Industri properti nasional kini masih menghadapi tantangan dari sisi daya beli masyarakat hingga fluktuasi suku bunga, namun PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI tetap menunjukkan optimisme dalam memperkuat pembiayaan sektor perumahan. Melalui strategi ekspansi yang agresif, penguatan digitalisasi layanan, serta dukungan terhadap program pemerintah, KPR BRI mencatat pertumbuhan positif pada penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sepanjang 2025 dan memasang target lebih tinggi pada 2026.
Baca juga, OJK Dorong Penerapan Universal Banking, Ini Sejumlah Keuntungannya
R. Madya Januar, Group Head Consumer Loan BRI mengatakan, total penyaluran KPR BRI sepanjang tahun 2025 mencapai Rp16,2 triliun atau tumbuh 6,31 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar Rp15,2 triliun.
“Pencapaian ini mencerminkan kemampuan BRI dalam menjaga momentum ekspansi kredit perumahan di tengah dinamika industri properti nasional yang masih menghadapi tantangan dari sisi daya beli masyarakat, perlambatan penjualan properti primer, serta kondisi pasar yang cenderung selektif,” ujar Madya Januar.
Kinerja positif tersebut terus berlanjut pada awal 2026. Hingga triwulan I-2026, BRI telah menyalurkan KPR sebesar Rp4,5 triliun. Perseroan pun menargetkan total penyaluran hingga akhir Desember 2026 mencapai Rp20,9 triliun atau tumbuh 29,16 persen secara tahunan (year on year/ yoy).
Menurut Madya, target pertumbuhan tersebut sejalan dengan upaya BRI untuk mendorong pertumbuhan outstanding KPR sebesar 17 persen secara yoy pada 2026.
Ia menilai prospek industri properti Indonesia hingga awal 2026 masih cukup menjanjikan. Stabilitas ekonomi nasional, keberlanjutan program pemerintah seperti FLPP dan program 3 Juta Rumah, serta perpanjangan insentif PPN DTP hingga Desember 2026 menjadi faktor penting yang menopang optimisme sektor perumahan.
“Industri properti Indonesia hingga awal 2026 masih menunjukkan prospek pertumbuhan yang cukup positif, didukung oleh stabilitas ekonomi nasional, keberlanjutan program pemerintah seperti FLPP dan program 3 Juta Rumah, serta kebijakan insentif sektor properti seperti PPN DTP yang diperpanjang hingga Desember 2026,” terangnya.
Segmen Komersial Masih Dominan, KPR Subsidi Tumbuh Signifikan
Dari sisi komposisi penyaluran, KPR komersial masih mendominasi pembiayaan perumahan BRI sepanjang 2025. Dari total penyaluran sebesar Rp16,2 triliun,
sebesar Rp10,5 triliun berasal dari KPR komersial, sedangkan Rp5,6 triliun berasal dari KPR subsidi.
Dengan demikian, komposisi penyaluran KPR BRI berada pada rasio 65 persen untuk segmen komersial dan 35 persen untuk segmen subsidi.
“Struktur ini menunjukkan bahwa pasar hunian komersial memiliki pergerakan volume yang jauh lebih besar hampir di setiap bulannya dibandingkan segmen subsidi,” jelas Madya.
Menurutnya, porsi KPR komersial relatif stabil dan konsisten sepanjang tahun lalu, dengan kontribusi yang terus terjaga di kisaran 60 persen hingga 70 persen. Namun demikian, pertumbuhan signifikan justru terjadi pada segmen subsidi.
“Khusus segmen subsidi, terdapat pertumbuhan hampir dua kali lipat dibandingkan periode tahun 2024, hal ini menunjukkan komitmen BRI dalam mendukung program pemerintah di sektor perumahan dalam hal pembiayaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” ungkapnya.
Peningkatan penyaluran KPR subsidi tersebut menjadi bagian dari komitmen BRI dalam memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat, khususnya kelompok MBR yang menjadi prioritas pemerintah.
