Top 5 This Week

Related Posts

Tak Selesai Kuliah, Kahar Halim Justru Menemukan Jalannya di Dunia Properti

Jakarta, propertyandthecity.com – Kahar Halim, Member Broker CENTURY 21 Zawa Group, tidak memasuki industri properti dengan modal besar, pendidikan yang selesai, atau jaringan bisnis yang mapan. Ia memulainya sebagai pekerja bengkel, belajar menjadi tenaga pemasaran, lalu membangun kantor agen properti dari kamar kos bersama dua orang marketing.

Kahar Halim memahami rasanya memulai dari bawah. Sebelum menjadi Member Broker CENTURY 21 Zawa Group, ia pernah berada pada fase ketika arah hidup belum sepenuhnya jelas. Kuliahnya di Yogyakarta tidak selesai. Ia kemudian berangkat ke Jakarta untuk mencari pekerjaan tanpa membawa keahlian khusus ataupun kepastian mengenai bidang yang akan digeluti.

Sejak awal, Kahar tertarik menjadi tenaga pemasaran. Ia melihat profesi tersebut menawarkan penghasilan yang tidak dibatasi oleh gaji bulanan. Semakin tinggi kemampuan menjual, semakin besar pula peluang memperoleh pendapatan. Namun, keinginannya tidak langsung terwujud. Lamaran yang ia kirimkan ke sejumlah showroom mobil dan perusahaan lain tidak membawanya ke posisi marketing.

Kahar akhirnya bekerja di bengkel sekitar 2002. Setahun kemudian, ia pindah ke perusahaan agen properti. Perpindahan itulah yang perlahan mengubah jalan hidupnya. Setelah mengenal bisnis perantara properti, ia sempat bekerja di beberapa perusahaan pengembang sepanjang 2005 hingga 2012.

Pengalaman selama hampir satu dekade tersebut memberinya pemahaman mengenai cara menjual rumah, membaca kebutuhan konsumen, membangun hubungan dengan pemilik aset, serta menghadapi tekanan yang melekat pada pekerjaan berbasis komisi.

Namun, pengalaman juga memperlihatkan keterbatasan bekerja di dalam struktur perusahaan orang lain. Kahar mulai melihat peluang untuk membangun usahanya sendiri.

Kantor Pertama di Kamar Kos

Usaha itu tidak dimulai dari gedung perkantoran atau tim penjualan dalam jumlah besar. Kahar membuka agen properti yang awalnya bernama Zawa Property—dalam bagian lain transkrip juga disebut Jawa Property—dengan hanya dua orang marketing. Kantornya berada di kamar kos.

Ketika transaksi pertama mulai menghasilkan pemasukan, mereka pindah ke sebuah apartemen. Perubahan lokasi tersebut menunjukkan perkembangan, tetapi Kahar belum merasa bisnisnya memiliki fondasi yang cukup kuat. Ia menyadari bahwa merek lokal yang belum dikenal membuat kepercayaan pasar sulit dibangun. Akses terhadap proyek-proyek properti primer juga masih terbatas.

Tim penjualan sempat bertambah dari dua menjadi lima orang. Setelah itu, pertumbuhannya berhenti. Bagi bisnis agen properti, jumlah tenaga pemasaran menentukan jangkauan pasar dan kapasitas transaksi. Kahar khawatir perusahaannya hanya akan bergerak di tempat apabila tetap menggunakan merek yang tidak memiliki daya tarik luas.

Ia kemudian mengambil keputusan untuk bergabung dengan jaringan waralaba properti. Langkah itu bukan semata-mata soal mengganti nama. Kahar membutuhkan sistem, jaringan proyek, reputasi, serta struktur bisnis yang dapat membantu kantornya berkembang lebih besar.

Keputusan tersebut mencerminkan sikap pragmatis. Banyak pendiri usaha terlalu cepat terikat pada identitas merek yang mereka bangun sendiri. Kahar justru mengakui kelemahannya. Ia memahami bahwa idealisme mempertahankan merek lokal tidak banyak berarti apabila perusahaan kehilangan peluang untuk berkembang.

Belajar dari Lapangan

Kahar tidak menganggap keberhasilannya lahir dari teori bisnis yang rumit. Ia menggunakan metode sederhana yang disebut ATM: amati, tiru, dan modifikasi.

Ia meminta tenaga pemasaran baru mengamati mereka yang lebih berpengalaman. Cara mencari listing, melakukan canvassing, menghubungi kembali calon konsumen, dan mengelola komunikasi dipelajari dari aktivitas nyata di lapangan. Setelah diamati, teknik tersebut ditiru, lalu disesuaikan dengan karakter masing-masing orang.

Pendekatan ini efektif karena pekerjaan agen properti memang tidak dapat dikuasai hanya dari pelatihan di ruang kelas. Seorang marketing harus belajar menghadapi penolakan, membaca bahasa tubuh konsumen, menjaga konsistensi tindak lanjut, serta memahami bahwa transaksi bernilai besar membutuhkan kepercayaan.

Namun, metode meniru juga memiliki batas. Apa yang berhasil dilakukan seorang penjual belum tentu cocok diterapkan orang lain. Karena itu, bagian “modifikasi” menjadi penting. Kahar tidak mendorong anak buahnya menjadi salinan dari marketing senior, melainkan mengambil pola kerja yang berhasil dan menyesuaikannya dengan kemampuan pribadi.

Membuka Pintu bagi Orang dari Nol

Pengalaman gagal menyelesaikan kuliah dan sulit memperoleh pekerjaan meninggalkan pengaruh kuat terhadap cara Kahar merekrut tenaga pemasaran. Ia mengaku hampir tidak pernah menolak orang yang ingin bergabung.

Baginya, latar belakang seseorang tidak selalu menunjukkan potensi akhirnya. Ia pernah berada pada posisi tidak memahami apa pun tentang properti. Dengan kesempatan dan proses belajar, ia mampu menguasai bidang tersebut.

Karena alasan itu, Kahar justru menyukai orang-orang yang memulai dari nol. Ia melihat proses mengajar sebagai bagian dari gairahnya dalam menjalankan usaha. Orang yang belum berpengalaman tidak selalu menjadi beban. Mereka dapat dibentuk sejak awal selama memiliki kemauan belajar dan ketahanan menghadapi tekanan.

Pandangan tersebut sekaligus menjadi strategi ekspansi. Perusahaan agen properti membutuhkan banyak tenaga penjualan. Bila hanya menerima orang yang sudah berpengalaman, persaingan merekrut akan semakin ketat. Dengan melatih pemula, perusahaan dapat menciptakan sumber daya manusianya sendiri.

Namun, keterbukaan tanpa proses seleksi yang memadai juga mengandung risiko. Tidak semua orang cocok bekerja dengan sistem komisi, target, dan tingkat penolakan yang tinggi. Kesempatan harus diikuti evaluasi, disiplin, dan ukuran kinerja yang jelas agar pertumbuhan jumlah agen tidak sekadar menjadi angka.

Memimpin hingga Larut Malam

Cara Kahar membangun loyalitas tidak berhenti pada pelatihan. Ia berusaha menghilangkan jarak antara pemilik kantor dan tenaga marketing. Di dalam organisasinya, agen senior dan pemula diperlakukan setara. Ia menekankan suasana kekeluargaan dan menolak hierarki yang membuat orang baru merasa lebih rendah.

Komitmen tersebut terlihat dari kebiasaannya menerima telepon tenaga pemasaran hingga pukul 11 atau 12 malam. Mereka biasanya menghubunginya ketika menghadapi masalah di lapangan, kesulitan menjawab calon konsumen, atau membutuhkan bantuan dalam proses transaksi.

Kahar akan memberikan solusi melalui telepon. Bila situasi membutuhkan kehadirannya, ia turun langsung membantu. Menurutnya, penyelesaian masalah pada saat yang tepat kerap menentukan terjadinya transaksi. Satu penjualan yang berhasil juga dapat mengembalikan semangat seorang marketing yang sebelumnya nyaris menyerah.

Cara memimpin seperti ini membangun kedekatan, tetapi juga memiliki konsekuensi. Ketergantungan berlebihan kepada pendiri dapat menghambat pembentukan manajer lapis kedua. Perusahaan yang ingin membesar tidak mungkin terus bergantung pada satu orang untuk menjawab masalah setiap malam.

Tantangan Kahar berikutnya bukan lagi sekadar membantu lebih banyak marketing melakukan closing. Ia harus mengubah pengetahuan dan naluri yang selama ini berada di kepalanya menjadi sistem yang dapat dijalankan orang lain.

Menjual dengan Hati

Kahar menyebut bekerja dengan hati sebagai salah satu prinsip penting dalam bisnisnya. Menurut dia, hasil kerja akan lebih baik ketika seseorang tidak hanya mengejar komisi. Hubungan antara marketing dan prinsipal juga harus dibuat lebih dekat agar tidak muncul jarak yang menghambat kerja sama.

Gagasan “bekerja dengan hati” mudah terdengar normatif. Dalam praktiknya, prinsip itu baru memiliki nilai apabila diterjemahkan menjadi tindakan: menjelaskan kondisi properti secara jujur, tidak menyembunyikan risiko transaksi, menjaga kepentingan penjual dan pembeli, serta tetap mendampingi klien setelah kesepakatan tercapai.

Bisnis agen properti sangat bergantung pada reputasi. Satu transaksi dapat menghasilkan komisi, tetapi kepercayaan yang terjaga dapat melahirkan referensi dan transaksi berulang. Di sinilah pendekatan relasional Kahar menemukan relevansinya.

Ia melihat properti sebagai kebutuhan yang akan terus dicari masyarakat. Berbeda dengan tenaga penjualan yang terikat pada satu proyek pengembang, agen dapat menawarkan beragam pilihan aset. Ruang usahanya lebih luas, tetapi persaingannya juga lebih terbuka.

Kesuksesan yang Dibangun dari Kesempatan

Cerita Kahar Halim bukan kisah keberhasilan instan. Tidak ada lompatan tiba-tiba dari kamar kos menuju perusahaan besar. Perjalanannya terbentuk dari serangkaian tahap yang relatif biasa: gagal kuliah, kesulitan memperoleh pekerjaan, bekerja di bengkel, menjadi agen, masuk ke perusahaan pengembang, lalu mendirikan kantor sendiri.

Baca Juga: Bye-Bye Lantai Kayu Lapuk! Saatnya Beralih ke RB SHERA MAESTRO, Decking Premium Berstandar Fire Rated A1 Eropa

Yang membedakannya adalah kemampuan mengubah setiap tahap menjadi proses belajar.

Dari bengkel, ia belajar memulai tanpa gengsi. Dari dunia marketing, ia memahami bahwa pendapatan mengikuti kemampuan menciptakan hasil. Dari perusahaan pengembang, ia mengenal struktur pasar properti. Dari kantor kecilnya, ia menyadari pentingnya merek dan jaringan. Dari para tenaga pemasaran, ia memahami bahwa bisnis tidak dapat tumbuh tanpa memberi kesempatan kepada orang lain.

Kahar tidak menempatkan kesuksesan sebagai pencapaian individual. Ia menghubungkannya dengan keberhasilan para marketing yang dibina. Ketika mereka mampu menjual, memperoleh penghasilan, dan berkembang, kantor yang dipimpinnya ikut membesar.

Baca Juga: Menyulam Energi Dalam Struktur Rumah

Logikanya sederhana, tetapi menjadi fondasi bisnis jasa: perusahaan tumbuh ketika orang-orang di dalamnya tumbuh.

Dua dekade setelah bekerja di bengkel, Kahar telah bergerak jauh dari titik awalnya. Namun, pengalaman masa sulit itu tetap menjadi pusat cara pandangnya. Ia tidak cepat menilai seseorang berdasarkan pendidikan, pekerjaan sebelumnya, atau keadaan ekonomi saat pertama kali datang.

Sebab, dalam perjalanan hidupnya sendiri, Kahar pernah menjadi orang yang dianggap belum mampu melakukan apa-apa.

Ia kemudian membuktikan bahwa titik awal yang rendah tidak menentukan batas akhir seseorang. Yang lebih menentukan adalah kesempatan untuk masuk, kemauan mengamati, keberanian mencoba, serta ketekunan untuk terus bekerja ketika hasil belum terlihat.

Profil Singkat

Nama: Kahar Halim
Jabatan: Member Broker CENTURY 21 Zawa Group
Bidang usaha: Agen, pemasaran, dan konsultasi properti
Pengalaman awal: Pekerja bengkel, agen properti, dan tenaga pemasaran di sejumlah perusahaan pengembang
Usaha yang dirintis: Zawa Property
Lokasi kantor pertama: Kamar kos
Jumlah tim awal: Dua orang marketing
Metode pembelajaran: Amati, Tiru, Modifikasi
Prinsip kepemimpinan: Memberikan kesempatan kepada pemula, mendampingi tenaga pemasaran, dan membangun kultur kekeluargaan
Filosofi kerja: Bekerja dengan hati dan mengurangi jarak antara marketing dengan prinsipal

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles