Top 5 This Week

Related Posts

GREEN AND SUSTAINABLE CAMPUS : ITB KAMPUS GANESHA

Dr. Firmansyah, S.T. M.T. selaku Dosen Program Studi Arsitektur dan Program Studi Magister Arsitektur Lanskap, SAPPK ITB sejak 1997 hingga saat ini merasa senang dan bangga atas masterplan ITB Kampus Ganesha yang mana ia ikut berpartisipasi. Sebab kampus ini menggambarkan bagaimana perwujudan pembangunan yang ramah lingkungan dari berbagai sisinya.

baca juga, DPD AREBI Jakarta Dorong Profesionalisme dan Integritas Broker Properti

Pengurus Nasional Bidang Edukasi dan Akademik – Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia periode 2022-2025 ini mengetengahkan bahwa visi dan misi Kawasan ITB Kampus Ganesha ini adalah sebagai :

1. HUB untuk kampus-kampus ITB di lokasi lainnya selain ITB Ganesha.

2. Ruang-ruang publik sebagai ruang interaksi sosial di dalam lingkungan belajar di ITB Ganesha.

3. Ruang Terbuka Hijau dirancang sebagai Elemen Perkotaan yang meningkatkan peran ITB Ganesha sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau kota.

Strategi pengembangannya sebagai berikut:

1. Prinsip : Mengoptimalkan ruang yang masih dapat dipenuhi di KRK, berdasarkan nilai KDB (Koefisien Dasar Bangunan) dan KLB (Koefisien Lantai Bangunan)

2. Kawasan dibagi menjadi beberapa zona berdasarkan morfologi kawasan dan struktur utama kawasan.

3. Penerapan konsep distribusi luasan yang masih dapat dikembangkan berdasarkan nilai KDB dan KLB dari KRK dalam m2.

4. Komposisi nilai KDB dan KLB yang didistribusikan merupakan simulasi dari usulan tema-tema pengembangan setiap blok pada hasil akhir akan merujuk kepada hasil studi mengenai program ruang yang harus dipenuhi untuk mencapai Universitas 4.0).

5. Nilai KDB, KLB dan KDH merujuk pada luasan pada 08/03/24 setiap blok.

Sedangkan sasaran pengembangannya sebagai berikut:

1. Mengoptimalisasi kapsitas kampus (populasi dan luas bangunan).

2. Merestrukturisasi sistem sirkulasi (kendaraan dan orang) menuju predestrian friendly campus.

3. Meningkatkan kualitas ruangan terbuka publik (hijau dan non-hijau).

4. Fleksibilitas penggunaan bangunan.

5. Memenuhi KDH (Koefisien Dasar Hijau) kawasan dengan perencanaan Ruang Terbuka Hijau dengan pengembangan arsitektur biofilik untuk mencapai green campus (integrasi hijau dengan bangunan berupa atap hijau dan taman vertikal), serta penggunaan material poros pada perkerasan ruang terbuka.

6. Meningkatkan rasio hijau kawasan dengan perencanaan vegetasi berupa penambahan pohon pada hirarki jalan serta semak kawasan.

7. Mengembangan sistem infrastruktur yang handal dalam mendukung kegiatan kampus. Pengendalian limpasan dengan penerapan prinsip bioengineering, antara lain sistem infiltrasi, bioswale, dan taman hujan yang didukung oleh tampungan
kawasan.l

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles