Top 5 This Week

Related Posts

Asmat Amin, dari Bisnis Genteng yang Runtuh hingga Membangun Ribuan Rumah Rakyat

Propertyandthecity.com – Keberhasilan tidak selalu berawal dari rencana yang berjalan mulus. Bagi Asmat Amin, perjalanan menuju bisnis properti justru bermula ketika usaha genteng yang ditekuninya terdampak krisis ekonomi 1997.

Kegagalan itu memaksanya mencari jalan baru. Ia kemudian memasuki bisnis pembangunan rumah, sebuah sektor yang masih berkaitan dengan dunia konstruksi tetapi memiliki tingkat kerumitan dan risiko jauh lebih besar.

Asmat tidak langsung membangun kawasan komersial dengan rumah berharga tinggi. Ia memilih pasar yang kerap dihindari sebagian pengembang, yakni rumah sederhana untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Keputusan tersebut kemudian membentuk identitas bisnisnya. Melalui PT Sri Pertiwi Sejati atau SPS Group dan Arrayan Group, nama Asmat semakin lekat dengan pembangunan rumah subsidi di kawasan timur Jakarta, terutama Cikarang, Bekasi, dan Karawang.

Menemukan Pasar di Tengah Keterbatasan

Pilihan membangun rumah subsidi didasarkan pada realitas sederhana. Kawasan Cikarang dan Karawang tumbuh sebagai pusat industri yang menyerap banyak tenaga kerja, tetapi sebagian besar pekerjanya memiliki kemampuan membeli rumah yang terbatas.

Di balik keterbatasan tersebut, Asmat melihat pasar yang besar dan relatif nyata. Rumah bukan barang konsumsi sesaat, melainkan kebutuhan dasar yang permintaannya terus bertambah sejalan dengan pertumbuhan rumah tangga dan aktivitas ekonomi.

PT Sri Pertiwi Sejati disebut mulai bergerak sejak 2005 dengan proyek awal Kota Serang Baru di Cikarang. Sementara Arrayan Group berdiri pada 2010 dan berkembang melalui sejumlah proyek perumahan di koridor timur Jakarta.

Model bisnis rumah subsidi memang menawarkan margin yang lebih terbatas dibandingkan properti komersial. Namun, Asmat menilai perputaran arus kasnya dapat berlangsung lebih cepat karena kebutuhan pasar sangat besar dan pembelian didukung skema pembiayaan pemerintah.

Bisnis tersebut tetap tidak sederhana. Pengembang harus mengendalikan harga tanah, biaya konstruksi, perizinan, pembangunan infrastruktur, dan kualitas rumah dalam batas harga jual yang ditetapkan pemerintah. Kenaikan harga material yang tidak segera diikuti penyesuaian harga jual dapat langsung menekan kelayakan proyek.

Dalam situasi seperti itu, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan menjual rumah. Pengembang juga harus memiliki cadangan lahan, kecepatan pembangunan, hubungan dengan perbankan, serta kemampuan menjaga arus kas.

Momentum Villa Kencana Cikarang

Salah satu titik penting perjalanan Asmat terjadi pada 4 Mei 2017. Presiden Joko Widodo meresmikan Villa Kencana Cikarang, sebuah proyek perumahan sederhana yang dikembangkan SPS Group di Kabupaten Bekasi.

Kehadiran presiden menempatkan proyek tersebut dalam perhatian nasional. Villa Kencana Cikarang juga menjadi lokasi pelaksanaan akad kredit massal sekitar 4.000 rumah.

Asmat menyambut kepuasan Jokowi terhadap proyek tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap pekerjaan yang dilakukan timnya. Namun, di balik seremoni itu terdapat kebutuhan yang lebih mendasar: menyediakan rumah bagi pekerja industri yang sebelumnya kesulitan menjangkau hunian formal.

Pada 2017, SPS Group melaporkan penjualan sekitar 15.000 rumah untuk MBR. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.000 unit telah diserahterimakan, sedangkan sisanya ditargetkan selesai sebelum akhir tahun.

