Jakarta, Propertyandthecity.com — Pasar sewa kantor di Jakarta mulai menunjukkan geliat baru pada kuartal III-2026 (Q3-2026). Setelah beberapa tahun diwarnai relokasi dan pengurangan luas ruang kantor untuk menekan biaya, sejumlah perusahaan kini mulai mencari tambahan ruang untuk mendukung ekspansi bisnis.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menyebut perubahan pola permintaan tersebut sebagai sinyal positif. Meski begitu, pemulihan pasar belum dirasakan secara merata oleh seluruh kelas gedung.
“Pola pemulihan pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan perubahan. Setelah beberapa tahun didominasi oleh penyesuaian kebutuhan ruang, kini mulai terlihat sejumlah perusahaan yang melakukan ekspansi, di samping aktivitas relokasi dan perpindahan ke gedung dengan kualitas lebih baik. Ini merupakan perkembangan yang positif. Namun, pemulihan pasar secara keseluruhan masih belum merata. Hal yang perlu dicermati selanjutnya adalah apakah kebutuhan ekspansi tersebut akan semakin meluas sehingga mampu mendorong penyerapan bersih ruang kantor secara berkelanjutan,” ujar Ferry, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima, Kamis (5/11/2026).
Colliers Indonesia memproyeksikan permintaan ruang kantor di Jakarta sepanjang 2026 mencapai 198.555 m², seiring meningkatnya aktivitas penyewaan.
Meski permintaan meningkat, sebagian besar transaksi penyewaan masih berupa perpindahan penyewa dari satu gedung ke gedung lain. Artinya, aktivitas tersebut belum seluruhnya menghasilkan tambahan ruang kantor yang terisi di pasar.
Gedung Premium Lebih Penuh, Persaingan Sewa Makin Ketat
Data Colliers mencatat tingkat hunian gedung perkantoran di kawasan pusat bisnis atau central business district (CBD) Jakarta mencapai 76,3% pada Q3-2026. Jika dilihat berdasarkan kelas gedung, tingkat hunian Grade A tercatat hampir 78%, sedangkan kelas Premium mendekati 84%. Bahkan, beberapa gedung Premium telah mencatat tingkat hunian di atas 90%.
Tingkat hunian yang lebih tinggi membuat pemilik gedung Premium memiliki posisi tawar lebih kuat dalam menentukan harga sewa dan memberikan insentif kepada penyewa. Sebaliknya, gedung dengan tingkat kekosongan lebih tinggi masih harus bersaing melalui penyesuaian harga, pemberian insentif, hingga penawaran kontrak sewa yang lebih fleksibel.
Colliers memperkirakan tingkat kekosongan ruang kantor di Jakarta turun dari 25,7% pada akhir 2026 menjadi 21,1% pada 2029.
Dari Flight-to-Quality Bergeser ke Flight-to-Value
Pertimbangan perusahaan dalam memilih kantor kini tidak lagi sebatas lokasi dan kualitas gedung. Kemudahan akses transportasi umum, pengelolaan gedung, penerapan prinsip ESG, kelengkapan fasilitas, kesiapan ruang, hingga total biaya yang harus dikeluarkan turut menjadi perhatian.
Tren flight-to-quality, yakni perpindahan ke gedung dengan kualitas lebih baik, mulai berkembang menjadi flight-to-value. Perusahaan tidak hanya mencari gedung yang lebih baru atau mewah, tetapi juga menghitung apakah peningkatan kualitas dan fasilitas sebanding dengan biaya tambahan yang harus dibayar.
Minat terhadap kantor siap pakai (ready-to-use) yang telah dilengkapi furnitur dan penataan interior juga meningkat. Pilihan ini membantu perusahaan menekan biaya awal penataan kantor (fit-out) sekaligus mempercepat proses relokasi dan operasional.
Head of Project Management Colliers Indonesia, Rahmat Alam, mengatakan perusahaan perlu merencanakan kebutuhan ruang kerja berdasarkan data penggunaan ruang dan kebutuhan bisnis.
“Strategi penataan ruang kerja berbasis data dapat membantu perusahaan merencanakan kebutuhan kantornya secara lebih tepat, dengan mempertimbangkan masukan karyawan, data penggunaan ruang, serta kebutuhan bisnis. Pendekatan ini sangat relevan bagi perusahaan yang sedang merencanakan relokasi, perpanjangan kontrak sewa, penggabungan ruang kantor, renovasi, maupun penambahan jumlah karyawan di masa mendatang,” ujar Rahmat.
Colliers memperkirakan pasar perkantoran Jakarta masih akan terus membaik hingga 2027. Namun, pemulihan ini akan semakin terasa jika makin banyak perusahaan yang menambah ruang kantor untuk mengembangkan bisnisnya, bukan sekadar pindah dari satu gedung ke gedung lain.





















