Penjualan Turun Hingga 60 Persen, Ini yang Dilakukan AREBI Jawa Timur

Sejak 2018, DPD AREBI Jawa Timur telah beberapa kali mengadakan pelatihan dan seminar di bidang digital marketing untuk mengantisipasi revolusi industri 4.0.

0
311
Rudy Sutanto, Ketua DPD AREBI Jawa Timur
Rudy Sutanto, Ketua DPD AREBI Jawa Timur./ Foto: dokpri

Propertyandthecity.com, Jakarta – Merebaknya wabah virus Corona atau Covid-19 telah membuat ambruk properti di berbagai daerah. Penjualannya telah turun lebih dari 50 persen. Okupansi hunian sewa dan hotel turun tajam hingga 90 persen lebih, bahkan beberapa yang terpaksa harus tutup operasionalnya.

Properti di wilayah Jawa Timur pun serupa dengan di daerah lainnya. Penjualan produk properti primary dilaporkan turun antara 50% hingga 60%, demikian halnya secondary yang juga turun hingga 50%.

Baca: AREBI Banten Masih Panen Closing di Tengah Pandemi Covid-19

Rudy Sutanto, Ketua DPD AREBI Jawa Timur mengatakan, kondisi market primary berkurang banyak terutama di segmen highrise building atau apartemen. Sementara untuk rumah tapak atau landed house masih lebih baik, terutama yang stoknya sudah ada (ready stock).

“Untuk market secondary ada penurunan juga, tapi tertolong oleh penjualan produk properti yang harganya terkoreksi turun antara 20 persen hingga 30 persen dari harga dalam kondisi normal,” ujar Rudy beberapa waktu lalu.

Dalam kondisi krisis saat ini, menurutnya, properti di segmen menengah masih cukup menjanjikan di pasar Jawa Timur.

Untuk diketahui, saat ini anggota DPD AREBI Jawa Timur sebanyak 155 kantor. Masing-masing kantor mencatat pencapaian transaksi yang bervariasi. Ada kantor broker yang lebih fokus pada penjualan produk primary dan sebaliknya secondary.

Baca: Leo Mulijono: 6 Bulan Pasca Pandemik Properti Kembali Booming

“Kedua-duanya berjalan beriringan dan seimbang. Tapi ada kantor yang lebih fokus di primary 70:30, ada juga sebaliknya yang fokus di secondary 70:30,” jelas Rudy.

Siap Masuk Normal Baru

Bertatap muka langsung dengan konsumen sudah tentu sangat sukar dilakukan dalam masa pandemi ini. Rudy mengungkapkan, jika masih dalam tahap awal, seperti penawaran, showing lokasi maupun showing unit propertinya masih bisa dengan memanfaatkan media online.

“Jika lebih serius ya harus tinjau lokasi secara fisik, face to face. Tinjau lokasi secara fisik tidak mungkin bisa di gantikan dengan digital marketing karena banyak faktor yang akan mempengaruhi putusan pembelian, seperti feel terhadap lingkungannya, indoor situation, dan lainnya,” terang Rudy.

Menyiasati berbagai keterbatasan tersebut, para agen dan broker properti di Jawa Timur juga lebih aktif dan giat menyapa konsumen maupun calon konsumennya melalui plaform media online maupun media sosial.

Baca: Saatnya Bank Punya Business Insights

Digital marketing, sebut Rudy, sudah banyak digunakan oleh broker properti di Jawa Timur, lantaran sejak lama sudah dilakukan berbagai pelatihan dan seminar.

“Para broker AREBI Jatim sebenarnya sudah siap menggunakan digital marketing. Tahun 2018 lalu kami juga sudah banyak mengadakan seminar-seminar untuk mengantisipasi revolusi industri 4.0. Termasuk dalam kondisi krisis seperti saat ini,” ungkap Rudy yang juga principal Java Property, Citraland.

Rudy yakin, meski dalam kondisi berat pun selalu ada jalan untuk bisa menjual produk properti. Apalagi properti merupakan salah satu kebutuhan utama yang harus dipenuhi.

Oleh karenanya, dia optimis, penjualan properti di Jawa Timur pada Juni mampu melewati raihan sebelumnya.

Alasannya, Rudy bilang, kondisi new normal mengharuskan setiap orang beradaptasi dan mengikuti pola hidup baru tersebut.

“Perlahan-lahan orang akan mengembalikan aktivitas perekonomiannya seperti sebelum Covid-19. Dengan catatan, mereka juga harus mau menerima konsep new normal tersebut,” tegasnya.

Baca: Di Tengah Pandemi Covid-19, Kinerja BTN On Track

Untuk ini pula, Rudy mengatakan, para broker properti harus upgrade diri, meningkatkan skill terutama di bidang IT dan mau menambah knowledge untuk mempelajari hal-hal yang baru.