Beranda Liputan Utama SEMAKIN LOKAL SEMAKIN GREEN

SEMAKIN LOKAL SEMAKIN GREEN

Developer Itu Menjual Masa Depan, Walau terjadi tarik menarik antara keuntungan jangka pendek dan jangka panjang, namun bagi developer haruslah berfikir ke depan dan sustainable.

0
semakin lokal
Iwan Prijanto Chairman Green Building Council Indonesia (GBCI)

Angin sepoi-sepoi dengan lembut menyapu tubuh yang terasa gerah selepas menyusuri padatnya jalanan Jakarta. Memasuki hutan kota yang dinamai Urban Forest di bilangan Cipete, Jakarta Selatan, mengingatkan kita pada Djakarta Tempo Doeloe dengan rimbunan pohon nan hijau di sekeliling hunian. Dengan desain landscape yang modern ditambah pelbagai aksesoris dan iconic semakin membuat nyaman para pengunjung. Termasuk kami, tim Majalah Property and the City, yang hendak menemui sang pejuang lingkungan agar lebih sehat, ramah dan nyaman untuk
ditinggali, ia adalah Iwan Prijanto, pemimpin dari lembaga non profit Green Building Council Indonesia (GBCI), member of the World Green Building Council yang satu-satunya diakui sebagai organisasi pengembangan dan perencanaan pembangunan hijau oleh masyarakat global.

baca juga, Paul Sathio-Iwan Sunito, Duo Bos Crown Group Pecah Kongsi

Tak lama berselang kita menunggu sambil menikmati menu klasik nan kolosal dari salah satu kedai (lebih pas dikatakan Café) berkonsep alami, termasuk dari sisi konsep dan sarana prasarananya yang didominasi dengan bangunan kayu, orang istimewa yang kita tunggu itu datang. Dari kejauhan kita merasa akrab, sosok pria paruh baya itu menghampiri dan kita berdiri menyambut dan saling salam bertegur sapa. Pria yang tampil enerjik itu rupanya selalu berusaha mengamalkan apa yang dikatakan dan yang menjadi pemikiran utamanya soal pembangunan yang
berorientasi pada lokal – pada lingkungan – pada penghijauan dan perubahan lingkungan, yang itu menjadi ide besar program yang diusung GBCI, yakni mengurangi penggunaan energi yang dihasilkan dari sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui. Seperti dorongan yang tak bisa disangkal, kekuatan untuk melakukan hidup yang selaras dengan alam adalah hak, bukan sekedar kewajiban atau keharusan. Tapi sudah dengan sendirinya menjadi kebiasaan dalam kehidupan keseharian. Itulah yang tampak dalam diri pria yang kini menakhodai dan instruktur
pelatihan, juga asesor GBC Indonesia ini. Pola hidup ramah lingkungan tak tak hanya dijalankan dalam diri, melainkan terus dikampanyekan dalam pelbagai cara, yang tujuannya: Terciptanya kehidupan dunia yang lebih nyaman. Mewujudkan kota yang hijau dan sehat. Itu bisa tercapai melalui praktik bangunan ramah lingkungan, termasuk penggunaan energi bersih, konservasi air, dan pengurangan limbah.

Perbincangan dengan gaya yang santai mengenai hal yang sangat serius terkait seluk-beluk pembangunan gedung, kawasan, dan rumah yang berorientasi pada lingkungan, juga gaya hidup yang berasaskan penghijauan dan kesehatan, berlangsung dengan riang di tempat yang kompatibel dan berkesesuaian. Konstruksi berbahan kayu dan gaya terbuka bersatu dengan pepohonan besar dan semampai seirama dengan konteks yang dibicarakan dari pikiran ke pikiran dan dari hati ke hati. Sebab ini bukan hanya persoalan hari ini dan esok, tapi lusa dan masa yang akan datang dari kehidupan manusia dan makhluk yang mendiami bumi ini. Sambil sesekali diselingi canda tawa, persoalan yang sangat serius ini membuka pola pemikiran kami (semoga yang membaca tulisan ini juga), bahwa kita saatnya konsisten, berfikir dan bergerak melakukan hal-hal yang berorientasi pada lokal. Bukan hanya dalam pembangunan, melainkan juga sikap dan tindakan kita pada kehidupan ini. Sebab sesungguhnya kehidupan ini ini saling terikat satu sama lain. Jika terjadi ego ingin menguasai dan kuat sendiri, maka malapetaka yang akan timbul. Kehidupan diri tak tenang, lingkungan kering kerontang, dan kemanusiaan melayang.

“Curhatan” keresahan pemikiran terhadap kondisi yang ada dan akan datang tak dirasa sudah melewati satu setengah jam lebih. Nada Ketua IABHI (Ikatan Ahli Green Building Indonesia) periode 2015-2018 yang lugas dan pasti, tapi tak menggurui itu mampu menggerakkan kami untuk terus konsisten berusaha berprilaku dan menyuarakan, juga mengedukasi pada publik terkait pembangunan berkelanjutan dan segala
turunannya.

Ada beberapa pokok pemikiran yang bisa dicatat dan dikedepankan dari pertemuan singkat kami dengan pesohor pejuang lingkungan jebolan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan dan Magister Administrasi Bisnis Sekolah Tinggi Manajemen PPM
ini terkait pembangunan berkelanjutan.

Pertama-tama Iwan Prijanto memposisikan dirinya dengan tegas bahwa “GBCI adalah aset bangsa Indonesia. Sebab GBCI satu-satunya komunitas world green building council yang mewakili Indonesia. GBCI adalah anggota tetap dari world GBC atau semacam PBB dari green building. Artinya, kita punya hak veto, hak vote.

Produk dan jasa kita bisa diakui secara internasional”. Misalnya terkait dengan produk Greenship. Sebuah sistem yang diluncurkan GBCI berdasarkan GREENSHIP Rating Tools sejak tahun 2009. Melalui sertifkasi GREENSHIP, sebuah bangunan mencapai peringkat yang berbeda-beda, mulai dari bangunan bersertifikasi perunggu, perak, emas, dan tertinggi platinum.

Sertifikasi GREENSHIP ini berlaku bagi 6 jenis sertifikasi, yakni Bangunan Baru, Bangunan Eksisting, Ruang Interior, Rumah Tinggal, Lingkungan Sekitar, dan Net Zero Healthy. Secara umum, Sertifikasi GREENSHIP mencakup semua jenis bangunan, di mana setiap jenis sertifikasi memiliki alur berbeda yang harus dilalui oleh pemohon. Adapun 6 dasar yang dijadikan standar GREENSHIP ini adalah :

1. Appropriate Site Development (ASD)
2. Energy Efficiency and Conservation (EEC)
3. Water Conservation (WAC)
4. Material Resources and Cycle (MRC)
5. Indoor Health and Comfort (IHC)
6. Building and Environmental Management (BEM)

Sertifikasi GREENSHIP yang setiap tiga tahun dievaluasi untuk diperbaharui ini lebih banyak bergerak pada sisi sertifikasi kawasan daripada perencanaan atau konsep dan pembangunan gedung apartemen dan perumahan.

Terkait harga perumahan atau Kawasan Gedung yang sudah menerapkan green building, tentu menurutnya sangat hidup. Pertama, Iwan mengingatkan bahwa pengembang itu harus berfikir masa depan, bukan masa kini. “Developer itu menjual masa depan”. Jadi ada garis merah antara building owner dengan building property. Walau terjadi tarik menarik antara keuntungan jangka pendek dan jangka panjang, namun bagi developer, menurut Iwan haruslah “berfikir ke depan dan sustainable”. Walau di awal nampaknya investasi green building itu buang-buang
duit, ke depan nilainya pasti akan terdongkrak. Sebab di masa yang akan datang, kesadaran dan kebutuhan masyarakat akan lingkungan yang lebih sehat dan nyaman itu lebih tinggi.

Sampai pada pemikiran dan prediksi Iwan yang sangat mengkhawatirkan terkait masa depan kehidupan bumi ini yang semakin panas atau perubahan iklim. Banyak negara yang sudah tak bisa memberikan udara yang layak, sehingga mendorong Indonesia untuk tetap menjaga hutan-hutanya sebagai paru-paru dunia dan penyumbang oksegen teratas. Ia mengatakan kalau Indonesia ini dibiarkan begitu saja tanpa adanya gebrakan nyata dan terstruktur dari pemerintah dan stakeholder-nya terkait pemanasan global ini, maka bukan hal yang mustahil kalau 2070, Indonesia ini tak layak lagi dihuni. l[An]


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini