Top 5 This Week

Related Posts

Oman, Hidden Gem Asia Barat Menjelajah Dari Gurun Wahiba Hingga Kabut Hijau Salalah

Ada cara yang keliru ketika membayangkan Timur Tengah: menyamakannya dengan gedung kaca, pusat belanja mewah, jalan raya lebar, dan kota-kota yang dibangun untuk membuat turis terpukau dalam sekali pandang. Oman tidak bermain di wilayah itu. Negara ini memilih pesona yang lebih pelan, lebih tua, dan lebih sunyi. Di sana, petualangan tidak selalu datang dari kemewahan, melainkan dari jalan berdebu yang membelah pegunungan, desa batu yang menggantung di lereng, wadi berair biru di tengah lanskap kering, hingga Salalah yang tiba-tiba menghijau ketika seba­gian besar kawasan Teluk sedang terbakar matahari.

Baca juga, Sambut Libur Sekolah, Mall @ Alam Sutera Gelar “Summer Splash” dan Ragam Aktivitas Keluarga

Bagi traveler yang mencari pengalaman berbeda di Asia Barat, Oman menawarkan sesuatu yang semakin jarang ditemukan rasa perjalanan yang masih “liar”. Muscat, ibu kotanya, menjadi pintu masuk yang tenang. Kota ini berbeda dari Dubai atau Doha. Bangunannya rendah, warnanya bersih, dan ritmenya jauh lebih kalem. Di Mutrah Corniche, kapal-kapal bersandar di tepi laut, sementara aroma rempah dan kemenyan mengalir dari lorong-lorong souq tua. Di kejauhan, benteng Portugis berdiri seperti penjaga masa lalu yang belum mau pensiun.

Namun Oman baru benar-benar terasa ketika perjalanan keluar dari kota. Jalan menuju Nizwa membawa kita pada wajah negeri yang lebih keras dan bersejarah. Benteng tua, pasar kurma, perak, dan rempah menghidupkan ingatan tentang jalur dagang lama. Tidak jauh dari sana, Misfat al Abriyeen memperlihatkan desa pegunungan yang seolah tumbuh dari batu. Rumah-rumah lumpur, kebun kurma bertingkat, dan saluran air tradisional membuat tempat ini terasa seperti halaman yang tersisa dari buku sejarah, tetapi masih bernapas.

Lalu ada wadi, alasan lain mengapa Oman sulit dilupakan. Wadi Shab dan Wadi Bani Khalid seperti kejutan geografis: setelah berjam-jam melihat batu dan tanah kering, tiba-tiba muncul kolam alami berwarna hijau kebiruan. Airnya jernih, tebingnya tinggi, dan perjalanan menuju ke sana memberi rasa petualangan yang cukup mentah. Bukan sekadar turun dari mobil, foto, lalu pergi. Ada langkah kaki, keringat, bebatuan, dan rasa puas ketika akhirnya tubuh menyentuh air dingin.

Baca juga, Kementerian PKP Jamin Bunga FLPP Tetap 5 Persen hingga Akhir Tenor Kredit

Di sisi lain, Wahiba Sands memberi pengalaman Arab yang lebih klasik. Bukit pasir bergulung, kendaraan 4×4, matahari yang jatuh pelan di cakrawala, dan malam gurun yang sunyi. Tetapi untuk Juni dan Juli, Oman perlu dibaca dengan cerdas. Muscat, Nizwa, dan gurun bisa sangat panas pada siang hari. Karena itu, perjalanan harus diatur lebih taktis: aktivitas luar ruang dilakukan pagi atau sore, sementara siang hari digunakan untuk berpindah, beristirahat, atau masuk ke ruang tertutup.

Bintang utama Oman pada periode Juni–Juli justru berada jauh di selatan: Salalah, di wilayah Dhofar. Saat banyak negara Teluk menghadapi panas ekstrem, Salalah memasuki musim Khareef. Kabut turun, bukit-bukit berubah hijau, air terjun musiman muncul, dan suasananya lebih mirip negeri tropis berkabut daripada gurun Arab. Wadi Darbat menjadi salah satu tempat paling kuat untuk merasakan anomali ini. Lembah hijau, air mengalir, dan udara basah membuat Salalah terasa seperti rahasia alam yang sengaja disembunyikan dari peta wisata mainstream.

Oman bukan destinasi untuk mereka yang hanya mengejar mal, pesta, atau foto liburan yang terlalu rapi. Negara ini lebih cocok untuk traveler yang mau berjalan, berkeringat, dan memberi waktu pada lanskap untuk berbicara. Dari benteng Nizwa, desa Misfat, kolam wadi, gurun Wahiba, hingga kabut Salalah, Oman menghadirkan Timur Tengah yang tidak berteriak, tetapi meninggalkan gema panjang setelah perjalanan selesai.

Baca juga, Maruarar Tinjau Lokasi Bedah Rumah di Menteng, Jakarta Kebagian 10.000 Unit BSPS

Kalau ada satu alasan untuk datang ke Oman, alasannya sederhana: negeri ini membuat kita sadar bahwa keindahan Timur Tengah tidak selalu berdiri di balik kaca gedung tinggi. Kadang, ia bersembunyi di celah batu, di lorong desa tua, di air biru sebuah wadi, dan di bukit hijau Salalah yang muncul hanya pada musim tertentu.

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles