Top 5 This Week

Related Posts

Iwan Sunito, Merancang Ulang Masa Depan dari Sydney

Propertyandthecity.com – Dari Pangkalan Bun menuju panggung properti Australia, Iwan Sunito membangun reputasi melalui arsitektur, keberanian membaca nilai tanah, dan kemampuannya bangkit setelah kemitraan bisnis selama hampir tiga dekade berakhir. Kini ia menata babak baru melalui One Global Capital.

Sebuah gurauan mengubah arah hidup Iwan Sunito. Pada 1984, ayahnya, Handy Sunito, menyampaikan rencana mengirim Iwan belajar ke Australia. Kalimat itu mulanya terdengar seperti candaan. Namun, bagi remaja yang tumbuh di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, ucapan tersebut segera berubah menjadi tantangan.

Iwan lahir di Surabaya pada 29 Juli 1966, tetapi menghabiskan masa remajanya jauh dari pusat ekonomi Indonesia. Ia tumbuh di kota kecil yang tak menawarkan banyak gambaran mengenai gedung pencakar langit, investasi lintas negara, atau bisnis bernilai miliaran dolar. Sydney, dalam pandangan ayahnya, menjanjikan ruang yang lebih besar.

Pesan Handy sederhana, tetapi kemudian menjadi fondasi cara berpikir Iwan. Berpikirlah besar, tetapi mulailah dari sesuatu yang kecil.

Empat dekade setelah keberangkatannya ke Australia, Iwan bukan lagi mahasiswa asing yang berjuang memahami bahasa dan kebiasaan setempat. Ia dikenal sebagai salah satu pengusaha kelahiran Indonesia yang ikut membentuk wajah hunian vertikal Sydney. Perjalanannya mencakup pembangunan ribuan unit properti, jaringan hotel, pusat ritel, serta sejumlah proyek yang nilainya mencapai miliaran dolar Australia.

Belajar Membaca Ruang

Kehidupan awal Iwan di Sydney tidak langsung berjalan mulus. Hambatan bahasa menjadi masalah pertama. Ia pernah salah mengartikan sapaan khas Australia sebagai perintah untuk pergi. Pertanyaan ringan tentang kabar juga pernah ia jawab secara harfiah dengan menyebut moda transportasi yang digunakannya.

Kejadian itu terdengar remeh. Namun, pengalaman sebagai pendatang mengajarinya bahwa beradaptasi tidak cukup hanya dengan kecerdasan akademik. Ia harus memahami cara masyarakat berbicara, mengambil keputusan, membangun kepercayaan, dan menilai risiko.

Iwan menempuh pendidikan arsitektur di University of New South Wales. Ia meraih gelar Sarjana Arsitektur pada 1992, disusul gelar Magister Manajemen Konstruksi setahun kemudian. Di kampus tersebut, ia menerima Eric Daniels Prize untuk desain hunian. Pendidikan arsitektur memberinya kemampuan membaca bentuk dan fungsi ruang. Manajemen konstruksi membekalinya pemahaman mengenai biaya, waktu, pembiayaan, dan eksekusi proyek.

Kombinasi dua disiplin itu kelak menjadi ciri pendekatan bisnisnya. Bagi Iwan, properti bukan semata-mata komoditas yang dibeli ketika murah lalu dijual ketika harga naik. Nilainya dapat diciptakan melalui desain, perubahan fungsi, perizinan, pengelolaan, dan pengalaman yang ditawarkan kepada pengguna.

Sebelum menjadi pengembang, ia merintis firma arsitektur Joshua International Architects. Dari pekerjaan merancang bangunan, ia mulai memahami satu hal yang kemudian menentukan langkahnya. Arsitek menerima imbalan berdasarkan jasa, sedangkan pengembang menguasai sebagian besar nilai yang tercipta dari suatu proyek.

Ia memilih berpindah ke sisi pengembang.

Dimulai dari 54 Unit

Pada 1996, Iwan bersama Paul Sathio mendirikan Crown Group. Proyek pertama mereka berada di Bondi Junction, Sydney. Skalanya masih kecil bila dibandingkan dengan portofolio yang dibangun kemudian, hanya 54 unit hunian.

Namun, proyek itu menghasilkan keuntungan yang disebut mencapai sekitar Rp50 miliar. Angka tersebut menjadi validasi pertama bahwa kemampuan merancang, membaca lokasi, dan mengelola pembangunan dapat diterjemahkan menjadi bisnis.

Crown Group lalu berkembang dari satu proyek menjadi perusahaan properti dengan jejak kuat di Sydney. Perusahaan itu mengembangkan apartemen, proyek mixed-use, pusat komersial, dan jaringan serviced apartment. Di antara proyek yang mengangkat reputasinya adalah Top Ryde City Living, V by Crown Group, Arc by Crown Group, Infinity di Green Square, serta Waterfall di Waterloo.

