TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING, Surga di Belantara Sampit

0
344
TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING

TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING, Pengalaman liburan Anda akan sangat berbeda, ketika hidup di tengah belantara. Klotok akan menjadi tempat akomodasi yang menyenangkan.

Baca juga, Kementerian PUPR Serahkan Pengelolaan Rusunawa MBR ke Pemkot Gorontalo

Berwisata ke pantai, atau naik ke pegunungan, mungkin sudah pernah Anda lakukan. Kini, saatnya blusukan ke pedalaman hutan Kalimantan, mengenal lebih jauh akan kekayaan alam Indonesia. Di samping beragam tumbuhtumbuhan, berbagai jenis satwa endemik yang mungkin belum pernah Anda temui, bisa disaksikan di sana.

Taman Nasional Tanjung Puting berada di semenanjung barat daya, Kalimantan Tengah, tepatnya Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Pangkalan Bun. Destinasi wisata ini sudah ada sejak Pemerintahan Hindia Belanda, tahun 1937 lalu, yang awalnya bernama Suaka Margasatwa Sampit dengan luas 205.000 hektar. Saat itu, suaka alam tersebut lebih ditujukan untuk perlindungan orang utan (Pongo pygmaeus) dan bekantan (Nasalis larvatus).

Pada tahun 70-an kemudian diubah namanya menjadi Suaka Margasatwa Tanjung Puting, dengan luas area yang ditetapkan ulang menjadi 270.040 hektar. Namun sejak tahun 1978 kembali diperluas menjadi 300.040 hektar. Pada akhirnya tahun 1996, status suaka margasatwa ini berganti menjadi Taman Nasional, seiring diubah fungsinya, dengan luas akhir menjadi 415.040 hektar yang merangkum area Suaka Margasatwa Tanjung Puting 300.040 hektar, kemudian kawasan hutan produksi bekas konsesi PT Hesubazah seluas 90.000 hektar, dan kawasan perairan di sekitarnya seluas 25.000 hektar.

Taman Nasional ini merupakan pusat rehabilitasi orang utan pertama di Indonesia. Tentu, bukan hanya orang utan yang ada di sini, taman ini adalah habitat bagi satwa-satwa endemik serta dilindungi, seperti orang utan, bekantan, lutung merah, beruang, kancil, serta kucing hutan. Selain itu ada juga berbagai jenis burung, berbagai mamalia, dan sejumlah tanaman endemik.

Rute Perjalanan

Sebelum berangkat, pastikan dulu perlengkapan yang akan dibawah. Ingat, ini adalah perjalanan menyusuri hutan, jadi lotion anti nyamuk, jas hujan dan sepatu atau sandal gunung, wajib dibawa ya. Jangan lupa juga, wajib bawah kamera untuk mendokumentasikan petualangan yang seru ini.

Setelah mempersiapkan berbagai peralatan dan perlengkapan tersebut, perjalanan pun dimulai. Dari Jakarta, misalnya, Anda bisa menggunakan pesawat menuju Pangkalan Bun, Ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat. Di sini juga terdapat beberapa lokasi wisata yang memikat, seperti Taman Wisata Alam Tanjung Keluang. Lokasi wisata pantai yang memanjakan mata Anda dengan sunshine dan sunrise. Destinasi wisata lainnya adalah Istana Kuning (Istana Kesultanan Kutaringin).

Kembali ke Taman Nasional Tanjung Puting. Perjalanan selanjutnya adalah menuju Kumai yang berjarak sekitar 16 kilometer. Waktu tempuh perjalanan darat sekitar 30 menit. Lepas itu, perjalanan dilanjutkan dengan menempuh jalur perairan, Sungai Sekonyer, menggunakan kapal tradisional yang disebut Klotok. Sekitar 2 jam, Anda akan tiba di Taman Nasional Tanjung Puting.

Asal tahu saja, di areal taman nasional tersebut tidak tersedia tempat istirahat atau menginap. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keasrian alam di taman nasional tersebut. Segala kebutuhan akomodasi Anda, seperti makan, mandi maupun istirahat, semuanya disediakan dalam kapal atau Klotok. Seru bukan?

Adapun tarif masuk kawasan Taman Nasional Tanjung Puting berbeda antara turis lokal maupun manca negara. Untuk pengunjung dalam negeri dikenakan tarif Rp5.000 per orang di hari kerja. Sementara turis mancanegara berkisar Rp150.000 per orang. Sedangkan di akhir pekan, wisatawan mancanegara dikenakan tarif karcis sebesar Rp225.000 dan WNI Rp7.500 per orang. Bagi Anda yang masih berstatus mahasiswa atau pelajar, tunjukan saja kartu pengenalmu, maka bebas masuk alias free.

Petualangan Dimulai

Petualangan yang penuh sensasi ini sebenarnya sudah dimulai ketika Anda menyusuri sungai bersama Klotok. Sepanjang perjalanan tersebut Anda akan disuguhi pemandangan hutan tropis yang rimbun dan teduh. Bahkan, binatang-binatang liar khas hutan tersebut, seperti monyet bisa Anda saksikan bebas ‘menari’ dan berlompatana dari satu pohon ke pohon lainnya. Bahkan, Sungai Sekonyer pun menjadi habitat bagi buaya. Hati-hati ya…?

Taman Nasional Tanjung Puting merupakan habitat asli bagi orang utan. Di sini juga menjadi lokasi konservasi orang utan terbesar dunia, dimana populasi orang utan mencapai sekitar 40.000. Bahkan, spesies primata
lainnya pun dapat Anda temui di sini, seperti bekantan dan monyet. Tentunya, hewan liar lainnya junga menjadi penghuni hutan tersebut.

Oya, dalam kawasan Taman Nasional Tanjung Puting juga terdapat sebuah desa yang berada di tepi pantai, lho. Desa bernama Tanjung Harapan tersebut dihuni penduduk yang mayoritas adalah para nelayan. Relawan yang bekerja di taman nasional ini juga tinggal di desa tersebut.

Okey, selamat menikmati liburan Anda. Pastinya menenyenangkan!