PropertyandTheCity.com, Jakarta– Kemacetan lalu lintas yang kian parah, harga BBM dan biaya tol yang terus meninggi, isu lingkungan perihal penghematan energi dan reduksi emisi gas buang, tingkat stres dan minimnya waktu berkumpul dengan keluarga yang menurunkan produktifitas, kepraktisan, dan kelangkaan tanah, semestinya menjadi faktor-faktor yang mendorong makin banyak orang tinggal di apartemen di dalam kota ketimbang rumah tapak (landed house) di pinggiran (suburban).
Dengan tinggal di apartemen, orang lebih dekat ke tempat kerja dan berbagai fasilitas umum, sehingga mengurangi mobilitas, konsumsi BBM, polusi, stres, dan konversi lahan terbuka menjadi bangunan. Lingkungan pun lebih terjaga, kualitas hidup warga kota meningkat.

Dalam data Knight Frank Indonesia, sekitar 326 unit baru apartemen sewa tercatat dalam pasar di akhir 2025. Penambahan ratusan unit baru itu menunjukkan sinyal positif di tengah tantangan global dan nasional yang tengah dihadapi saat ini. Sampai akhir 2025, Knight Frank Indonesia mencatat total pasokan apartemen bertambah menjadi 10.131 unit. Dalam periode itu terdapat tambahan dua proyek apartemen baru di CBD dan Prime-Non CBD.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat menuturkan, pasar apartemen sewa saat ini didominasi oleh ekspatriat asal Asia, terutama dari China, Jepang, dan Korea Selatan. Lalu, diikuti juga oleh ekspatriat dari Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa lainnya.
“Untuk apartemen sewa kita melihat bahwa dominasinya dihuni oleh ekspatriat, dihuni oleh company (perusahaan). Jadi, beberapa company memberikan fasilitas hunian berupa apartemen sewa yang sifatnya untuk long stay,” kata Syarifah dalam acara Media Gathering Jakarta Property Highlights 2026 di Topgolf Jakarta, medio Januari lalu.
Kendati demikian secara keseluruhan, masih sedikit orang yang memilih tinggal di apartemen. Salah satu penyebabnya, image biaya hidup di apartemen seperti service charge atau biaya pengelolaan, biaya listrik, air dan lain-lain yang tinggi dibanding rumah biasa di suburban, selain keterbatasan ruangnya.
Ferry Salanto, Associate Director Colliers International Indonesia, perusahaan konsultan dan manajemen properti yang banyak mengelola apartemen di Indonesia, mengatakan, biaya tinggal di apartemen sebenarnya justru lebih rendah dibanding di rumah biasa di pinggir kota dengan asumsi lokasi tempat kerja sama. Menurutnya, yang dibandingkan jangan hanya biaya pengelolaan, listrik dan air, tapi juga semua biaya yang terkait termasuk biaya transportasi.
“Biaya yang harus ditanggung penghuni apartemen sulit dibuat rendah karena karakterisitik apartemen itu sendiri. Tetapi, biaya transportasi tinggal di rumah biasa di pinggir kota juga bisa jadi lebih besar karena anda harus berganti kendaraan umum sekian kali, atau membayar biaya BBM, jalan tol dan biaya perawatan mobil lebih banyak bila menggunakan kendaraan pribadi,” ungkapnya.
Sentuhan Ekletik Mewah
Beberapa waktu lalu Property and The City mengunjungi Arumaya Residence, apartemen mewah bertingkat tidak terlalu tinggi (mid-rise) dan garden villas mencakup 296 unit hunian. Lokasinya di Jl RA Kartini yang dilintasi MRT di seberang Sekolah Don Bosco, Pondok Indah.
Kami sengaja berkunjung untuk melihat seperti apa gambaran apartemen yang menyasar kalangan pebisnis muda dan ekspatriat (pekerja asing) yang berkantor di koridor bisnis Simatupang-RA Kartini dan Pondok Indah, tersebut.

Modern, kontemporer, dan eklektik mewah. Begitulah atmosfir show unit apartemen satu (deluxe) dan dua kamar tidur (1&2 bedroom) yang dibangun di tepi jalan kawasan bisnis Simatupang ini. Penataan interiornya memaksimalkan ruang yang ada untuk memberi kenyamanan dan rasa homy penghuninya, melalui konfigurasi dan tema (warna) ruang yang memberi efek meluas dan bersih (putih), rileks dan hangat (coklat).
Menurut Giovanni Chandra, Head of Sales Arumaya Residences, interiornya menggunakan warna-warna netral yang familiar bagi semua orang. Warna putih memberi kesan bersih di ruang kamar tidur dan ruang keluarga. Saputan kelir coklat dihadirkan secara terbatas untuk memberi kesan hangat dan tidak monoton mencakup kabinet, kitchen set, ambalan, aksesoris, sampai almari.
“Selain berkesan meluaskan ruang, dua warna itu juga menenangkan suasana sehingga cocok diaplikasikan pada hunian di tepi jalan. Didukung aplikasi cermin besar, pilihan warna-warna soft itu berhasil membuat suasana ruang menjadi bersih dan lega,” ujar Giovanni saat mengajak kami melongok show unit Arumaya Residence di lantai 19.

Suasana sama terlihat pada show unit 1 bedroom deluxe. Aksen biru dan orange cerah pada pernak-pernik bantal sofa di ruang keluarga dan ruang makan yang cukup kontras itu menghasilkan efek segar pada seluruh ruang. Dinding area makan menggunakan cermin yang memberi efek modern dan menggandakan kesan luas.
Tata ruang kitchen, area makan, ruang santai keluarga sekaligus ruang menonton televisi yang berujung pada balkon berada satu zoning di sisi samping. Desain seperti itu dipilih agar hunian mendapatkan panorama kota (city view) yang maksimal.
Developer menunjuk DP Architect dari Singapura untuk merancang bangunan, Salad Dressing sebagai perancang lansekap, dan Ptang Studio Ltd sebagai desainer interior.
Apartemen dilengkapi 5 lift penumpang dan dua lift servis di lobi barat dan timur. Fasilitasnya sudah jadi, antara lain aksky lounge, sky deck, ruang bermain anak, dan kolam renang ukuran olimpic.
Saat ini Arumaya Residence memiliki stok unit tipe 1 bedroom deluxe dan 2 bedroom seluas 61 dan 79 m2 (semigross), seharga mulai Rp3,5 miliar, untuk tipe terkecil dan Rp4 miliar untuk tipe dua kamar, tunai.
“Untuk tiga bedroom sudah habis terjual. Sampai saat ini 70 persen unit yang telah terjual dari total 296 unit yang kami pasarkan, kalau okupansinya di angka 50 persen,” terang Giovanni.
Sehamparan dengan Green Office
Selain dikelilingi banyak fasilitas seperti sekolah dan universitas Prasetya Mulya, Raffles Christian School, Sekolah Cikal, High Scoop, rumah sakit Siloam, Mayapada, Fatmawati, dan klinik mata Nusantara (120 m), serta pusat belanja, hangout, hotel dan sarana olah raga, apartemen satu menara ini dibangun satu hamparan dengan Arumaya Financial Center, gedung perkantoran premium setinggi 104,4 meter dengan 23 lantai.

Gedung ini mencakup 19 lantai area perkantoran dengan total leasable area seluas 33.485 m². Tiap lantai tersedia 1.797 m2 ruang kantor yang dibagi menjadi enam zona.
“Gedung sudah topping off pada Oktober 2025 lalu. Sampai Februari 2026 konstruksi sudah mencapai 98 persen sejak ground breaking di tahun 2022, dan ditargetkan beroperasi pada triwulan kedua 2026,” tutur Happy Allen, Project Director Arumaya Financial Center, yang menyebut penggerak utama permintaan ruang kantornya adalah perusahaan finansial dan pertambangan.
Gedung perkantoran grade A ini dilengkapi area ritel tiga lapis seluas 2.595 m2. Allen mengatakan pihaknya sedang menjajaki sejumlah anchor tenant untuk mengisi area ritel.
Arumaya Financial Center menawarkan keunggulan akses yang mudah ke MRT Lebak Bulus dan Fatmawati untuk terhubung ke pusat bisnis Jakarta, serta konektivitas mudah menuju Jakarta Outer Ring Road (JORR) dan Tol Desari.
Berkat penerapan berbagai elemen berkelanjutan seperti sistem daur ulang air, rainwater harvesting, dan desain hemat energi yang mendukung efisiensi operasional bagi para tenan, gedung ini meraih sertifikat hijau Gold dari Green Building Council Indonesia.





