Angka tersebut menunjukkan skala operasional yang tidak kecil. Membangun ribuan rumah berarti mengelola pembebasan lahan, konstruksi, utilitas, pembiayaan, pemasaran, hingga serah terima dalam waktu yang relatif berdekatan.

Kecepatan kemudian menjadi salah satu karakter bisnis yang dikembangkan Asmat. Dalam rumah subsidi, keterlambatan bukan hanya meningkatkan biaya. Keterlambatan juga dapat mengganggu proses kredit dan memperpanjang waktu konsumen memperoleh rumah.

Baca Juga: Rumah Subsidi Bisa Tampil Modern, Ini 7 Cara Menatanya Tanpa Renovasi Besar

Pengakuan dan Risiko Terjebak Gelar

Berbagai penghargaan mengikuti pertumbuhan bisnisnya. Pengakuan personal diterima Asmat melalui predikat Inspiring Person 2015 dalam Residence Indonesia Award atau Reward 2015. Pada 2017, Asmat memperoleh predikat The Most Favourite Leadership. Dua tahun kemudian, ia menerima penghargaan Tokoh Pengembang Rumah Rakyat Paling Populer 2019 dalam Indonesia Property & Bank Award. Ia juga memperoleh penghargaan The Inspiring Young Leader in Property Industry pada 2019.

Penghargaan tersebut ikut melahirkan sebutan “Raja Rumah Subsidi”. Namun, gelar itu tidak boleh dibaca sebagai ukuran tunggal keberhasilan.

Dalam bisnis perumahan rakyat, ukuran yang lebih relevan adalah konsistensi penyelesaian bangunan, mutu rumah, kesiapan fasilitas, keterhunian, dan kemampuan kawasan berkembang setelah konsumen menerima kunci. Banyak unit terjual tidak selalu identik dengan terbentuknya lingkungan hidup yang sehat.

Asmat sendiri beberapa kali menekankan perlunya sinergi antara pengembang, pemerintah, dan perbankan. Kecepatan pembangunan harus diikuti kecepatan proses pembiayaan. Sementara kebijakan harga dan subsidi membutuhkan kepastian agar pengembang dapat menyusun rencana jangka menengah.

Naik Kelas Tanpa Meninggalkan Rumah Subsidi

Setelah membangun basis pada pasar rumah subsidi, bisnis Asmat mulai bergerak ke hunian dan properti komersial. Pergeseran tersebut bukan sekadar upaya mengejar margin lebih tinggi, tetapi juga respons terhadap perkembangan kawasan industri di timur Jakarta.

Arrayan Group memiliki cadangan lahan di Cikarang, Karawang, dan Purwakarta. Pembangunan LRT Jabodebek, Kereta Cepat Jakarta–Bandung, jalan tol, serta pertumbuhan kawasan industri memperluas potensi pasar di koridor tersebut.

Pada 2024, Asmat menjelaskan bahwa pendapatan sebagian pekerja di Cikarang dan Karawang telah menciptakan pasar untuk rumah komersial. Infrastruktur yang terus berkembang juga menjadi dasar Arrayan Group memperluas portofolionya melalui proyek seperti Socia Garden Karawang.

Strategi ini memperlihatkan perubahan cara pandangnya. Rumah subsidi menjadi pintu masuk, tetapi pembangunan kawasan membutuhkan ekosistem yang lebih lengkap, mulai dari fasilitas sosial, pusat perdagangan, ruko, hingga hunian bagi kelompok pendapatan yang berbeda.

Grand Cikarang City 2, misalnya, dikembangkan di atas rencana kawasan seluas sekitar 260 hektare. Proyek tersebut tidak hanya menampung rumah subsidi, tetapi juga area komersial dan fasilitas kawasan. Pada 2023, proyek ini memperoleh FIABCI Indonesia–REI Excellence Award.

Langkah Baru di Cikarang dan Karawang

Perjalanan bisnis Asmat berlanjut melalui dua arah. Arrayan Group mengembangkan Socia Garden di Karawang, sedangkan SPS Group memperkuat pengembangan Cikarang International City atau CINITY.

Pada Februari 2025, sebanyak 112 rumah di Socia Garden dilaporkan terserap dalam pemasaran tahap kedua. Proyek tersebut memperlihatkan upaya Arrayan Group memasuki pasar hunian komersial dengan tetap menyasar kelompok pekerja dan keluarga yang bertumbuh di kawasan industri Karawang.

Sementara CINITY membawa skala pengembangan yang lebih luas. Kawasan ini diarahkan menjadi pusat hunian dan komersial berbasis konektivitas. Pada 2025, pengembang menggandeng Urban Renaissance Jepang dalam perencanaan kawasan berorientasi transit serta menjalin kerja sama dengan sejumlah penyewa komersial.

Asmat memandang kehadiran merek dan fasilitas komersial bukan sekadar pelengkap penjualan properti. Ekosistem tersebut diharapkan menciptakan aktivitas ekonomi, membuka lapangan kerja, dan mempercepat pembentukan kota mandiri.

Memasuki 2026, belum ditemukan publikasi tepercaya yang merinci jumlah kumulatif terbaru rumah yang telah dibangun seluruh kelompok usahanya. Karena itu, klaim mengenai pencapaian terbaru Asmat sebaiknya tidak dilebihkan. Pembaruan yang dapat diverifikasi menunjukkan bahwa perannya telah bergeser dari pengembang rumah subsidi menjadi pendiri dan pengarah pengembangan kawasan berskala kota.

Tantangan 2026 Belum Selesai

Kisah Asmat tetap relevan karena persoalan yang menjadi dasar bisnisnya belum terselesaikan.

Data Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman menunjukkan backlog kepemilikan rumah pada 2026 masih sekitar 9,29 juta rumah tangga. Angka tersebut memang menurun dibandingkan 12,75 juta rumah tangga pada 2020, tetapi tetap menunjukkan besarnya kelompok masyarakat yang belum memiliki rumah sendiri.

Pemerintah menargetkan penyaluran 350.000 unit rumah melalui FLPP pada 2026. Hingga 9 Oktober 2026, realisasinya mencapai 178.211 unit atau 50,92 persen dari target. Artinya, penyediaan rumah subsidi masih membutuhkan percepatan besar menjelang akhir tahun.

Kondisi tersebut juga memperlihatkan bahwa pasar besar tidak otomatis membuat bisnis rumah rakyat menjadi mudah. Daya beli MBR tetap terbatas, harga tanah terus naik, biaya konstruksi meningkat, dan rumah yang semakin jauh dari pusat pekerjaan berpotensi menambah beban transportasi penghuninya.

Di sinilah perjalanan Asmat menyimpan pelajaran yang lebih penting daripada penghargaan. Ia membangun bisnis dengan masuk ke persoalan yang nyata, bukan menciptakan kebutuhan semu. Setelah menemukan pasar, ia membentuk skala, mempercepat eksekusi, lalu memperluas bisnis ketika kawasan dan konsumennya mulai berkembang.

Namun, ekspansi menuju properti komersial juga menjadi ujian. Keberhasilan masa depan tidak lagi hanya diukur dari jumlah rumah yang terjual, tetapi dari kemampuan membangun kawasan yang benar-benar hidup, terhubung, dan terjangkau.

Asmat Amin memulai perjalanan dari usaha genteng yang tumbang akibat krisis. Hampir tiga dekade kemudian, jejak bisnisnya telah bergerak dari rumah sederhana menuju pembangunan kota mandiri. Bukan jalan tanpa risiko, tetapi sebuah perjalanan yang memperlihatkan bahwa kegagalan dapat menjadi pintu masuk ketika seseorang mampu membaca kebutuhan masyarakat dan bertahan cukup lama untuk mengerjakannya.

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles