Jaya. Hanya saja, lagi-lagi pemilik meminta uang muka 50 persen dibayarkan di awal.
“Sebenarnya bisa dinego, terakhir Rp900 juta karena pemiliknya butuh uang. Tapi dana Rp400 jutaan di awal, tabungan saya belum cukup,” jelasnya.
Dua pekan lalu ia melipir ke wilayah Bojongsari, Sawangan, Depok, sekitar 6-7 kilometer dari Ciputat. Sebuah perumahan skala kecil (di bawah 3 hektar) menawarkan rumah dua lantai seharga Rp600 jutaan.
“Lumayan ngejar tuh, cicilannya bisa Rp4 jutaan flat 10 tahun dengan uang muka Rp10 juta. Nanti tahun ke-sebelas katanya ngikutin bunga bank. Lokasinya juga nggak jauh-jauh banget dari kantor,” papar Zakky.
Zakky adalah satu dari banyak warga yang harus putar otak dan banting tulang untuk mendapat rumah, bahkan kalaupun letaknya nun jauh di mana. Ketika Property and The City sporadis bertanya ke lima anak muda usia produktif bekerja, semuanya menjawab ingin membeli rumah sendiri, namun, mahalnya uang muka, besarnya cicilan, durasi cicilan dan jauhnya perumahan yang harganya terjangkau dari tempat kerja menjadi alasan paling banyak disebutkan oleh mereka sebagai alasan kenapa mereka tak kunjung membeli rumah.





















