Di Jalan Kramat Raya 106, para pelajar datang untuk tinggal dan belajar. Namun, rumah itu perlahan menjadi ruang untuk bertukar gagasan, mengelola organisasi, dan membayangkan sebuah bangsa bersama.
Jakarta, Propertyandthecity.com – Coba bayangkan sebuah rumah indekos di tengah Batavia: penghuninya datang dari berbagai daerah, belajar di sekolah yang berbeda, membawa kebiasaan dan cara pandang masing-masing. Mereka berbagi atap—dan, seiring waktu, berbagi pembicaraan tentang nasib tanah jajahan.
Itulah salah satu cara memahami pentingnya Gedung Kramat 106, yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda. Tempat ini memang terkait erat dengan Sumpah Pemuda. Namun, kisahnya tidak cukup dijelaskan dengan kalimat “di sinilah sumpah itu lahir”. Sebelum menjadi lokasi sidang kongres, rumah itu lebih dulu berfungsi sebagai tempat tinggal, ruang belajar, tempat latihan kesenian, sekretariat organisasi, dan ruang pertemuan. Dengan kata lain, ia bukan hanya latar sebuah peristiwa, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang memungkinkan peristiwa itu terjadi.
Menurut catatan Museum Sumpah Pemuda, rumah milik Sie Kong Lian itu disewa sejak 1908 sebagai tempat tinggal dan belajar bagi pelajar STOVIA dan Rechtsschool. Sejumlah tokoh yang pernah tinggal di sana antara lain Muhammad Yamin, Amir Sjarifudin, Abu Hanifah, Assaat, dan Ferdinand Lumban Tobing. Pada masa berikutnya, gedung itu juga digunakan oleh organisasi pergerakan pemuda. Namanya berubah menjadi Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw—gedung pertemuan.
Perubahan fungsi itu penting. Rumah indekos memberi para pelajar tempat untuk tinggal di kota dan meneruskan pendidikan. Ketika penghuninya mulai berorganisasi, gedung yang sama menyediakan ruang untuk berdiskusi dan bekerja bersama. Di sana, PPPI—Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia—berkantor dan menerbitkan majalah Indonesia Raja. Kongres dan kegiatan organisasi pemuda lain juga berlangsung di gedung tersebut.
Jadi, apa yang membuat rumah itu menjadi penting? Bukan semata-mata karena alamatnya kemudian masuk buku sejarah. Kramat 106 telah menjadi tempat orang-orang muda bertemu berulang kali, sebelum keputusan besar itu dibacakan. Persatuan yang digaungkan dalam kongres punya riwayat keseharian: orang-orang dari latar berbeda berada di ruang yang sama, mengurus kegiatan, menyusun gagasan, lalu mencari bahasa bersama.
Kongres yang Bergerak dari Satu Tempat Ke Tempat Lain
Ada satu detail yang kerap tenggelam ketika cerita Kramat 106 diringkas: Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928 tidak berlangsung hanya di gedung ini. Sidangnya digelar di tiga lokasi, yaitu gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Oost-Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw di Kramat No. 106. Peristiwa itu merupakan rangkaian pertemuan, bukan satu adegan yang berlangsung di satu ruangan.
Dilansir dari laman kemenbud.go.id, dikatakan bahwa rapat pertama berlangsung pada malam 27 Oktober di gedung Katholieke Jongenlingen Bond. Pagi berikutnya, para peserta membahas pendidikan di Oost-Java Bioscoop. Barulah pada sore 28 Oktober, rapat penutup berlangsung di Kramat 106. Di sana, lagu “Indonesia Raya” diperdengarkan oleh Wage Rudolf Soepratman melalui biola, lalu Sugondo Djojopuspito membacakan keputusan kongres yang dirumuskan Muhammad Yamin.
Maka, menyebut Kramat 106 sebagai “tempat lahirnya Sumpah Pemuda” mudah dipahami, tetapi perlu diberi konteks. Di gedung ini keputusan itu dibacakan pada penutupan kongres; rangkaian pemikiran dan pembahasannya berlangsung melalui beberapa sesi dan tempat. Ketepatan ini tidak mengurangi arti Kramat 106. Justru, ia menunjukkan bahwa persatuan tersebut dibangun melalui proses: ada persiapan, pembahasan, dan pertemuan yang melibatkan banyak organisasi.
Persiapan itu sendiri berlangsung berbulan-bulan. Para pemuda bertemu pada Mei dan Agustus 1928 untuk mengurus panitia, agenda, lokasi, waktu, dan pembiayaan. Biaya kongres ditanggung organisasi-organisasi peserta serta sumbangan sukarela. Dari sini tampak bahwa acara besar itu tidak muncul begitu saja: ia bergantung pada kerja bersama dan dukungan banyak pihak.
Baca Juga: Alam Sutera Perkenalkan RYIL dalam Roadshow Properti di Pontianak
Dari Kebiasaan Bersama Ke Janji Kebangsaan
Isi keputusan kongres itu kini akrab di telinga: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan—Indonesia. Namun, di balik rumusan singkat tersebut ada upaya mengatasi jarak dan perbedaan. Organisasi-organisasi pemuda yang hadir memiliki nama, lingkup, dan basis daerah masing-masing. Dalam kongres, mereka menyatakan keyakinan bahwa persatuan Indonesia perlu menjadi dasar bagi perkumpulan kebangsaan.
Di sini, fungsi Kramat 106 terasa lebih luas daripada fungsi gedung sebagai lokasi. Ia pernah menjadi tempat tinggal para pelajar, lalu ruang organisasi dan pertemuan. Ruang semacam itu tidak otomatis menghapus perbedaan. Tetapi ia membuat orang punya kesempatan untuk bertemu, bekerja, dan membicarakan tujuan yang sama. Mungkin itulah pelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: persatuan tidak selalu dimulai dari panggung besar; kadang ia tumbuh dari hubungan yang dibangun sedikit demi sedikit.
Perjalanan gedung ini juga tidak berhenti pada 1928. Setelah para pelajar pergi pada 1934, bangunan itu kembali menjadi rumah tinggal, lalu toko bunga, hotel, dan kantor. Pada 1973, setelah dipugar Pemerintah Daerah DKI Jakarta, gedung tersebut dijadikan museum. Jejak perubahan fungsi itu mengingatkan bahwa sebuah tempat bisa menampung banyak babak kehidupan—dan maknanya terbentuk dari perjalanan panjang, bukan satu hari saja.
Jadi, saat mendengar nama Kramat 106, kita bisa membayangkan lebih dari satu momen bersejarah. Ada rumah milik Sie Kong Lian, para pelajar yang tinggal dan belajar, kegiatan organisasi, dan sidang penutup yang membacakan keputusan kongres. Di antara semua itu, ada pertanyaan sederhana yang masih relevan: bagaimana orang-orang dengan latar berbeda bisa mengusahakan tujuan bersama?
Di Kramat 106, jawabannya tidak datang dalam semalam. Mereka bertemu, mengurus organisasi, berdiskusi, dan menyusun gagasan bersama. Sumpah Pemuda menjadi penanda yang dikenang; rumah indekos itu membantu kita melihat proses yang mendahuluinya. (*)





















