Top 5 This Week

Related Posts

Lewat BTN Loan Factory, Proses Pengajuan Kredit Kini Hanya 4-7 Hari

Jakarta, Propertyandthecity.com – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN terus mematangkan transformasi digital dalam memproses pengajuan kredit nasabah. Melalui operasional BTN Loan Factory, bank pelat merah yang berfokus pada pembiayaan perumahan ini mengklaim mampu memangkas waktu pemrosesan kredit secara signifikan.

Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengungkapkan bahwa kehadiran sistem terpusat ini berhasil mempercepat proses administrasi kredit yang semula memakan waktu 10 hingga 14 hari, kini ringkas menjadi sekitar 4 sampai 7 hari saja.

Tak hanya lebih cepat, efisiensi sistem baru ini juga mendongkrak performa operasional internal perseroan. Waktu tunggu yang singkat ini dibarengi dengan kualitas akurasi data yang lebih baik.

“Kami terus memperkuat proses bisnis dari hulu hingga hilir agar pertumbuhan kredit yang dicapai menjadi lebih sehat, aman, dan berkelanjutan,” ujar Setiyo Wibowo dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, (07/06/2026).

Pemrosesan Ulang Kredit Berhasil Ditekan di Bawah 15 Persen

Penerapan BTN Loan Factory membawa dampak positif pada indikator produktivitas bank. Setiyo menyebutkan, tingkat straight-through processing atau pemrosesan langsung tanpa hambatan administrasi kini melonjak naik hingga mencapai hampir 70 persen.

Di sisi lain, sistem ini juga efektif meminimalisasi kesalahan input data nasabah. Hal ini terlihat dari tingkat rework atau pemrosesan ulang berkas yang berhasil ditekan hingga di bawah 15 persen.

Setiyo menuturkan, lompatan kinerja operasional tersebut merupakan buah manis dari hasil transformasi menyeluruh yang dilakukan BTN, baik pada fase akuisisi kredit baru maupun dalam pengelolaan portofolio nasabah eksisting yang sudah berjalan.

Terapkan Strategi ‘Cluster Collection’ demi Jaga NPL di Bawah 2,5 Persen

Guna mengimbangi kecepatan proses kredit, BTN memperketat pengelolaan pembiayaan melalui pendekatan cluster collection. Strategi ini merupakan model penanganan kredit berbasis segmentasi risiko, karakteristik unik debitur, serta rekam jejak perilaku pembayaran mereka.

Melalui pendekatan berbasis klaster tersebut, manajemen dapat melakukan langkah-langkah mitigasi risiko secara lebih fokus, cepat, dan efektif, yang meliputi:

  • Proses monitoring berkala terhadap portofolio kredit nasabah.
  • Skema restrukturisasi pinjaman yang tepat sasaran.
  • Prosedur penagihan (collection) yang lebih persuasif.
  • Upaya pemulihan kredit (recovery) yang efisien.

Dengan penguatan kualitas kredit baru dan optimalisasi early warning system (sistem peringatan dini) tersebut, BTN mematok target optimistis untuk kesehatan keuangannya. Perseroan menargetkan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) dapat terus membaik dan terjaga di bawah 2,5 persen pada akhir tahun ini.

Sebagai bank yang mengemban mandat utama pemerintah untuk memperluas pembiayaan perumahan nasional, BTN berkomitmen penuh mendukung akses Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi masyarakat luas. Namun, perluasan akses tersebut dipastikan akan tetap berjalan di atas koridor prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan manajemen risiko yang kokoh.

“Kami akan terus memperkuat disiplin risiko, tata kelola, dan pemantauan portofolio agar kualitas kredit tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang berkembang,” tutur Setiyo. (*)

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles