Ruslan Weng: Semua Pihak Masih Wait and See

Buat para broker di Kepri masih ada harapan di properti secondary yang datang dari pembeli end user dan investor yang mengejar harga di bawah market.

1
453
ruslan weng
Ruslan Weng, Ketua DPD AREBI Kepulauan Riau./ Foto: dokpri

Propertyandthecity.com, Jakarta – Tiga bulan telah lewat setelah pemerintah Indonesia resmi mengumumkan terkena wabah pandemik Covid-19, dampaknya kini di luar perkiraan banyak orang. Berbagai sektor ekonomi terpukul, dan entah kapan bisa bangkit lagi karena sampai hari ini saja jumlah korban Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah.

Bisnis properti di Indonesia ibarat jatuh tertimpa tangga pula. Berharap bangkit setelah 6 tahun pasar properti melandai, tahun ini malah terpukul akibat dampak wabah Covid-19.

Baca: Endang Wasiati Wierono: Agen Saya Bisa Closing Hampir Rp3,5 Miliar

Beberapa broker anggota AREBI di daerah-daerah yang dihubungi oleh Property and the City mengakui tantangan yang berat di properti primary dan secondary.

Salah satunya datang dari Ruslan Weng, Ketua DPD AREBI Kepulauan Riau, yang menurutnya akibat wabah pandemik Covid-19 berdampak pada semua bisnis menjadi terganggu, mengalami penurunan yang efeknya juga ke daya beli dan daya investasi masyarakat.

Lebih detail lagi menurut Ruslan Weng, saat ini market secondary juga mengalami penurunan. Betul masih jalan itupun karena masih ada end user yang butuh tempat tinggal setelah sekian lama tinggal di kontrakan. Pembeli juga datang dari investor yang suka membeli properti secondary dengan harga diskon atau di bawah market.

“Kondisi ekonomi sekarang pasti banyak juga yang butuh jual cepat untuk menambah cashflow,” ujar Ruslan Weng yang juga Principal RW Properti Batam.

Baca: Kiat Closing Properti di Masa Pandemi Covid-19

Menurut Ruslan Weng, broker properti di Kepulauan Riau (Kepri) seperti juga daerah lainnya lebih banyak fokus ke properti secondary. Walaupun ada juga yang tetap jualan properti primary. Dalam kondisi saat ini properti secondary yang masih menjanjikan dan dicari di Kepri adalah segmen menengah dan menengah atas.

Semua cara dilakukan para broker untuk menggaet pembeli dari promosi offline sampai online. “Digital marketing hanya sebagai iklan saja, untuk closing tetap harus face to face, yang penting jaga jarak dan gunakan masker,” ujarnya.

Untuk bulan Mei ini, Ruslan Weng mengakui kondisinya masih agak berat walaupun sudah ramai diwacanakan akan ada pelonggaran PSBB di beberapa daerah. Menurutnya semua pihak masih wait and see untuk transaksi properti.

Baca: Transit Oriented Development, Kebutuhan atau Sekadar Lifestyle

Beratnya kondisi saat ini terlihat dari pencapaian komisi para broker anggota DPD AREBI Kepri. Dari sekitar 60 lebih anggota DPD AREBI Kepri, mungkin hanya sekitar 10 persen yang meraih komisi signifikan di Bulan Maret dan April. (Hendaru)