Home Urban Renewal ADUHAI! SULAP RUPA STASIUN MANGGARAI

ADUHAI! SULAP RUPA STASIUN MANGGARAI

Kawasan Stasiun Manggarai sebelumnya nampak tua dan usang. Belum lagi area penurunan penumpang ojek dan bajai yang semrawut di sana-sini lumayan bikin ruwet pemandangan. Kini, Stasiun tersebut tampil beda. Mirip cafe-cafe instagrammable di kota urban. Banyak spot yang dikonsep unfinish mengikuti tren yang ada.

21
0
STASIUN MANGGARAI

Megah, indah dan nyaman. Mungkin gambaran itu yang terlihat saat menginjakkan kaki di Stasiun Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan. Penampakan Stasiun saat ini merupakan hasil revitalisasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Stasiun Manggarai kini memiliki wajah baru. Terdapat fasilitas pedestrian dan tempat yang menyerupai taman diperuntukan bagi penumpang kereta. Sejumlah pohon dan rerumputan mengubah rupa depan Stasiun hingga terkesan indah dan teduh.

“Keren, sih. Beda banget dari yang lama. Ini kelihatan modern, banyak hijau-hijau. Penumpang juga lebih antusias naik kereta transit di Stasiun Manggarai,” ujar Moudy Busharahil (27), warga sekaligus penumpang kereta, saat ditemui di lokasi, Senin (13/6/2022).

Revitalisasi kawasan Stasiun Manggarai juga dianggap warga menyerupai salah satu tempat di luar negeri. Sehingga warga merasa seolah menyerupai sedang berada di negara lain. “Paling menarik pedestriannya yang sangat rapi dan asri. Jalan kaki jadi lebih nyaman dan senang sepulang dari kantor menuju rumah,” tandas Moudy.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merevitalisasi kawasan Stasiun Manggarai sebagai bagian dari empat stasiun terpadu yang terintegrasi. Tentunya berbagai fasilitas tambahan dihadirkan untuk memenuhi konsep kawasan terpadu itu. Terlihat satu halte bus Transjakarta yang baru dibangun. Posisinya tak jauh dari depan pintu masuk Stasiun.

Sejumlah fasilitas sosial juga tersedia mulai dari mushala, pos polisi, jalur sepeda, plaza orisentasi hingga ada juga halte khusus untuk penumpang ojek berikut pangkalan bajai. Fasilitas-fasilitas inilah yang memudahkan warga untuk menggunakan setiap transportasi umum.

Warga dan penumpang kereta lain, Bernard Sitanggang (29), mengatakan, perbaikan penampakan Stasiun Manggarai seakan menyingkirkan kesan seram. “Sekarang kawasan Stasiun tersebut tidak hanya dapat digunakan sebagai sarana transportasi, tetapi sekitar halaman dapat digunakan tempat rekreasi bersama teman selepas pulang bekerja,” ucap Bernard.

Kawasan Stasiun Manggarai sebelumnya nampak tua dan usang. Belum lagi area penurunan penumpang ojek dan bajai yang semrawut di sana-sini lumayan bikin ruwet pemandangan. Kini, Stasiun tersebut tampil beda. Mirip cafe-cafe instagrammable di kota urban. Banyak spot yang dikonsep unfinish mengikuti tren yang ada.

“Kondisinya sudah bagus. Tinggal kita yang harus sama-sama menjaga dan merawat supaya saat menunggu kereta jadi lebih nyaman dan tidak bosan,” ujar Bernard. Bernard yang merupakan pengguna transportasi umum kerap duduk- duduk santai menunggu ojek online di taman di kawasan stasiun. “Saya naik kereta dari Stasiun Cawang (Jakarta Timur) menuju Stasiun Pondok Ranji (Tangerang Selatan) harus transit dulu di sini sebelum ke Stasiun Tanah Abang. Sambil tunggu kereta suka jajan dulu di sini, duduk- duduk sebentar di taman. Ramai juga banyak anak-anak pada main di sini,” paparnya.

Relokasi Tidak Apa-Apa

Sayang, kecantikan hasil revitalisasi ini dianggap sebagian warga dan penumpang kereta belum sempurna dengan adanya pedagang kaki lima yang masih berjualan di depan Stasiun . Penampakan para pedagang kaki lima bukan semestinya ditertibkan, melainkan harus dibina. Pantauan langsung Property and the City di lokasi, masih banyak pedagang kaki lima yang berjualan di tempat- tempat ‘random’, bukan di satu titik.

“Relokasi saya nggak apa, tapi jangan sampai tidak berjualan. Saya masih punya anak tiga, Bapaknya mereka, juga sudah nggak ada,”

kata salah satu PKL aneka minuman di depan Stasiun Manggarai, Demi (41), saat ditemui Senin (13/6/2022). Demi mengaku sudah tujuh tahun berjualan di depan stasiun itu dan praktis sudah menjadi tulang punggung keluarga.

Senada dengan Demi pedagang lainnya, Maman (38) belum mengetahui ada rencana penertiban di Kawasan Stasiun Manggarai setelah dibuat menjadi Stasiun Sentral. “Belum, belum tahu saya ada begituan,” kata Maman sambil menggoreng telur gulung yang dijajakannya. Ia pun setuju dengan Demi jika relokasi menjadi solusi terbaik untuk para pedagang yang berjualan di daerah Stasiun Manggarai. “Relokasi pokoknya, yang penting jualan dan laku,” tambah Maman.

Mereka berdua belum mengetahui rencana penataan pedagang yang akan dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Penataan pedagang direncanakan untuk mendukung konsep menyeluruh Stasiun Manggarai sebagai stasiun sentral.

Berbeda dengan Demi dan Maman salah seorang pedagang lain, bernama Muis (42) mengetahui rencana penertiban Stasiun Manggarai yang sudah beralih fungsi menjadi stasiun sentral. Perantau asal Slawi, Jawa Tengah, ini berharap penertiban yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dan PT KAI nantinya dapat membuat para pedagang kaki lima di Stasiun tersebut lebih tertata. “Nanti kalau ditata pasti tempatnya akan jadi lebih nyaman, lebih rapi, tidak di pinggir jalan langsung begini,” kata pria yang akrab dipanggil Pak Mis,  itu.

Cagar Budaya

Stasiun Gambir resmi pensiun karena tugasnya kini diambil alih oleh Stasiun Manggarai. Stasiun Gambir kembali menjadi stasiun untuk penumpang kereta api commuter line. Revitalisasi besar-besaran Stasiun Manggarai itu diplot untuk melayani perjalanan jarak jauh. Rencana ini sesuai dengan proyek pengembangan menjadi Stasiun Sentral.

Saat ini pun Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan sudah mengubah jalur transit dengan sistem S05 atau Switch Over 5. Sistem ini merupakan bagian dari perencanaan proyek Double- Double Track (DDT) yang memisahkan jalur Line Bogor, Line Bekasi, kereta bandara, kereta jarak jauh, dan pengaktifan jalur layang.

Ya, Stasiun itu kini memiliki elevated track atau jalur layang untuk melayani KRL rute Jakarta Kota-Bogor dan sebaliknya. Namun sebenarnya di balik tampilannya yang modern, stasiun itu sudah berusia tua. Tahun ini, stasiun Manggarai berusia 103 tahun. Menurut laman resmi KAI, pada 1993 Stasiun Manggarai telah ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya oleh Pemerintah DKI Jakarta. Pembangunannya sudah dimulai sejak 1914 oleh perusahaan kereta api negara Staatsspoor en Tramwegen (SS) yang menguasai jalur kereta di Batavia.

Stasiun itu diresmikan pada 1 Mei 1918. Sejak itu, stasiun tersebut melayani perjalanan kereta ke berbagai daerah. Dalam suasana kemerdekaan pada September 1945, Stasiun Manggarai diambil alih oleh puluhan ribu demonstran dan buruh kereta api setelah melakukan aksi long march dari Stasiun Jakarta Kota.

Di areal stasiun ini, rencana rahasia dipersiapkan untuk memindahkan Presiden dan Wakil Presiden RI ke Yogyakarta. Presiden Soekarno menuju ke sana menggunakan kereta luar biasa pada 1946.

Hingga saat ini, bentuk asli stasiun Manggarai masih dipertahankan meski revitalisasi dilakukan. Dulu desainnya dibuat oleh arsitek Belanda bernama Ir. J. Van Gendt. Kini stasiun Manggarai melayani lalu lintas KRL dan kereta jarak jauh, bahkan rencana aktivitas di

Gambir akan dipindahkan ke sini.•(Andrian Saputri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here