Beranda Liputan Utama AKSELERASI MENUJU EKONOMI HIJAU

AKSELERASI MENUJU EKONOMI HIJAU

Jadi, beragam inisiatif ESG yang dijalankan Bank Mandiri memiliki pijakan yang jelas. Bukan hanya komitmen internal, tetapi juga sejalan dengan ketentuan regulator dan kesepakatan global

0
ekonomi hijau
Citra Amelya Pane Senior Vice President Head of Environmental, Social & Governance Group Bank Mandiri

Dunia sepakat bergerak menuju ke arah ekonomi hijau. Praktik ekonomi hijau berdasarkan prinsip environment, social, and governance (ESG) diyakini sebagai pilar dan masa depan ekonomi. ESG menjadi resep membawa bumi ke arah yang lebih baik, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

baca juga, Synthesis Huis Terus Lansir Klaster Baru

Laju pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk Indonesia tidak bisa dilepaskan dari implementasi ESG. Dengan penerapan ESG, Indonesia bisa mengoptimalkan potensi sebagai salah satu tujuan utama bagi investor internasional dalam berekspansi di wilayah ASEAN. Sekarang, investor cenderung lebih memilih berinvestasi ke sektor-sektor hijau dan berkelanjutan.

”Investor-investor dari luar negeri paling mendukung penerapan ESG di sektor properti. Kami berupaya agar terus membuat terobosan baru untuk mendukung ESG,” ujar salah satu petinggi perusahaan pengembang properti papan atas, belum lama ini.

Ungkapan itu disambut baik oleh sejumlah perbankan dalam negeri yang kian menunjukkan komitmen untuk mendukung pembiayaan berkelanjutan. Senior Vice President Head of Environmental, Social & Governance Group Bank Mandiri Citra Amelya Pane, mengatakan, ada tiga faktor utama yang akan menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertama, penanaman modal asing (PMA) atau foreign direct investment (FDI). Kedua, optimalisasi transformasi dan infrastruktur digital. Ketiga, komitmen pada berkelanjutan alias sustainability.

Bank Mandiri konsisten mendukung prinsip Environment, Social, dan Governance (ESG) dalam seluruh lini bisnis. Hasilnya, bank berlogo pita emas ini telah menyalurkan kredit berkelanjutan sesuai dengan penerapan pembiayaan berkelanjutan sesuai POJK 51/2017 untuk penyaluran Sustainable Portofolio sebesar Rp253 triliun per September 2023 dari total kredit bank, meningkat 14,48 persen dibandingkan dengan tahun lalu Rp221 triliun. Penyaluran yang termasuk kategori pembiayaan hijau mencapai Rp122 triliun atau berkontribusi 24,9 persen dari total pinjaman perseroan.

Penyaluran kredit rupa-rupa. Citra mengambil contoh pembiayaan hijau pada semester I-2023 lalu menyebar untuk membiayai pengelolaan sumber daya alam hayati berkelanjutan sebesar Rp95,6 triliun, energi baru terbarukan Rp8,9 triliun, eco-efficient product Rp4,7 triliun, transportasi ramah lingkungan Rp3,2 triliun, dan bangunan hijau Rp1,8 triliun. Periode tersebut perseroan mencatat pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp242 triliun.

”Bank Mandiri optimistis ke depannya dengan skema pembiayaan tersebut dapat mendorong debitur bertransisi menuju kegiatan usaha yang lebih ramah lingkungan, termasuk pada sektor properti. demi masa depan yang lebih baik, antara lain berpartisipasi aktif mewujudkan bebas emisi atau Net Zero Emission (NZE) pada 2060,” ujar Citra dalam acara diskusi terkait urgensi ESG yang diselenggarakan pengembang Sinar Mas Land, di BSD City, Serpong, beberapa waktu lalu.

Realisasi komitmen Bank Mandiri tersebut sejalan dengan kebijakan taksonomi hijau Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang mengacu pada Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) Indonesia. ENDC merupakan dokumen komitmen Indonesia terhadap aksi iklim yang dikomunikasikan kepada dunia melalui United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

“Jadi, beragam inisiatif ESG yang dijalankan Bank Mandiri memiliki pijakan yang jelas. Bukan hanya komitmen internal, tetapi juga sejalan dengan ketentuan regulator dan kesepakatan global,” lugasnya.

Dukung Nol Emisi

Dalam mendukung pemerintah mewujudkan Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060, Bank Mandiri semakin memperkuat aspek ESG mencakup lingkungan, sosial, dan tata kelola. Perusahaan bahkan telah menargetkan NZE secara Operation pada 2030 dan secara Financing pada 2060.

“Kami berusaha mendorong nasabah menuju Low Carbon Economy. Tidak hanya terkait Sustainable Financing, tapi bagaimana BMRI ini dapat mengimplementasikan ESG dalam setiap kegiatan keseharian bisnis maupun operasional,” ungkap Citra.

Untuk mencapai target tersebut, Bank Mandiri memanfaatkan upaya digitalisasi melalui platform Livin’ dan Kopra. Dus, Perseroan juga melakukan upaya netral karbon melalui pemasangan panel surya, berinvestasi pada kendaraan listrik sebagai mobil operasional, mengembangkan pelacakan karbon digital, dan mentransformasikan kantor cabang fisik.

“Sejak tahun 2021, kami telah menutup lebih dari 200 cabang,” katanya menambahkan.

Dalam aspek lingkungan misalnya, perusahaanya mengklaim menjadi bank pertama di Indonesia yang meluncurkan Kartu Daur Ulang dan Digital Carbon Tracking yang dapat dilihat oleh seluruh stakeholder secara real-time terkait pengurangan emisi operasional Bank Mandiri.

Sementara pada aspek sosial, emiten perbankan berkode BMRI ini menekankan kesetaraan ras dan gender di perusahaan. Dalam hal keberagaman, sebanyak 25 persen dari tim manajemen diisi oleh perempuan. Kemudian, dari jumlah komposisi pemimpin senior, 46 persen diantaranya merupakan perempuan.

Sedangkan pada aspek tata kelola, BMRI berkomitmen besar dalam menjaga privasi data maupun keamanan data. Citra menuturkan, perusahaannya juga turut berkontribusi dalam perdagangan karbon dengan membeli 3.000 ton karbon pada 26 September 2023.

Properti Kecil

Kendati begitu, Citra mengatakan, penyaluran kredit untuk keseluruhan ekosistem sektor properti ramah lingkungan nilainya masih di bawah Rp3 triliun (per semester I-2023).

“Properti masih minim. Di bawah 5 persen untuk green building dari total penyaluran pembiayaan hijau per kuartal dua tahun 2023. Jadi dia masuknya section others. Maka itu kami mengimbau kepada seluruh pelaku industri properti dari hulu ke hilir, efisiensi energi harus bisa dibuktikan jika ingin mendapatkan pembiayaan. Awareness masih minim, begitu pun pengajuan juga minim,” terang Citra.

Ia mengakui masih sangat sedikit proyek properti yang mampu memenuhi berbagai kriteria ESG, bahkan proyek berskala kota sekalipun. Di mata kebanyakan developer, penerapan konsep hijau masih dianggap beban karena akan menambah biaya pengembangan. Sedangkan bagi umumnya konsumen, properti ramah lingkungan adalah isu “atas langit” yang tidak ada kaitannya dengan keseharian hidup mereka.

Maka itu, perlu adanya insentif dari pemerintah bagi perusahaan developer untuk menerapkan konsep berkelanjutan itu secara serius dan konsisten. “Karena banking adalah supporter ekosistem untuk membuat ini terjadi. Akan sangat baik juga insentif itu diberikan untuk sektor riil sehingga project cost yang dibutuhkan lebih mungkin, permintaan pembiayaan ke bank akan diberikan harga yang mendukung. Sebab, rasio non-performing loan (NPL) adalah ketakutan bank nomor satu. Kami tetap akan melihat debitur apakah sustain dalam melakukan repayment
kepada bank,” pungkasnya.l [Andrian Saputri]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini