Di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih, sektor properti dibayangi kenaikan bahan bangunan yang bakal mengancam pembangunan rumah baru di Indonesia. Tercatat inflasi tertinggi konstruksi terjadi pada kelompok Bangunan Tempat Tinggal dan Bukan Tempat Tinggal sebesar 5,93%, yang didorong oleh naiknya harga komponen esensial perumahan berbahan aluminium, besi, tembaga, dan beton. Kenaikan konstruksi ini lebih tinggi dari inflasi tahunan nasional sebesar 2,42% yang berarti kenaikan harga material dan bahan bangunan mengalami kenaikan lebih cepat dibandingkan harga kebutuhan masyarakat secara umum. Biang keladi kenaikan konstruksi ini tentunya sebagai dampak dari ketidakpastian ekonomi global dan gejolak harga minyak akibat eskalasi perang US-Israel dan Iran.
Baca juga, Punya Halaman Belakang Luas, Begini Gambaran Hunian Caspian di CitraGrand Semarang
Kenaikan tertinggi didominasi oleh komoditas turunan komponen aluminium dan instalasi listrik. Kusen Aluminium melonjak hingga +24,21%, disusul oleh Kabel Listrik sebesar +20,06%. Sementara itu semen relatif mengalami kenaikan moderat sebesar +2.37%. Meskipun inflasi konstruksi sebesar 5,93%, berdasarkan pantauan di lapangan biaya pembangunan riil naik mencapai 9% – 13% untuk kontrak pembangunan rumah baru. Tentunya, ini akan membuat para pengembang perumahan menahan atau bahkan menunda pembangunan rumah baru di tahun 2026, di tengah menurunnya penjualan rumah di proyek mereka masing-masing. Para pengembang masih mengandalkan rumah siap huni tanpa terlalu agresif membangun rumah baru yang membuat ancaman bagi penyediaan rumah secara umum.

- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin



