Home Urban Renewal TERGODA LANGGAM BARU, SARINAH MENGHADANG ZAMAN

TERGODA LANGGAM BARU, SARINAH MENGHADANG ZAMAN

41
0
sarinah

Jaman boleh berubah, jadi serba modern. Kadang beranjak dari tradisi yang sebenarnya setia menghampiri. Seperti Sarinah, yang tetap memesona sepanjang waktu.

Sarinah, pusat perbelanjaan dan pencakar langit pertama di Indonesia, kembali dibuka pada 21 Maret tahun ini setelah mengalami renovasi besar-besaran sejak 2020. Sarinah kini lebih menarik karena arsitektur dalam dan luar bangunan yang kekinian.

baca juga, MARKETING TRANSFORMATION IN THE NEW ECONOMIC ERA

Didesain tanpa pagar, Sarinah anyar menyatu dengan trotoar lebar dan nyaman yang terkoneksi dengan akses ke halte Transjakarta. Magnet baru di jantung ibu kota itu memang lebih nyaman dikunjungi dengan menumpang kendaraan umum, terutama bus Transjakarta.

Jumat (30/9/2022), sejumlah pengunjung dari berbagai kalangan dan usia meramaikan mal delapan lantai itu pada sore hari jelang jam pulang kantor. Para pengunjung tampak antusias melihat-lihat arsitektur interior mal yang modern. Mereka datang dengan beragam alasan, baik sekadar cuci mata atau memang belanja produk kerajinan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dihadirkan di setiap lantai dengan konsep tematik, seperti sebelum dipugar.

Lantai basemen, misalnya, kini menjadi area kuliner modern, jajanan pasar, pusat oleh-oleh Nusantara, dan swalayan lokal. Sementara itu, mewakili tema warisan busana dan gaya hidup Indonesia dengan tampilan produk wastra premium, pakaian tradisional, batik, dan perhiasan
dari jenama-jenama lokal ternama diplot di lantai dasar gedung. Naik ke lantai satu, pengunjung bisa menemukan busana kontemporer dengan harga lebih terjangkau dan gerai kuliner di ruang terbuka.

Gedung baru Sarinah didesain oleh arsitek lokal Indonesia, yakni PT Airmas Asri, dengan konsep smart and green building. Gedung dilengkapi co-working space dan area untuk mengeksplorasi permainan tradisional Indonesia yang dikemas dengan konsep digital. Lalu, terdapat atrium sebagai tempat penyelenggaraan berbagai macam pameran, seperti pergelaran busana (fashion-show). Total biaya untuk renovasi sekitar Rp700 miliar.

Apem Jawa Hingga Dadar Gulung

Salah satu magnet yang sukses menarik masyarakat untuk berbondong-bondong pergi ke Sarinah adalah kulinernya! Sebagian besar pengunjung dibuat penasaran untuk menjajal kuliner yang ada, seperti toko kue jajanan pasar Sari-Sari hingga pujasera Pasar Nusantara.

Toko Sari-Sari yang berasal dan masih masih mengirim produksi kuenya dari Bandung, Jawa Barat, dijejali banyak pengunjung. Aneka kudapan seperti apem jawa, lumpur kelapa, dadar gulung, wajik, lemper ayam, serabi, kue unti, cucur gula merah hingga asinan bisa diborong pengunjung untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

Kudapan lain juga bisa dicicil dari beberapa food truk seperti kopi dari Filosofi Kopi dan burger Bangor. Food truk itu menyebar di taman luar bangunan yang juga ramai disambangi pengunjung. Taman berkonsep terbuka (open space) itu bisa dimanfaatkan pengunjung untuk duduk duduk santai sambil menghirup udara bebas.

Latar Foto dan Kenangan Lapau

Arsitektur mal yang akan berusia 61 tahun pada 23 April itu memancing banyak pengunjung untuk berfoto. Selain karena terasa kekinian seusai direvitalisasi, berbagai sudut di Sarinah memang cantik sebagai latar foto untuk konten di media sosial. Contohnya, relief kehidupan rakyat agraris dan maritim di masa lampau serta galeri foto Sarinah dari masa ke masa di lantai dasar. Di galeri itu, pengunjung bisa
membaca sejarah kehadiran Sarinah dalam surat ”Amanat PJM Presiden Soekarno pada Pemancangan Tiang Pertama Gedung Departement Store Sarinah pada 23 April 1963”. Melalui surat itu, Soekarno menyebutkan harapannya kepada Sarinah sebagai alat penggerak ekonomi dan
penyejahteraan rakyat kecil, khususnya perempuan.

