Top 5 This Week

Related Posts

Rumah Bersubsidi: Pasar Besar Tapi Pembatalan Transaksi Tinggi

Propertyandthecity.com, Jakarta – Sektor properti disebut belum terlihat tanda-tanda pemulihan signifikan di tahun ini. Ketua Komisariat Real Estate Indonesia (REI) Bekasi, Jawa Barat, Curahman, mengatakan, melemahnya pasar properti saat ini salah satunya dipicu oleh kondisi perekonomian nasional yang berdampak pada daya beli masyarakat terhadap produk properti.

“Saat ini kondisi ekonomi kita sedang kurang bagus,” ujarnya, dalam acara Halal Bi Halal REI Komisariat Bekasi, di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Rabu (8/5).

Menurutnya, segmen paling terdampak adalah rumah komersial seharga Rp500 juta ke atas. “Segmen ini agak sulit penjualannya karena kondisi perekonomian nasional yang sedang tidak baik. Termasuk apartemen, sekarang ini banyak apartemen yang sudah dibangun tetapi mangkrak,” ucap Curahman Ketua Komisariat REI Bekasi.

Sementara itu, pasar rumah bersubsidi yang melayani kebutuhan tempat tinggal Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) tercatat masih dalam koridor baik, kendati penjualan diklaim menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu dirasakan Tuti Mugiastuti, salah satu Tokoh Pemasaran Rumah Rakyat yang kini menjabat sebagai Direktur Marketing PT Alexandra Citra Pertiwi, selaku pengembang Grand Cikarang City 2. Jika tahun 2016-2017 ia mampu memasarkan 2.500 unit rumah subsidi, namun tiga tahun belakangan ini penyerapan unit tidak seriuh itu.

“Masih bisa jualan tapi saya akui memang menurun. Kalau dulu sebelum Covid-19 yang booking rumah subsidi 1000 unit kemungkinannya hanya 10 persen tidak terealisasi. Kalau sekarang yang booking 100, peluang tidak bisa akad bisa 40 persen,” ungkap Tuti.

Menurutnya, menurunnya penjualan rumah subsidi saat ini bukan dipicu oleh kondisi perekonomian nasional. Ini lebih disebabkan oleh tingginya pembatalan akad kredit. “Kita luncurkan semua unit bisa langsung sold out, tapi beberapa bulan pembatalan bisa mencapai 40 persen,” katanya.

Penyebab pembatalan antara lain rapor merah debitur alias tidak lolos BI checking sehingga pengajuan KPR-nya ditolak. Tidak lolos BI checking tersebut bisa karena catatan kredit sebelumnya kurang bagus, bisa juga karena calon debitur sudah punya beberapa kredit sehingga menurunkan kemampuan mencicilnya.

Soal ini, Tuti berharap pemerintah memberikan tambahan kemudahan dalam proses transaksi pembelian rumah subsidi dengan menghilangkan syarat BI checking.

“Kalau pemerintah ingin menolong MBR jangan tanggung-tanggung. Jangan memperketat syarat untuk kalangan MBR mengajukan kredit rumah subsidi,” lugasnya.

Ia menyebut saat ini adalah waktu yang terbaik untuk gencar memasarkan rumah bersubsidi. Alasannya, pertama, gap tipis harga rumah subsidi dengan rumah komersial, namun insentif dan cara bayar yang ditawarkan rumah subsidi lebih banyak.

Kedua, dari sisi desain rumah juga tidak jauh berbeda dengan rumah komersial. Fasad rumah didesain seksama dan tak kalah menarik.

“Penghuni datang tinggal bawa koper dan bisa langsung ditempati. Sudah dilengkapi dinding pembatas dengan rumah sebelahnya dan rumah belakang. Carport tersedia bahkan juga canopy. Kualitas bangunan juga lebih bagus dari yang sebelumnya,” ucap Tuti.

Pun, ia optimis kawasan Bekasi masih membutuhkan banyak pasokan rumah bersubsidi mengingat kawasan ini memiliki basis ekonomi kuat sebagai kota industri manufaktur. “Pasarnya jelas,” imbuhnya.

Atas faktor-faktor di atas, ia mengusulkan kepada pemerintah agar tak ragu mengerek naik harga rumah bersubsidi dari Rp185 juta menjadi Rp250 juta. “Kualitas rumah subsidi setara dengan rumah komersial, aksesnya bagus, dan cara bayarnya ringan, sehingga semestinya tidak jadi persoalan jika harganya naik,” pungkas Tuti.

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles