Wibowo Muljono: Kita Mau Tiarap Atau Mengambil Opportunity

Tidak ada magic dalam situasi saat ini, peluang selalu ada dalam seperti ini. Astra Land Indonesia sendiri tetap akan mengeluarkan produk baru dengan business plan yang sudah diubah menjadi lebih konservatif.

0
1149
Wibowo Muljono
Wibowo Muljono, President Director PT Astra Land Indonesia./ Foto: dokpri

Propertyandthecity.com, Jakarta – Wabah Covid-19 telah memporakporandakan sendi-sendi kehidupan dan ekonomi. Dunia sudah dibibir jurang jatuh ke dalam krisis ekonomi yang disebut-sebut lebih parah dari krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008. Tidak ada negara yang bisa sembunyi dari ancaman krisis ekonomi, begitu juga dengan nasib ekonomi Indonesia. Sementara wabah Covid-19 belum ketahuan kapan berakhirnya. Ramalan-ramalan nasib ekonomi Indonesia mulai dari yang moderat sampai yang terburuk terus menghias media-media nasional.

Menurut Wibowo Muljono, President Director PT Astra Land Indonesia, banyak yang mencoba meramalkan masa depan Indonesia, tetapi kadang-kadang kita lupa melihat data karena untuk mencapai krisis ekonomi butuh waktu untuk menentukan. Sementara sekarang ini waktunya belum sampai, masih sekitar 7 sampai 8 bulan lagi. Tetapi tanda-tanda itu sudah terlihat seperti kalau pertumbuhan kita minus. Kalau kita bicara teknis pertumbuhan minus berturut-turut berarti kita sudah krisis. “Kita kelihatannya menuju ke sana, tidak bisa dipungkiri bahwa growth secara ekonomi akan turun,” ujar Wibowo.

Baca: Pasar Perumahan Jabodebek-Banten Drop Rata-Rata 50,1%

Turunnya seberapa masih menjadi tanda tanya semua orang karena pemerintah sendiri mengeluarkan angka penurunan range-nya lumayan besar yaitu dari 2,5 sampai minus. Padahal biasanya pemerintah mengeluarkan angka penurunan hanya 0,1 persen. Sekarang range-nya bisa 2 sampai 2,5 persen angka penurunannya dari best scenario sampai worst scenario.

Lantas apa yang harus dilakukan pengembang dalam kondisi saat ini agar tetap survive. Menurut Wibowo Muljono, ada dua hal yang harus dilihat yaitu yang tidak bisa dikontrol dan yang bisa dikontrol. Yang bisa dikontrol itulah yang bisa dilakukan pengembang dan sangat jelas yaitu uang masuk berapa, uang keluar berapa dan investasi yang kita lakukan berapa. “Jadi, sederhana saja, tidak ada magic yang kami lakukan dalam situasi saat ini,” ujarnya

Ini saatnya bagi pengembang untuk melihat aset sendiri berapa, punya utang berapa, apa saja pengeluaran tahun ini, ke depan revenue seperti apa. Tahun ini mau tiarap, oportunistik atau kita mau agresif. Jangan lupa ada perusahaan-perusahaan yang ekspansi seperti bisnis pengiriman atau logistik yang meningkat drastis dalam kondisi saat ini. Apakah ini suatu oportunistik dari properti masuk ke logistik. Selalu ada sisi dibalik ini, pengembang bisa mengambil opportunity. Tetapi harus dilihat lagi bagaimana kondisi keuangan perusahaan. Kondisi keuangan masuk dan keluar. Baru bisa mengambil keputusan tahun ini mau melakukan apa.

Baca: Penjualan Produk Sharp Tumbuh 155% di Tengah Pandemi Corona

“Saya pikir semua pengembang harusnya menjalankan ini. Ada pengembang yang statusnya banyak utang, mungkin tahun ini mereka harus benar-benar tiarap dan harus minta restrukturisasi. Sementara pengembang yang tidak punya utang atau sudah beres utangnya, bisa beli proyek atau beli tanah. Sekali lagi, setiap orang punya posisi yang berbeda saat ini,” papar Wibowo.

Menurut Wibowo, dalam kondisi seperti ini pengembang jangan malu bertanya pada potential buyer dan data base yang dimiliki. Dari jawaban-jawaban yang masuk ke dirinya, ada potential buyer yang takut dengan situasi saat ini, ada yang bingung karena kebijakan yang berubah-ubah. Pengembang bisa mengatakan kondisi saat ini seperti apa. Tidak bisa langsung “tembak” dengan menyebut harga produk ini sekian. Cara seperti ini bisa jadi langsung ditinggal konsumen. “Bukan karena tidak tertarik, mungkin bila situasinya sudah lewat, konsumen akan tertarik. Tetapi sekarang orang tidak tidak lagi memikirkan properti tetapi yang lain,” ujar Wibowo Muljono.

Terkait kebijakan pemerintah, Wibowo menilai stimulus yang dikeluarkan pemerintah sudah cukup, hanya pelaksanaannya di lapangan seperti apa. Menurutnya ini yang paling penting karena kalau tidak, stimulus itu hanya lips service saja. Saat ini saja para pengembang sudah ada yang berpikir berapa lama bisa bertahan. “Harus diperjelas pelaksanaan stimulus dari pemerintah karena kalau kita tunggu tiga bulan ke depan, siapa tahu ada developer yang bertahan hanya satu bulan. Kalau mau ada keringanan kredit jalankan dengan jelas,” ujarnya.

Baca: Iwan Kumara: Melawan Krisis Dengan Jurus Kadal Buntung

Tentang rencana-rencana Astra Land Indonesia tahun ini, Wibowo menyebut tetap akan mengeluarkan produk-produk baru dengan business plan yang sudah diubah menjadi lebih konservatif. Tentu saja dengan strategi pemasaran yang juga diubah, dan mindset banyak yang harus diganti. Harus jujur dengan karyawan apa yang harus dilakukan dan berapa lama kondisi ini berlangsung. “Revenue mau dinaikin oke, tetapi itu saja tidak cukup, harus disertai cost saving dari operasional, proyek. Dengan ini perusahaan akan survive,” ujar Wibowo. (Hendaru)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here