Home Liputan Utama SERPONG-BALARAJA BAKAL MERAJA

SERPONG-BALARAJA BAKAL MERAJA

123
0
serpong

Selalu menarik bila kita memperhatikan bagaimana sebuah wilayah berkembang, baik secara alamiah ataupun dikarenakan pembangunan infrastruktur yang dapat mengubah arah perkembangan sebuah wilayah. Salah satunya adalah perkembangan wilayah Serpong dan sekitarnya yang seakan tidak ada hentinya berkembang.

baca juga, Permintaan Meningkat, Harvest City Gencar Rilis Produk Baru

Secara umum kawasan Serpong dan sekitarnya sudah memasuki tahap suburbanisasi dengan mulai bertransformasinya wilayah ini menjadi sebuah kota yang tidak hanya berisi perumahan pinggiran kota yang homogen, tetapi juga tumbuh sebagai basis ekonomi campuran dengan jasa dan perdagangan. Padatnya Kota Jakarta mulai membuat pesatnya pertumbuhan wilayah-wilayah penyangga Jakarta. Tidak hanya sebagai penyangga, tapi juga sudah mulai membentuk sebuah kota mandiri.

Banyak penduduk wilayah metropolitan bekerja di dalam wilayah perkotaan pusat, dan memilih untuk tinggal di komunitas satelit yang disebut pinggiran kota dan pergi bekerja melalui mobil atau angkutan massal. Yang lain telah memanfaatkan kemajuan teknologi untuk bekerja dari rumah mereka.

Berdenyutnya perkembangan perumahan di Serpong dipelopori oleh pengembangan kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD) yang terus berjalan hingga saat ini sejak resmi diluncurkan pada 16 Januari 1989. Sebelum itu kawasan Serpong hanya hutan karet yang tidak produktif. Saat ini dikenal dengan sebutan BSD City. Pengembangan BSD City dengan total seluas 6.000 ha diperkirakan masih menyisakan land bank yang cukup besar untuk dapat terus berkembang. Tidak hanya BSD City, beberapa pengembang pun bersamasama mengembangkan proyek- proyek besarnya di wilayah ini, sebut saja Lippo Karawaci, Gading Serpong (Paramount Land dan Summarecon Serpong), Alam Sutera. Selain Serpong, ternyata juga terdapat proyek perumahan Kota Modern yang dikembangkan PT Modernland Realty Tbk. sejak tahun 1983 yang juga dapat disebut sebagai pelopor pembangunan perumahan di wilayah Kota Tangerang. Denyut perkembangan Kota Tangerang dan Serpong ini kian melebar ke barat.

Latar Belakang Serpong

Dikutip dari interaktif Kompas, nama Serpong disebut setiap kali digelar peringatan bersejarah Pertempuran Lengkong setiap Januari. Tugu Pahlawan Pertempuran Lengkong diresmikan pada 17 April 1966 oleh Pangdam V Jaya Brigjen Amirmachmud.

Serpong juga sering disebut-sebut karena di wilayah inilah Pusat Penelitian, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi (Puspiptek) dibangun. Pada 1976, Menteri Negara Riset Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo pada era pemerintahan Soeharto memutuskan membangun Puspiptek di lahan seluas 350 hektar. Presiden Soeharto mengeluarkan surat keputusan pada Oktober 1976.

Sumitro menyebutkan, Puspiptek Serpong dibangun dalam tiga tahap, 1976-1979, 1979-1982, dan 1982-1986. Pembangunan Puspiptek di Serpong, seperti dilaporkan harian Kompas, 19 Januari 1977, dimaksudkan untuk menciptakan iklim yang sehat bagi para peneliti ilmiah di
bidang besar, termasuk bidang teknologi nuklir terapan. Tahun 1986, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Barat (saat itu) Dr Ateng Syafrudin menyatakan, Serpong akan dikembangkan menjadi kawasan permukiman dan kota baru untuk menyangga beban Jakarta yang makin padat. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat membentuk konsorsium real estat yang diketuai Menteri Negara Urusan Perumahan Rakyat.

Perkembangan Infrastruktur

Dalam setiap perkembangan wilayah, peran pembangunan infrastruktur menjadi faktor penting. Dahulu lokasi Serpong masih belum terkoneksi dengan jalan tol, sehingga banyak pembeli BSD City yang dahulu membatalkan pembeliannya karena dirasa sangat jauh dari Jakarta. Pada akhir tahun 1980-an, hanya ada satu jalan tol, yaitu Tol Kebon JerukMerak yang menghubungkan BSD melalui Jalan Raya Serpong ke kawasan barat Jakarta. Sebelum tahun 2000-an pun, wilayah Serpong belum terhubung dengan wilayah sekitarnya dengan baik. Banyak warga harus berputar melalui jalan desa yang gampang rusak dan berkubang pada musim hujan. Warga BSD masih harus melintasi jalan di wilayah Bintaro Jaya karena Jalan Tol Serpong-Jakarta belum dibangun.

Saat ini wilayah Serpong sudah kian terbuka dengan akses melalui Jalan Tol Tomang-Kebon Jeruk-TangerangMerak, Tol JORR (Tol Lingkar Luar) dari Cikampek-Cikunir, ataupun Jalan Tol Lingkar Luar yang menghubungkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta-Ulujami menembus Tol Bintaro-BSD, yang semuanya menghubungkan BSD dengan sejumlah kawasan di Jakarta. Tidak hanya BSD yang diuntungkan dengan semakin terbukanya akses tol ke wilayah Serpong. Pada tahun 2009, dibukanya akses tol Kunciran di KM 15+400 yang terhubung langsung dengan perumahan Alam Sutera membuat secara umum wilayah Serpong semakin terbuka. Rangkaian jalan tol ini pun terhubung dengan Jalan Tol Cengkareng-Batu CeperKunciran dan Tol Serpong-Cinere Seksi I Serpong-Pamulang yang baru beroperasi 1 April 2021. Kedua jalan tol tersebut menjadi alternatif terbaru bagi masyarakat, terutama dari Tangerang, Tangerang Selatan, dan Jakarta Selatan yang hendak menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Tidak hanya sampai disitu, perkembangan infrastruktur mulai melebar sampai ke barat Serpong dengan adanya rencana Tol Serpong-Balaraja. Progres pembangunannya terus dikejar. Saat ini akses Tol Serpong-Balaraja Seksi 1A telah dapat dilalui oleh masyarakat secara fungsional mulai 10 Agustus 2022 hingga 21 Agustus 2022.

Selain akses tol, dahulu hanya ada satu jalur kereta dan stasiun-stasiun kecil yaitu Stasiun Serpong dan Stasiun Rawabuntu. Berbeda dengan kondisi stasiun saat ini. Dengan berkembangnya wilayah ini, terdapat penambahan Stasiun Cisauk yang banyak digunakan para kaum komuter
dari daerah sekitar Serpong ke Jakarta.

Perkembangan Harga

Wilayah barat Jakarta dengan pusat pertumbuhan di Serpong merupakan wilayah dengan perkembangan harga yang sangat pesat. Fenomena luar biasa kenaikan harga properti di wilayah ini terjadi pada kurun waktu tahun 2009 sampai 2012 dengan kenaikan harga rumah yang sangat
tinggi. Bayangkan harga rumah di Alam Sutera seharga Rp 250 jutaan sebelum tahun 2009, melonjak menjadi Rp 1,5 miliaran setelah akses tol langsung dibuka tahun 2009. Tidak hanya Alam Sutera, dampak pembukaan jalan tol ini pun membuat semua harga rumah di wilayah Serpong dan sekitarnya melonjak.

Tak heran para pengembang proyek perumahan dan komersial pun berlomba-lomba membangun proyek permukiman di Serpong. Tengok saja
sepanjang Jalan Raya Serpong telah sesak oleh pintu gerbang perumahan perumahan.

Kenaikan harga pada periode tahun 2009 sampai tahun 2013 mencapai 55,4% per tahun dengan harga tanah rata-rata mencapai Rp 11 jutaan/
m2. Meskipun kemudian melandai, namun pertumbuhan rata-rata sampai tahun 2021 saat pandemi masih bertumbuh cukup tinggi sebesar 22,7%. Diperkirakan saat ini harga tanah ratarata wilayah barat Jakarta ini sudah mencapai Rp 11,9 juta/m2.





LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here