Lalu, di lantai dua terdapat balkon luas. Di sana, pengunjung bisa berfoto dengan latar gedung-gedung tinggi atau perempatan jalan yang sibuk di Jalan MH Thamrin. Suasana itu yang juga menarik Richard (47) dan Yumi (46) untuk menengok Sarinah. Kedua warga Radio Dalam, Jakarta Selatan, itu mengaku senang Sarinah yang dulu tertinggal dari segi pasar dan arsitektur diperbarui dengan nuansa yang lebih modern, namun tetap mengusung lokalitas.

Lantaran memiliki memori masa lampau sebagai anak tongkrongan Sarinah sejak puluhan tahun, keduanya menyayangkan restoran McDonals’s yang sebelumnya ada di sana dan cukup populer harus tutup. Juga Manchaster United Restaurant and Bar (MU Cafe), atau Hard Rock Cafe yang pernah menjadi tempat nongkrong anak muda di tahun 80-90 an. “Dulu, pas tahun 90-an, ini jadi ikon kerennya Jakarta. Kami sama teman-teman, anak muda dari daerah mana-mana di Jakarta, kalau mau kumpul ya di sini. Sekarang, bangga dan takjub karena bangunan ini
dipertahankan, justru lebih bagus lagi,” ujar Yumi.

Di sisi lain Richard punya cerita. Ia mengingat Sarinah hanya menjadi ikon nongkrong, bukan ikon belanja di Jakarta karena kalah dengan mal lain di sekitarnya, sebut saja Grand Indonesia, Plaza Indonesia, dan Thamrin City. Mereka pun berharap Sarinah baru harus memiliki spesialisasi yang mau membuat orang mau terus berkunjung. “Sekarang Sarinah sudah cakep, tetapi mesti ada faktor pendorong lain yang harus buat orang mau datang lagi ke sini,” katanya.

Pengunjung lain, Lhinda Pramudita (25), penasaran melihat Sarinah kini. Ia bersama rekan-rekan kerjanya yang berkantor di Jalan Cikuray, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sengaja datang ke mal itu untuk rehat usai bekerja sembilan jam. “Senang banget sih, akhirnya bisa lihat Sarinah yang baru. Tadinya hanya lihat dari Instagram. Saya bela-belain dari kantor karena jaraknya lumayan dari selatan ke pusat. Tapi pas sampai, sepadan banget. Tamannya bagus, nyaman buat nongkrong terbuka. Jajanannya lumayan banyak jadi ngga booring,” ujar
warga Sawangan, Depok, itu.

Rasa penasaran yang sama mendorong Inayah (29), warga Tanah Kusir, Jakarta Selatan, ke Sarinah. Inayah sangat terdorong untuk melihat produk-produk kerajinan yang masih mengutamakan produk lokal. “Saya terakhir belanja di sini lima tahun yang lalu, waktu itu saya ajak saudara dari Makassar yang kebetulan ikut tanding di Asean Games 2018 untuk belanja suvenir maskot. Sekarang, saya kira ini bakal jadi tempat yang lebih menarik untuk belanja khas Indonesia karena saya dengar di sini seluruhnya menjual produk dalam negeri,” tuturnya.

Lokalitas

Didirikan berdasarkan Akta Nomor 33 tanggal 17 Agustus 1962 dengan nama PT Department Store Indonesia, Sarinah memiliki misi besar untuk menjadi wadah kegiatan perdagangan produk dalam negeri serta mendorong pertumbuhan perekonomian di Indonesia.

Nama Sarinah sendiri diambil dari nama salah satu pengasuh masa kecil Presiden Soekarno, nih. Value mendalam yang berada di dalam nama Sarinah yakni tentang kesabaran jiwa dari sang pengasuh masa kecil Presiden Soekarno.

Dengan demikian, cerminan sosok istimewa itu diharapkan bisa menjadi tekad kuat untuk Sarinah bisa tumbuh menjadi mitra terpercaya bagi usaha kecil. Tak hanya usaha kecil, tetapi juga bagi kekayaan budaya Indonesia di dunia internasional melalui berbagai produk yang dikembangkan dan dipasarkan Sarinah. Untuk mewujudkan misinya yang sesuai dengan amanat dari Presiden Soekarno, Sarinah melakukan promosi barangbarang produksi dari dalam negeri. Fokusnya ialah pada hasil pertanian dan perindustrian rakyat. Hingga kini Sarinah tetap
berkomitmen untuk mendukung kemajuan berbagai produk dari usaha kecil, menengah, serta koperasi.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan renovasi bangunan yang beroperasi sejak tahun 1966 itu sekaligus untuk transformasi bisnis Sarinah kembali ke khitahnya. Memang, dalam sekian waktu gedung Sarinah sudah melenceng dari tujuan awal sebagai wadah pelaku industri kreatif dari usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia. Penghuni Sarinah kebanyakan gerai modern, yang tidak memiliki ciri khas Indonesia. “Inilah Sarinah yang baru, dari Indonesia untuk rakyat Indonesia,” pungkasnya.• [Andrian Saputri]


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here