Home Berita Properti Memilih Hunian Sehat dan Asri untuk Mendukung Tumbuh Kembang Anak

Memilih Hunian Sehat dan Asri untuk Mendukung Tumbuh Kembang Anak

Synthesis Huis menjadi kawasan hunian yang mampu mengakomodir kebutuhan keluarga dan berupaya memberikan kenyamanan tidak hanya bagi orang tuanya tapi juga untuk anaknya.

47
0
Memilih Hunian Sehat di Synthesis Huis
[Kiri-Kanan]: Aldo Daniel, Managing Director Synthesis Huis; dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc., Sp. A selaku dokter spesialis anak dan Muharini Aulia M.PSI.,PSI, Psikolog Kinis dalam forum diskusi bertema “Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Hunian Sehat Dan Asri,” di Marketing Gallery Synthesis Huis, Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (26/7/2022)./ Foto: Pius

JakartaPropertyandthecity.com — Rumah bukan sekadar sebagai tempat singgah atau beristirahat. Lebih dari itu, rumah juga menjadi pusat aktivitas dan tumbuh kembang anak.

dr. Kurniawan Satria Denta selaku Dokter Specialist Anak mengatakan, memilih hunian juga harus memperhatikan berbagai syarat dan faktor pendukung tumbuh kembang anak. Mulai dari unit hunian tersebut, kawasan huniannya, hingga lingkungan sekitar, termasuk aksesibilitasnya.

Baca: Synthesis Huis Jadi Proyek Hunian Ikonik, Pengamat: Lokasi Strategis dan Asri

“Tumbuh kembang dan kesehatan anak, semua bermula dari rumah. Memang penting bagaimana caranya kita memilih hunian yang bagus,” kata dr. Denta dalam diskusi bersama media bertema “Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Hunian Sehat Dan Asri,” yang diselenggarakan oleh Synthesis Development di Marketing Gallery Synthesis Huis, Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (26/7/2022).

Permasalahannya, kata dia, luas hunian yang kurang memadai sehingga stimulasi dan gerak anak menjadi tidak optimal. Kemudian, ventilasi dan kualitas udara buruk sehingga membuat kesehatan anak terganggu.

“Masalah aksesibilitas dan kualitas lingkungan juga turut mempengaruhi kualitas hidup anak secara signifikan,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Denta juga menerangkan terkait standar fisik hunian sehat. Seperti, luas rumah berukuran minimal 12 m2/penghuni, luas kamar tidur 4,5 m2/penghuni, ventilasi 5-12% dari luas lantai, kualitas udara sehat, penerangan cukup, kebisingan 50 dB, sementara kebisingan dalam kamar tidur adalah 30 dB, serta tata letak ruangan yang optimal, juga tempat pembuangan dan sanitasi.

“Sebenarnya luas bangunan menurut ketentuan dari kementerian Kesehatan adalah 10 m2/penghuni, tetapi standar internasional adalah 12 m2/penghuni. Tetapi, yang menjadi masalah adalah hanya sekitar 50-60 persen rumah di Indonesia yang dibangun menyesuaikan syarat kesehatan dari Kemenkes tersebut. Artinya ada sekitar 40 persen anak yang yang belum mendapatkan hunian yang optimal,” kata dr. Denta.

Sementara Muharini Aulia M.PSI.,PSI Psikolog Kinis dalam kesempatan yang sama memaparkan detail bagaimana dampak lingkungan hunian sehat terhadap tumbuh kembang anak.

Menurutnya, untuk mendukung pertumbuhan anak baik fisik maupun mental dibutuhkan ruang privasi seperti rumah (keluarga), termasuk pula ruang publik agar anak dapat berinteraksi dan bersosialisasi secara aman dengan sekelompok usia anak yang sama. Karena itu dibutuhkan keseimbangan antara wilayah privasi dan ruang publik.

“Perkembangan anak usia 0-5 tahun, sebenarnya itu masih fokus pada interaksi dengan orang tua. Sebaiknya di usia itu, orang tua sudah mempersiapkan beragam aspek termasuk pendidikannya. Jika Synthesis Huis menyediakan semacam day care atau pra school, anak dapat belajar dan berinteraksi. Ini akan mempermudah memantau tumbuh kembang anak, jika kedua orang tuanya bekerja,” kata Rini.

Baca: Gelar Pameran Tunggal, CentrePark Pajang Teknologi Parkir Termutakhir 4.0 di Indonesia

Menurutnya, dari sisi psikologis keberadaan kawasan hunian memang tidak berdampak langsung pada anak, namun jika kawasan hunian itu sehat tentunya anak dapat tumbuh dan berkembang optimal. Karenanya dibutuhkan ruang luar yang memang oksigen dan udaranya baik.

“Umumnya pengembang menempatkan area hijau sebagai sarana publik, namun kerap kali yang terjadi justru penghuni tidak memanfaatkan ruang itu. Sudah seharusnya orang tua memiliki peran untuk memperkenalkan dan membiasakan anak berinteraksi di ruang publik,” katanya.

Komitmen Synthesis Huis

Sebagai pengembang, PT Synthesis Karya Pratama (Synthesis Development) berkomitmen untuk mengoptimalkan konsep lingkungan sehat pada setiap proyek yang dikembangkan, termasuk pada kawasan hunian Synthesis Huis.

Aldo Daniel selaku Managing Director Synthesis Huis mengatakan, Synthesis Huis tidak hanya maksimal dalam hal arsitektur bangunan dan interior, namun juga berusaha menciptakan lingkungan hunian yang nyaman.

“Kami juga menggandeng Umar Zain menghadirkan Urban Artistic Landscape dengan memaksimalkan tata lansekap seluruh kawasan Synthesis Huis menjadi lebih hijau yang dapat dinikmati tanpa batas oleh para penghuninya. Synthesis Huis merupakan Iconic Residential project yang mengusung konsep Biophilic Homes, mengadopsi gaya arsitektur Skandinavia yang menyesuaikan iklim di Indonesia,” jelasnya.

Lebih lanjut Aldo mengatakan, setiap unit huniannya memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya, memiliki jendela dan halaman terbuka di area belakang rumah, membantu cahaya masuk, juga cross ventilation udara, serta indoor garden di unit tertentu.

“Kami juga memberikan sentuhan unsur alam berupa taman di dalam rumah,” tambahnya.

Keunggulan lainnya, sambung Aldo, lokasi Synthesis Huis dekat dengan hutan kota Cijantung. Juga menempatkan green spine pedestrian yang menghubungkan antar unit hunian, membangun fasilitas umum berdampingan dengan hutan kota untuk interaksi penghuni.

Baca: Apartemen di Tangerang Hadirkan Promo Khusus dengan Cicilan Hingga 120 Kali

“Menciptakan lingkungan hunian yang sehat merupakan komitmen kami. Harapannya, Synthesis Huis menjadi kawasan hunian yang mampu mengakomodir kebutuhan keluarga dan berupaya memberikan kenyamanan tidak hanya bagi orang tuanya tapi juga untuk anaknya,” tutup Aldo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here