Jakarta, propertyandthecity.com — Pusat perbelanjaan di Jakarta mulai mengalami perubahan besar. Mal kini tidak lagi sekadar menjadi tempat berbelanja, tetapi perlahan bergeser menjadi ruang gaya hidup dan pusat pengalaman sosial bagi masyarakat urban.
Tren tersebut tercermin dalam laporan terbaru Colliers Quarterly Property Market Report Q1 2026 sektor ritel Jakarta yang menunjukkan bagaimana pusat perbelanjaan premium semakin mengandalkan pengalaman pengunjung dibanding sekadar transaksi belanja.
Ferry Salanto mengatakan meski tingkat hunian rata-rata pusat perbelanjaan di Jakarta berada di kisaran 73 persen pada kuartal pertama 2026, mal premium dan menengah atas masih mampu mempertahankan performa lebih baik dibanding segmen lainnya.
“Mereka terus menarik brand internasional dan konsumen dengan daya beli tinggi,” ujarnya kepada redaksi.
Menurut Ferry, pusat perbelanjaan kini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup melalui kurasi tenant, penyelenggaraan acara, hingga kehadiran ruang sosial yang tidak bisa digantikan platform digital.
F&B dan Sport Lifestyle Jadi Motor Utama
Colliers mencatat sektor makanan dan minuman (food and beverage/F&B) masih menjadi kategori tenant paling aktif di pusat perbelanjaan Jakarta.
Konsep toko minuman dan restoran yang menggabungkan kualitas produk dengan pengalaman sosial dinilai menjadi daya tarik utama bagi pengunjung, khususnya generasi muda urban.
Di sisi lain, tren gaya hidup sehat juga mulai mendorong ekspansi tenant berbasis olahraga dan sport lifestyle. Meningkatnya minat masyarakat terhadap kesehatan dan kebugaran membuat kategori ini menjadi salah satu sektor yang terus berkembang di pusat perbelanjaan modern.
Baca Juga: Colliers Indonesia Soroti Pentingnya Transformasi Digital dalam Manajemen Properti
Gen Z Ubah Pola Belanja Mal
Laporan tersebut juga menunjukkan perubahan perilaku konsumen, terutama dari kelompok Gen Z yang kini menjadi penyumbang utama trafik pengunjung pusat perbelanjaan.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z dinilai lebih selektif dalam berbelanja dan lebih mengutamakan pengalaman, suasana, serta value produk dibanding sekadar merek.
Kondisi ini membuat sejumlah peritel mulai mengubah strategi ekspansi mereka.
Peritel kini cenderung memilih format toko yang lebih kecil, masa sewa lebih pendek, dan lokasi dengan arus pengunjung tinggi dibanding membuka toko besar dengan biaya operasional tinggi.
Di saat yang sama, tekanan dari platform online dan produk UMKM lokal juga semakin memperketat persaingan sektor fesyen di pusat perbelanjaan.
Mal Fokus Renovasi dan Pengalaman Pengunjung
Alih-alih agresif membangun pusat perbelanjaan baru, pemilik mal kini lebih fokus melakukan renovasi, peremajaan tenant, dan peningkatan pengalaman pengunjung.
Konsep semi-outdoor, area komunitas, ruang interaksi sosial, hingga fasilitas gaya hidup menjadi strategi baru untuk mempertahankan daya tarik pusat perbelanjaan.
Tren okupansi juga memperlihatkan perbedaan yang cukup tajam antar segmen mal.
Mal premium dan menengah atas masih mampu mencatat tingkat okupansi mendekati 90 persen, sementara mal kelas bawah menghadapi penyerapan tenant yang lebih lambat dan kompetisi yang semakin ketat.
Colliers menilai kualitas aset, komposisi tenant, dan kemampuan menghadirkan pengalaman relevan kini menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan pusat perbelanjaan di Jakarta. (*)





