Sejumlah bangunan tersebut dirancang bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hunian. Crown menjadikan arsitektur sebagai alat pemasaran dan pembeda. Bentuk bangunan yang ekspresif, fasilitas menyerupai resor, taman vertikal, kolam renang, serta kolaborasi dengan arsitek ternama menjadi bagian dari identitas perusahaan.

Pendekatan itu membantu Iwan keluar dari persaingan yang semata-mata bertumpu pada lokasi dan harga. Ia menjual gagasan mengenai gaya hidup sekaligus pengalaman tinggal.

Dalam hampir tiga dekade, Iwan dan mitranya disebut telah menyelesaikan 23 proyek dengan nilai total sekitar A$3,5 miliar dan membangun lebih dari 4.000 unit. Crown juga mengembangkan SKYE Suites sebagai lini perhotelan dan serviced apartment.

Pada 2015, Urban Taskforce Australia menobatkannya sebagai Property Person of the Year. Sejumlah proyek Crown memperoleh penghargaan desain dan pengembangan, sedangkan SKYE Suites mendapat pengakuan dari industri akomodasi New South Wales.

Membeli dengan Tepat

Di balik proyek-proyek berdesain mencolok tersebut, Iwan merumuskan filosofi investasi yang lebih pragmatis. Ia menyebutnya Buy Well, Add Value, Sell Well.

Prinsip itu terdiri atas tiga tahap. Pertama, memperoleh aset dengan struktur harga dan risiko yang tepat. Kedua, menciptakan nilai tambahan melalui desain, perizinan, perubahan fungsi, konstruksi, atau pengelolaan. Ketiga, menjual atau mengoperasikan aset pada waktu dan posisi pasar yang menguntungkan.

Iwan mulai menerapkan pendekatan tersebut secara serius pada proyek di Newington pada 2004. Menurut keterangannya, investasi awal sekitar Rp20 miliar menghasilkan keuntungan hingga sekitar Rp400 miliar. Angka itu berasal dari pernyataan Iwan yang dikutip beberapa media dan sebaiknya dipahami sebagai klaim bisnis, bukan hasil audit independen yang dipublikasikan.

Filosofi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan properti tidak semata-mata ditentukan oleh kenaikan harga pasar. Pengembang harus mampu mengubah sesuatu yang sebelumnya kurang produktif menjadi aset yang memiliki fungsi, identitas, dan permintaan lebih kuat.

Namun, formula itu juga mengandung risiko. Pembelian tanah yang terlihat murah belum tentu menguntungkan apabila biaya konstruksi melonjak, izin tertunda, permintaan berubah, atau pembiayaan menjadi mahal. Nilai tambah hanya terbentuk ketika pengembang mampu mengeksekusi rencana. Tanpa disiplin biaya dan tata kelola, slogan investasi mudah berubah menjadi pembenaran atas pengambilan risiko yang berlebihan.

Perpecahan di Puncak

Hubungan bisnis Iwan dan Paul Sathio yang bertahan hampir 30 tahun akhirnya pecah. Perselisihan keduanya berkembang menjadi sengketa terbuka dan proses hukum. Crown Group kemudian memasuki proses likuidasi, sementara aset serta kepentingan bisnis para pemegang saham dipisahkan.

Beberapa media Indonesia mengutip versi Iwan mengenai sumber konflik, termasuk perbedaan pandangan dalam pengelolaan divisi konstruksi, biaya proyek, serta penunjukan anggota keluarga mitra bisnis. Namun, tuduhan tersebut merupakan bagian dari sengketa antarpihak dan tidak patut diperlakukan sebagai fakta tunggal tanpa putusan serta dokumen yang memadai.

Yang lebih penting bagi perjalanan Iwan adalah dampak perpecahan itu. Ia kehilangan kendaraan bisnis yang dibangunnya selama hampir tiga dekade. Merek, aset, struktur perusahaan, hubungan kerja, dan proyek yang sebelumnya berada dalam satu payung harus ditata ulang.

Dalam sebuah konferensi pers pada 2024, Iwan menyebut Crown Group sebagai masa lalu. Masa depannya, kata dia, berada di One Global Capital.

Pernyataan itu terdengar tegas, tetapi transisinya tidak sesederhana mengganti papan nama. Reputasi seorang pendiri bisa melekat pada proyek lama, sedangkan kewajiban hukum dan komersial tidak otomatis menghilang ketika perusahaan baru dibentuk. Babak baru tersebut harus dibuktikan melalui pendanaan, tata kelola, penyelesaian proyek, dan kemampuan mempertahankan kepercayaan investor.

Menyusun Mesin Bisnis Baru

One Global Capital dirancang bukan hanya sebagai perusahaan pengembang. Iwan ingin membangun platform investasi dengan beberapa sumber pendapatan, mulai dari hunian untuk dijual, hotel dan serviced apartment, pusat ritel, aset sewa, hingga pengelolaan dana properti.

Strategi ini memperlihatkan pelajaran yang ia ambil dari Crown. Bisnis pengembangan murni menghasilkan pendapatan yang tidak merata. Uang masuk besar ketika proyek selesai atau unit terjual, tetapi perusahaan tetap harus menanggung biaya selama proses perizinan dan pembangunan. Model dengan aset yang menghasilkan pendapatan berulang dapat memberikan arus kas lebih stabil.

Iwan menargetkan One Global Capital tumbuh menuju perusahaan publik. Target yang pernah disebutkan adalah pencatatan saham sekitar 2031, meskipun waktu tersebut tetap bergantung pada kesiapan portofolio, kondisi pasar modal, struktur perusahaan, serta kualitas tata kelolanya.

Portofolio barunya mencakup One Global Resorts di Green Square, One Macquarie Park, pengembangan di Chatswood, aset ritel di Eastlakes, serta proyek mixed-use di Five Dock. Perusahaan menyatakan One Global Resorts Green Square pernah mencatat okupansi 99,5 persen dan kenaikan pendapatan sekitar Rp8 miliar dalam enam bulan. Data tersebut berasal dari keterangan perusahaan yang diberitakan media, sehingga konteks periode dan dasar perhitungannya tetap perlu diperhatikan.

One Macquarie Park dirancang sebagai pengembangan yang menggabungkan hunian, akomodasi, serta elemen affordable housing. Sementara itu, Chatswood diproyeksikan menjadi kawasan kelas atas yang memadukan hotel, apartemen, dan ritel. Iwan juga pernah mengungkapkan pembicaraan dengan tim Giorgio Armani untuk keterlibatan dalam desain interior proyek tersebut. Rencana seperti ini masih harus dibedakan dari kontrak final dan realisasi pembangunan.

Pertaruhan Rp25 Triliun di Five Dock

Babak baru Iwan Sunito memperoleh dorongan penting pada Juli 2026. Pemerintah New South Wales menetapkan proposal pengembangan Five Dock di Spencer Street sebagai State Significant Development melalui jalur Housing Delivery Authority. Status tersebut membuka jalan bagi percepatan proses perencanaan proyek mixed-use yang dikembangkan One Global Capital.

Nilai proyek itu kini diperkirakan mencapai A$1,9 miliar atau sekitar Rp25 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan estimasi awal sebesar A$1,6 miliar atau sekitar Rp19 triliun yang diumumkan pada Maret 2026. Perubahan itu berjalan seiring dengan membesarnya kapasitas pengembangan yang diajukan perusahaan.

Di atas lahan sekitar 14.100 meter persegi, One Global Capital mengajukan peningkatan Floor Space Ratio dari ketentuan dasar 3,0 berbanding 1 menjadi sekitar 5,7 berbanding 1. Apabila disetujui, luas lantai kotor proyek dapat meningkat dari sekitar 42.300 meter persegi menjadi 80.400 meter persegi.

Masterplan terbaru Five Dock mencakup sekitar 840 unit hunian, hotel, kawasan komersial dan ritel, ruang publik, jalur pejalan kaki, serta komponen hunian terjangkau. Proyek tersebut ditempatkan sebagai salah satu pengembangan prioritas yang diharapkan membantu menambah pasokan perumahan di New South Wales.

Penetapan melalui Housing Delivery Authority bukan berarti proyek telah memperoleh seluruh persetujuan akhir. Status tersebut terutama memberikan jalur penilaian yang lebih terkoordinasi dan cepat karena proyek dianggap memiliki arti penting bagi penyediaan hunian dan pembangunan kawasan. One Global Capital masih harus melewati tahapan perencanaan, persetujuan teknis, pendanaan, dan konstruksi sebelum seluruh rencana dapat direalisasikan.

Bagi Iwan, Five Dock bukan lagi sekadar salah satu aset dalam portofolio perusahaan. Proyek ini menjadi pengembangan terbesar yang pernah dipimpinnya selama berkarier di Australia sekaligus ujian utama bagi transformasi One Global Capital dari perusahaan pengembang menjadi platform investasi, perhotelan, pengelolaan aset, dan pengembangan kawasan terpadu.

Konsep kawasan itu dirancang bersama arsitek Koichi Takada dengan perhatian pada pengalaman pengguna, ruang publik, dan keberlanjutan lingkungan. Hunian, hotel, ruang usaha, area hijau, fasilitas publik, serta konektivitas pejalan kaki direncanakan berada dalam satu ekosistem perkotaan.

Dukungan Pemerintah New South Wales memberi Five Dock bobot yang lebih besar dalam perjalanan bisnis Iwan. Namun, status prioritas pemerintah tidak menghapus risiko yang melekat pada proyek bernilai miliaran dolar Australia. Kenaikan biaya konstruksi, perubahan suku bunga, kemampuan menyerap ratusan unit hunian, kebutuhan modal, dan panjangnya masa pembangunan tetap menjadi faktor penentu.

Di sinilah reputasi Iwan akan kembali diuji. Crown Group telah membuktikan kemampuannya membangun berbagai bagian dari cakrawala Sydney. Five Dock harus membuktikan apakah ia mampu mengulangi keberhasilan itu dengan perusahaan baru, struktur baru, dan skala pertaruhan yang jauh lebih besar.

Arsitek yang Menjadi Investor

Iwan Sunito kerap digambarkan sebagai pengusaha Indonesia yang menaklukkan Australia. Ia tidak membangun bisnis hanya melalui keberanian merantau. Keunggulannya berada pada pertemuan antara desain, konstruksi, keuangan, pemasaran, serta kemampuan membangun jaringan investor. Ia memahami bahwa sebuah properti bisa memiliki nilai lebih tinggi apabila dirancang sebagai destinasi, bukan sekadar bangunan.

Di sisi lain, perjalanan Crown memperlihatkan bahwa keberhasilan proyek tidak otomatis menjamin ketahanan organisasi. Perusahaan yang melahirkan gedung-gedung berkelas tetap dapat terguncang oleh konflik pemegang saham, tata kelola, dan perbedaan strategi.

Itulah paradoks yang kini menyertai reputasi Iwan. Masa lalunya memberinya kredibilitas, tetapi juga meninggalkan sengketa dan pertanyaan yang tak dapat dihapus hanya dengan membangun merek baru.

Pada usia ketika banyak pengusaha mulai mengurangi risiko, Iwan justru merancang perusahaan berikutnya. Ia ingin mengubah One Global Capital dari pengembang menjadi platform investasi internasional, memperbesar bisnis perhotelan, menguasai aset berpendapatan rutin, lalu membawanya ke pasar modal.

Hasil akhirnya belum dapat dinilai sekarang. Proyek baru membutuhkan waktu untuk membuktikan kelayakannya. Target pencatatan saham juga masih beberapa tahun lagi. Namun, satu pola tetap terlihat sejak Iwan meninggalkan Pangkalan Bun menuju Sydney.

Ia selalu memulai masa depan dengan sebuah gambar besar, kemudian berusaha mencari lahan, modal, dan struktur agar gambar itu dapat berdiri.

Pada usia ketika banyak pengusaha mulai mengurangi eksposur, Iwan justru memperbesar pertaruhannya. Ia ingin membawa One Global Capital berkembang dari pengembang properti menjadi platform investasi yang memiliki hunian, hotel, aset ritel, pendapatan berulang, dan pengelolaan aset jangka panjang.

Five Dock menjadi pusat dari ambisi tersebut. Penetapan proyek sebagai pengembangan strategis oleh Pemerintah New South Wales memperkuat peluang realisasinya, tetapi sekaligus meninggikan standar pembuktian yang harus dipenuhi.

Masa lalu Iwan dibangun melalui Crown Group. Masa depannya kini bergantung pada kemampuan One Global Capital menerjemahkan rancangan senilai Rp25 triliun menjadi kawasan yang benar-benar hidup, bukan sekadar proposal besar di atas kertas.

Sejak meninggalkan Pangkalan Bun menuju Sydney, pola perjalanan Iwan tidak banyak berubah. Ia memulai dengan gagasan yang terlihat terlalu besar, lalu mencari desain, tanah, modal, dan keberanian untuk membuatnya berdiri.

Baca Juga: Target BSPS Naik Hampir 9 Kali Lipat, Pemerintah Pacu Renovasi Rumah Tak Layak Huni

Profil Singkat

Nama
Iwan Sunito

Tempat dan tanggal lahir
Surabaya, 29 Juli 1966

Pendidikan
Sarjana Arsitektur, University of New South Wales, 1992
Magister Manajemen Konstruksi, University of New South Wales, 1993

Bidang usaha
Pengembangan dan investasi properti, perhotelan, serviced apartment, serta aset komersial

Perusahaan yang didirikan
Joshua International Architects
Crown Group bersama Paul Sathio
One Global Capital

Prinsip investasi
Buy Well, Add Value, Sell Well

Penghargaan utama
Property Person of the Year 2015 dari Urban Taskforce Australia

Proyek yang menonjol
Top Ryde City Living
V by Crown Group
Arc by Crown Group
Infinity at Green Square
Waterfall
SKYE Suites
One Macquarie Park
One Chatswood
Five Dock mixed-use development. (*)

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles