Beranda Liputan Utama ESG ADALAH KENISCAYAAN

ESG ADALAH KENISCAYAAN

Rating ESG yang baik adalah hasil dari strategi ESG yang kuat dan komitmen seluruh perusahaan terhadap implementasi dan peningkatan berkelanjutannya. Strategi ESG juga bisa menjadi jawaban atas tantangan keberlanjutan perusahaan dan sarana untuk membuka peluang menarik bagi bisnis dan pemangku kepentingan

0
Meita Laimanto Partner ESG Risk Assurance Pricewaterhouse Coopers Indonesia

Ketika dunia terus berupaya untuk mengatasi berbagai isu keberlanjutan, terdapat fokus yang kuat pada pengembangan standar sustainability building (bangunan berkelanjutan) yang ramah lingkungan dan hemat energi akibat semakin maraknya seruan isu keberlanjutan sebagai upaya dari aksi penyelamatan bumi.

baca juga, Synthesis Huis Terus Lansir Klaster Baru

Lembaga konsultan internasional Pricewaterhouse Coopers (PwC) melalui laporan Global Consumer Insights Pulse Survey periode Juni 2022, Februari 2023, dan Juni 2023 menyebutkan, prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) telah memengaruhi perilaku konsumen. Survei global yang dilakukan terhadap 9.000 responden dari 25 negara ini menunjukkan bahwa konsumen bersedia membayar 5-10 persen lebih mahal untuk produk atau jasa yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sebanyak 50 persen responden menaruh kepercayaan pada perusahaan yang mengusung prinsip ESG, sedangkan 40-50 persen responden memilih produk dari material yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penerapan prinsip ESG yang tertib telah menjadi komitmen global guna mendukung pembangunan berkelanjutan dan meminimalisasi dampak perubahan iklim. Konsumen semakin melirik produk-produk dari perusahaan yang menerapkan prinsip ESG. Produk yang ramah lingkungan memiliki dampak besar tidak hanya bagi konsumen, tetapi juga kemudahan pembiayaan bagi produsen.

Partner ESG Risk Assurance PwC Indonesia, Meita Laimanto, menyatakan, perjalanan ESG suatu lembaga tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga perusahaan atau organisasi. Oleh karena itu, perusahaan perlu memaparkan perjalanan ESG dan inisiatif mereka secara transparan, akurat, dan tepat. Meita lugas menyebut bahwa ESG itu risiko, dan dalam lingkup berbisnis pelaku bisnis tidak bisa lari dari risiko. Dalam Survei Global Tahunan PwC ke- 26 melibatkan 4.410 CEO di 105 negara, separuh koresponden menyatakan resah dengan ancaman
dampak dari perubahan iklim dalam 1 hingga 5 tahun mendatang.

Meita menjelaskan sedikitnya ada tujuh risiko ekstrem yang membuat resah para pemimpin perusahaan di dunia, terlebih di era yang penuh ketidakpastian. Mulai dari perubahan preferensi pelanggan, perubahan peraturan, menurunnya keterampilan, gangguan teknologi, rantai pasokan (supply chain), transisi sumber energi baru, dan banyaknya pendatang baru dari bisnis serupa.

Rusuhnya ekonomi dunia pasca pandemi dan invasi Rusia ke Ukraina, menimbulkan masalah baru yang disebut Meita tantangan bertubi-tubi. Yaitu, kenaikan harga komoditas dunia yang tinggi, inflasi tinggi, dan merosotnya pertumbuhan ekonomi.

“Perang Ukraina-Rusia yang tidak jelas kapan segera berakhir, melonjaknya harga energi dan komoditas, percepatan upah umum dan inflasi harga, tentu memberikan impact luas, tidak hanya di Eropa tapi di Indonesia ikut tersendat. Lima tahun ke depan ancaman ESG diprediksi akan meningkat, ini terkonfirmasi dari mayoritas CEO di seluruh dunia yang tegas menyatakan khawatir terhadap cost profile, aset fisik dan rantai pasokan,” jelas Meita.