Makassar, Jakarta, dan Bandung Jadi Hotspot Penyaluran
Secara geografis, penyaluran KPR BRI sepanjang 2025 hingga triwulan I-2026 masih didominasi sejumlah wilayah yang menjadi kontributor terbesar.
Madya menyebut Makassar menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar di kawasan Indonesia Timur. Sepanjang 2025, realisasi penyaluran KPR di wilayah tersebut mencapai Rp1,8 triliun dan tetap menjadi salah satu wilayah dengan performa bulanan terbaik pada 2026.
Selain Makassar, wilayah Jakarta juga mencatat kontribusi signifikan. Secara gabungan, Jakarta 1, Jakarta 2, dan Jakarta 3 membukukan realisasi yang sangat besar sepanjang 2025.
Jakarta 1 mencatat penyaluran sebesar Rp1,6 triliun, Jakarta 2 sebesar Rp1,5 triliun, dan Jakarta 3 sebesar Rp1,3 triliun.
Sementara itu, Bandung menjadi salah satu penopang utama penyaluran KPR BRI di Jawa Barat dengan total realisasi sebesar Rp1,05 triliun sepanjang 2025.
“Fokus hotspot tetap berada di area Jakarta dan Bandung dengan potensi developer terbesar terutama developer tier 1, sementara akselerasi ekspansi di luar Jawa berpusat kuat di Makassar dan Banjarmasin,” jelasnya.
Selain itu, BRI juga melihat potensi pertumbuhan yang kuat di sejumlah wilayah ekspansi baru. Surabaya dan Semarang menjadi kota dengan volume penyaluran yang stabil dan terus tumbuh hingga April 2026. Sepanjang 2026, rata-rata penyaluran KPR di Semarang tercatat sekitar Rp85 miliar per bulan, sementara Surabaya berada di kisaran Rp63 miliar per bulan.
Di luar Jawa, Banjarmasin muncul sebagai motor ekspansi baru di regional Kalimantan. Sepanjang 2025, wilayah ini mencatat total penyaluran mencapai Rp1,12 triliun dengan tren bulanan yang sangat kompetitif pada 2026, yakni berkisar Rp65 miliar hingga Rp73 miliar per bulan.
Tawarkan Bunga Kompetitif dan Skema Fleksibel untuk First-Time Homebuyers
Untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya pembeli rumah pertama atau first-time homebuyers, BRI menghadirkan berbagai fitur dan skema pembiayaan yang kompetitif.
Madya mengatakan BRI menawarkan kombinasi cicilan ringan, pilihan rumah subsidi pemerintah, hingga dukungan jaringan cabang yang luas guna mempermudah akses masyarakat terhadap pembiayaan rumah.
“KPR BRI memiliki kombinasi penawaran menarik untuk first-time homebuyers mulai dari cicilan ringan, opsi pembelian subsidi pemerintah, dan jaringan cabang yang luas,” katanya.
Salah satu daya tarik yang ditawarkan adalah suku bunga kompetitif mulai dari 1,75 persen fixed satu tahun dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Selain itu, BRI juga menyediakan berbagai pilihan skema kredit yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Nasabah dapat memilih skema bunga berjenjang dengan angsuran yang meningkat secara bertahap, maupun skema fixed all tenor dengan cicilan tetap hingga akhir masa pinjaman.
“Terdapat pilihan skema yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan calon nasabah. Contoh, suku bunga berjenjang sehingga angsuran meningkat secara bertahap. Atau suku bunga fixed all tenor, angsuran tidak berubah sampai akhir jangka waktu, sehingga nasabah dapat melakukan perencanaan keuangan dalam waktu panjang,” ujar Madya.
BRI juga memperkuat layanan digital melalui platform homespot.id yang terintegrasi mulai dari pencarian properti, simulasi cicilan, hingga pengajuan KPR secara online.
“KPR BRI juga memiliki platform digital yaitu homespot.id yang terintegrasi mulai dari pemilihan unit properti dari developer sesuai preferensi, simulasi cicilan, hingga pengajuan,” jelasnya.
Menurutnya, kemudahan layanan digital menjadi faktor penting karena mayoritas first-time homebuyers saat ini berasal dari segmen usia produktif dan generasi muda yang mengutamakan kecepatan dan kemudahan layanan berbasis teknologi.
Jaga Kualitas Kredit Lewat Mitigasi Risiko dan Monitoring Berkala
Di tengah tekanan suku bunga dan kenaikan harga properti, BRI juga terus memperkuat strategi mitigasi risiko guna menjaga kualitas kredit tetap sehat.
Madya mengatakan salah satu langkah yang dilakukan adalah menjaga rasio Loan-to-Value (LTV) pada level aman guna meminimalkan risiko dari kenaikan harga properti.
Selain itu, BRI juga melakukan optimalisasi portofolio dengan menyasar segmen nasabah yang lebih resilient atau tahan terhadap tekanan ekonomi.
Segmen yang menjadi fokus akuisisi saat ini antara lain developer tier 1 dan local champion, nasabah Existing to Bank (ETB), serta segmen FLPP. Menurut Madya, segmen-segmen tersebut memiliki kualitas kredit yang historisnya masih terjaga di bawah tingkat NPL KPR BRI.
Per April 2026, segmen developer tier 1 mencatat outstanding Rp4,2 triliun dengan NPL 1,33 persen. Sementara segmen ETB memiliki outstanding Rp7,9 triliun dengan NPL 2,52 persen, dan portofolio lainnya mencatat outstanding Rp17,4 triliun dengan NPL sebesar 1,27 persen.
“Selain itu, kami melakukan monitoring portofolio secara berkala (portfolio review) guna memastikan pencadangan (NPL coverage) tetap kuat jika terjadi guncangan pasar,” ujarnya.
BRI juga memperkuat pengawasan terhadap developer yang bekerja sama dalam penyaluran KPR. Monitoring dilakukan melalui review developer binaan secara berkala minimal satu tahun sekali untuk memastikan kualitas proyek dan kerja sama tetap terjaga.
Transformasi Digital Percepat Persetujuan KPR
Di sisi lain, transformasi digital menjadi salah satu strategi unggulan BRI dalam meningkatkan akses pembiayaan rumah sekaligus mempercepat proses persetujuan kredit.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah BRISPOT, sistem end-to-end berbasis digital yang mendukung seluruh proses prakarsa kredit, mulai dari pengajuan dokumen, analisis kredit, persetujuan, pencairan kredit, hingga covering asuransi.
“Inovasi dan integrasi teknologi digital memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan akses KPR sekaligus mempercepat proses persetujuan kredit. Di Bank Rakyat Indonesia, transformasi digital telah menjadi salah satu pilar utama dalam pengembangan bisnis pembiayaan perumahan,” ucap Madya.
Melalui BRISPOT, seluruh jaringan BRI di 18 Regional Office di Indonesia dapat memproses KPR dengan standar yang seragam.
Digitalisasi tersebut dinilai membuat cakupan layanan KPR BRI menjadi salah satu yang paling luas di industri perbankan nasional, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan rumah dengan proses yang lebih cepat dan transparan.
Dari sisi Service Level Agreement (SLA), integrasi digital melalui BRISPOT juga meningkatkan efisiensi proses persetujuan kredit secara signifikan.
“Secara umum, persetujuan kredit dapat diselesaikan dalam waktu 3 hingga 5 hari kerja. Bahkan, untuk selected customer serta rekanan developer yang telah memiliki kerja sama dan rekam jejak yang baik, proses persetujuan dapat dilakukan hanya dalam 1 hari kerja,” jelas Madya.
Menurutnya, digitalisasi tidak hanya meningkatkan efisiensi dan akurasi proses kredit, tetapi juga memberikan pengalaman layanan yang lebih baik bagi nasabah sekaligus memperkuat daya saing BRI di industri pembiayaan perumahan nasional.





















