Sanur, Propertyandthecity.com — Instalasi kolaboratif Tapak Tumbuh: A Landscape in Transformation hadir dalam JIA Curated 2026 di Pantai Pengembak, Sanur, Bali, dengan membawa pendekatan yang menggabungkan material alam, kriya, desain, dan pengalaman spasial.
Instalasi ini mempertemukan Moire Rugs, product designer Eugenio Hendro, serta enam mitra kolaborasi, yakni Planawood, Singres Tiles, Presisi Contractor, Visalux, Fumira, dan Rafes England. Tapak Tumbuh dibuka pada 13 Agustus 2026 dan dapat dikunjungi hingga 17 Agustus 2026.
Alih-alih hadir sebagai booth konvensional, Tapak Tumbuh dirancang sebagai living experimental space yang mengajak pengunjung melihat perjalanan material dari tanah, hasil panen, vegetasi, hingga sentuhan tangan manusia.
Material bumi, limbah sekam padi, tanah, dan vegetasi diterjemahkan menjadi permukaan, struktur, tekstil, dan ruang yang dapat dialami secara langsung oleh pengunjung.
Product Designer sekaligus konseptor Tapak Tumbuh, Eugenio Hendro, mengatakan lanskap dalam instalasi tersebut tidak ditempatkan sekadar sebagai latar.
“Dalam Tapak Tumbuh, lanskap tidak kami pahami sebagai sekadar latar, tetapi sebagai proses yang terus bertumbuh dan bertransformasi dengan tujuan yang jelas,” ujar Eugenio dalam keterangan resminya yang diterima redaksi, (19/08/2026).
Menurut dia, hubungan antara bumi, panen, vegetasi, dan tangan manusia menjadi rangkaian yang membentuk keseluruhan pengalaman ruang.
“Instalasi ini mengingatkan kita bahwa desain terbaik lahir saat kita kembali memahami asal-usul material dan bagaimana ia bernapas di dalam ruang,” katanya.
Empat Lapisan: Earth, Harvest, Vegetation, dan Hands
Secara konseptual, Tapak Tumbuh dibangun melalui empat lapisan utama, yakni Earth, Harvest, Vegetation, dan Hands.
Lapisan Earth menghadirkan permukaan keramik dan mosaik yang mengambil inspirasi dari tanah, retakan bumi, lapisan geologis, serta lanskap pertanian.
Harvest menerjemahkan hasil panen menjadi struktur arsitektural dengan memanfaatkan material dari limbah sekam padi.
Sementara Vegetation muncul dalam bentuk lanskap tekstil berskala besar karya Moire Rugs yang menyerupai pulau-pulau organik.
Hands menjadi titik temu seluruh narasi, tempat produk kolaboratif, furnitur, serta jejak kerja tangan manusia menyatu di dalam satu pengalaman ruang.
Pendekatan tersebut membuat pengunjung tidak hanya melihat material sebagai produk akhir, tetapi mengikuti bagaimana setiap elemen berubah dari bahan mentah menjadi bagian dari desain.
Mosaik Menyimpan Jejak Pembuat
Di area masuk, pengunjung disambut dinding mosaik dari Singres Tiles yang memiliki karakter visual menyerupai jejak tanah.
Setiap tile ditekan secara manual ke dalam cetakan besi sehingga menyimpan jejak fisik pembuatnya.
Pendekatan tersebut menjadikan keramik tidak hanya sebagai material finishing, tetapi juga medium yang merekam proses produksi dan sentuhan manusia.
Plana kemudian membawa material dari arah berbeda.
Material limbah sekam padi dan HDPE daur ulang dikembangkan menjadi permukaan serta elemen struktural untuk menopang instalasi.
Sekam sisa panen yang pada umumnya dianggap limbah diolah menjadi bentuk yang memiliki fungsi arsitektural.
Tekstil Membentuk Lanskap
Baca Juga: Pasar Perkantoran Jakarta Pulih Bertahap, Gedung Premium Catat Okupansi 83 Persen
Moire Rugs menghadirkan elemen vegetasi melalui hamparan tekstil tufted woven vegetation.
Permukaannya dirancang menyerupai lanskap organik dengan variasi relief, tekstur, serta tinggi serat.
Hasilnya membentuk permukaan topografis yang dapat dijelajahi pengunjung dan menjadi penghubung antara elemen tanah, struktur, dan vegetasi.
Presisi Contractor bertanggung jawab menerjemahkan keseluruhan konsep menjadi konstruksi yang dapat dibangun.
Sementara Visalux, Fumira, dan Rafes England melengkapi pengalaman ruang melalui pencahayaan, penyelesaian paviliun, dan eksplorasi fungsi.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa sebuah pengalaman interior atau arsitektural tidak lahir dari satu disiplin saja.
Material, pengerjaan, pencahayaan, tekstil, furnitur, dan teknik konstruksi perlu bekerja sebagai satu kesatuan.
Ada Aktivasi Pound to Grow
Tapak Tumbuh juga menghadirkan program Pound to Grow.
Dalam aktivasi tersebut, pengunjung diajak menumbuk padi menggunakan lesung tradisional sebagai penghormatan terhadap tradisi agraris Bali.
Beras yang dihasilkan hingga hari penutupan kemudian didonasikan kepada keluarga dan pura di Jatiluwih, Tabanan, melalui kerja sama dengan Bali Street Mums Project.
Program tersebut memperluas konsep instalasi dari sekadar pengalaman visual menjadi kegiatan yang menghubungkan material dengan komunitas.
Narasi “dari bumi kembali ke komunitas” menjadi salah satu gagasan utama yang ingin dibawa Tapak Tumbuh.
Material Berkelanjutan Jadi Bagian dari Desain
Tapak Tumbuh juga menunjukkan bagaimana isu keberlanjutan mulai masuk semakin dalam ke dalam praktik desain.

Material daur ulang dan limbah pertanian tidak sekadar ditampilkan sebagai simbol ramah lingkungan.
Bahan tersebut benar-benar digunakan sebagai bagian dari struktur, permukaan, dan pengalaman ruang.
Namun, penggunaan material alternatif tetap membutuhkan pengembangan teknis apabila hendak diterapkan dalam proyek bangunan secara lebih luas.
Ketahanan, umur material, perawatan, keamanan, standar konstruksi, hingga konsistensi produksi perlu diuji sebelum material eksperimental dapat digunakan pada proyek komersial berskala besar.
Dalam konteks pameran, Tapak Tumbuh berfungsi sebagai ruang untuk menguji kemungkinan tersebut.
Desain sebagai Proses, Bukan Hasil Akhir
JIA Curated sendiri merupakan platform yang mempertemukan craft, design, and culture. Tapak Tumbuh menggunakan semangat tersebut untuk menempatkan kolaborasi sebagai bagian utama dari proses desain.
Eugenio mengatakan instalasi ini ingin menunjukkan bahwa kemajuan, kriya, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan.
“Tapak Tumbuh hadir sebagai pengalaman ruang yang mengajak publik melihat desain bukan semata hasil akhir, melainkan proses hidup yang terus bertumbuh dari bumi,” ujarnya.
Pendekatan ini menjadi relevan di tengah meningkatnya perhatian industri arsitektur dan interior terhadap asal material, proses produksi, serta dampak desain terhadap lingkungan.
Bagi arsitek, desainer, pengembang, maupun pelaku hospitality, instalasi seperti Tapak Tumbuh dapat menjadi ruang eksperimen untuk melihat kemungkinan baru dalam penggunaan material lokal, daur ulang, dan hasil samping pertanian. (*)





