Menurutnya, perlu sebuah solusi untuk model bisnis ke depan. Di satu sisi memperhatikan sustainability, baik untuk lingkungan dan masyarakat, di sisi lain juga profit dan pertumbuhan. Prinsip ESG diyakini PwC dapat menciptakan komunitas yang lebih berkelanjutan
dan tangguh yang lebih siap menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, ketidaksetaraan sosial, dan ketidakstabilan ekonomi.

“Meski begitu, setiap ada risiko pasti ada kesempatan. Itu mutlak. Survei global PwC terhadap consumer behaviour, mendapati lebih dari 70 persen dari 9.000 orang koresponden di 25 negara menyatakan tidak jadi soal jika harus bayar 30-40% lebih mahal untuk sesuatu yang green, sustain environmental dan good coporate governance,” ungkapnya.

Tuntutan Investor

Mengikuti pemulihan ekonomi pasca pandemi, bisnis real estate juga membaik kendati tidak sekencang tahun 2010-2015. Bisnis real estate tetap perlu mengantisipasi situasi buruk itu dengan mengusahakan aneka siasat untuk bisa tetap berjualan. Ini disebabkan para pemilik duit yang selama pandemi ramai-ramai menaruh dananya di perbankan dan pasar uang, atau membeli produk properti yang memiliki prospek menjanjikan sebagai investasi, kini mulai melirik menggelontorkan uangnya di sejumlah bisnis baru. Demikian disampaikan Meita.

Sebut contoh, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia saat ini membutuhkan kapasitas pusat data terpasang yang mumpuni. Dengan populasi masyarakat Indonesia lebih dari 270 juta jiwa, kapasitas data center Indonesia saat ini baru 0,6 watt per kapita atau rerata agregat sekitar 167 megawatt. Jauh lebih rendah dibandingkan Jepang yang dengan populasi 126 juta jiwa memiliki kapasitas data center
sekitar 15 watt per kapita.

“Ini merupakan sebuah potensi yang sangat menjanjikan. Belakangan banyak investor masuk untuk mengoptimalkan peluang digitalisasi,” ucapnya. Lainnya, seperti sektor life science mencakup laboratorium, manufacturing company dan riset, kemudian sektor senior housing sebagai respon kebutuhan properti yang lebih indah, mewah dan bagus untuk mendukung keseharian kalangan menengah atas yang taraf hidupnya semakin meningkat. Hotel dan resor juga diincar investor dan konsumen ritel. “Dibandingkan tahun 2022 yang drop banget,
sekarang permintaan hotel dan resort meningkat lagi. Semacam revenge travel, yaitu fenomena wisata balas dendam akibat pandemi. It’s good for the hospitality industry,” tutur Meita.

Dari sisi properti, penerapan ESG dalam produk properti saat ini menjadi pertimbangan investor. Pengenalan strategi investasi baru dan inovatif selama 15 tahun terakhir ditujukan untuk mencapai keseimbangan antara keuntungan moneter dan sosial. Berdasarkan hasil laporan PwC Global Investor Survey 2022, ESG muncul sebagai salah satu prioritas investor dalam berbisnis: Tata kelola perusahaan yang efektif (49%) dan pengurangan emisi gas rumah kaca (44%). “Salah satu indikator penerapan ESG di Indonesia dapat dilihat dari sertifikasi green building. Di luar itu, ruang lingkup ESG sebenarnya mencakup pilar sosial dan tata kelola untuk menjadikan bangunan menerapkan ESG,” tandasnya.

Pernyataan tersebut seirama dengan publikasi (Y)OUR Space yang dirilis oleh konsultan properti Knight Frank 2023, sebanyak 50 persen responden pemangku kepentingan bidang perkantoran menyebut komitmen terhadap ESG akan memberikan pengaruh dalam penetapan strategi dan pengambilan keputusan dalam kurun tiga tahun ke depan.

Penerapan ESG dalam sektor properti di Indonesia saat ini dapat ditemui pada gedung perkantoran, pusat data, dan residensial. Beberapa kota besar telah mulai menerapkan, seperti DKI Jakarta dan sekitarnya. Laporan tersebut menyebut sekitar 14 persen stok perkantoran di DKI Jakarta merupakan gedung perkantoran berlabel hijau di wilayah pusat bisnis atau CBD yang seluruhnya merupakan gedung kelas premium dan grade A. Di masa pandemi Covid-19, performa gedung sewa perkantoran berlabel hijau di CBD terbukti cukup stabil dengan rata-rata tingkat okupansi di atas 70 persen.

Di masa pandemi Covid-19, performa gedung sewa perkantoran berlabel hijau di CBD terbukti cukup stabil dengan rata-rata tingkat okupansi 73 persen. Dalam kurun dua tahun terakhir, harga sewa gedung perkantoran berbasis ESG di CBD Jakarta sekitar 35

persen lebih tinggi dari gedung non-ESG. Uniknya, gedung berbasis ESG di CBD Jakarta tersebut umumnya masih tergolong gedung baru yang
dilengkapi teknologi mutakhir untuk penghematan energi.

”Sertifikasi gedung hijau mampu menarik minat pasar dari global occupier yang umumnya memiliki komitmen terhadap ESG yang berkelanjutan dan aset atau portofolio hijau,” ujarnya, mengutip dari laporan Knight Frank.

Acuan Rating

ESG kini digunakan sebagai salah satu pertimbangan investasi oleh investor sebagai bagian dari respons terhadap perubahan iklim dan Sustainable Development Goals (SDGs), dan seringkali diukur melalui rating ESG.

“Rating ESG sangat penting untuk sistem pelaporan perusahaan, meskipun hal ini tidak boleh menjadi ukuran utama dari pelaporan oleh
perusahaan. Rating ESG meningkatkan pengelolaan informasi dan membantu investor dan pemangku kepentingan lainnya untuk memahami risiko dan dampak ESG dari perusahaan dan portofolio,” terangnya.

Bursa Efek Indonesia (BEI), sebagai anggota Sustainable Stock Exchange (SSE), bekerja sama dengan penyedia pemeringkatan ESG untuk secara berkala menilai risiko dan kinerja ESG Perusahaan Tercatat.

Per 30 Desember 2022, terdapat 653 Perusahaan Tercatat yang telah menyampaikan Laporan Keberlanjutan Tahun 2021 atau 79%
dari total perusahaan Tercatat. Ini meningkat 324% dibandingkan jumlah pelaporan Laporan Keberlanjutan 2021 yang hanya 154 perusahaan.
Atas hasil kerja sama tersebut, BEI pada 14 Desember 2020 meluncurkan Indeks IDX ESG Leaders dan telah mendapat penerimaan baik oleh
buy side dengan terdapat dua produk investasi yang berbasiskan indeks ini yaitu dalam bentuk satu produk ETF dan satu produk Reksa Dana Indeks.

Indeks IDX ESG Leaders merupakan salah satu dari lima indeks BEI berbasis ESG, dimana indeks-indeks tersebut dibuat sebagai respons atas meningkatnya minat investor terhadap ekuitas berbasis ESG.

“Rating ESG yang baik adalah hasil dari strategi ESG yang kuat dan komitmen seluruh perusahaan terhadap implementasi dan peningkatan
berkelanjutannya. Strategi ESG juga bisa menjadi jawaban atas tantangan keberlanjutan perusahaan dan sarana untuk membuka peluang menarik bagi bisnis dan pemangku kepentingan,” terangnya.

Kendati tren implementasi ESG mulai riuh digaungkan, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi agar ESG benar-benar jadi kesadaran
dan budaya. Di sektor properti secara khusus, dia memandang, salah satu tantangannya ialah pemahaman.

”Harus ada pemahaman kolektif dari semua pemangku terkait esensi penerapan ESG untuk pembangunan berkelanjutan yang bukan hanya terkait efisiensi atau penghematan energi, tetapi juga memperpanjang usia lingkungan hidup. Proyek properti berbasis ESG, kan, juga perlu didukung dengan layanan kota yang sejalan, seperti penyediaan transportasi publik, jalur dan parkir sepeda, dan ruang terbuka hijau,”
pungkas Meita.l [Andrian Saputri]



TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini