Beranda Property Trend MELIHAT SISI LAIN TREN PEMBELIAN PROPERTI OLEH GEN Z

MELIHAT SISI LAIN TREN PEMBELIAN PROPERTI OLEH GEN Z

0
GEN Z

Bila saat ini kita sering mendengar generasi milenial, tidak lama lagi kita juga akan terbiasa dengan hadirnya generasi Z yang mulai menjadi generasi yang produktif. Generasi Z atau sering disingkat Gen Z adalah generasi yang lahir pada tahun 1995 sampai dengan 2010. Generasi ini sering juga disebut sebagai iGeneration atau generasi internet. Sejak lahir mereka sudah berada pada zaman teknologi yang maju dan terbiasa dengan penggunaan internet sebagai pengguna aktif. Hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berkomunikasi dengan internetnya dengan menggunakan kecanggihan teknologi yang ada. Platform permainan dengan menggunakan teknologi sudah biasa menjadi salah satu cara mereka untuk lebih berkreasi dengan mengeksplorasi sesuka mereka.

baca juga, SERPONG-BALARAJA BAKAL MERAJA, Arah Perkembangan Wilayah

Generasi terdahulunya yaitu generasi milenial telah menjadi pasar yang besar bagi industri properti yang diperkirakan sebesar 25,8% dari total penduduk Indonesia per April 2022 sebanyak 278.752.361 jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Dengan masuknya generasi Z (Gen Z) sebesar 26,5%, maka pasar gemuk industri properti menjadi bertambah besar menjadi 52,3% dari jumlah penduduk Indonesia. Bagaimana para pelaku bisnis properti mengantisipasi besarnya pasar tersebut?

Berbicara rata-rata daya beli generasi Z untuk membeli properti tentunya masih kalah dengan generasi milenial yang telah lebih dahulu memasuki dunia kerja dan berbisnis. Kelompok generasi Z pun belum sepenuhnya memasuki dunia kerja atau untuk mulai berbisnis. Namun faktanya masih banyak juga generasi milenial yang belum memiliki hunian yang dimiliki sendiri.

Berdasarkan survei Indonesia Property Watch pada tahun 2021, pembeli generasi Z (Gen Z)yang membeli properti khususnya hunian, terbilang masih relatif sedikit yaitu sebesar 12,3% dibandingkan generasi milenial yang mencapai 51,1%, generasi X sebesar 29,3%, dan generasi diatasnya 7,3%. Namun demikian prosentase ini meningkat 2 kali dalam 3 tahun terakhir dan diperkirakan akan terus meningkat. Dalam mengembangkan hunian bagi generasi Z, terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi tipe desain hunian mereka berdasarkan rekomendasi Indonesia Property Watch:

• Compact: Luas bangunan hunian tidak terlalu besar, namun cukup untuk beraktifitas. Hampir sama dengan generasi milenial. Juga tidak selalu harus ada ruang tamu yang besar. Jika perlu disiapkan khusus ruang kamar sekaligus didesain sebagai ruang aktifitas.

• Unik: Desain façade didesain dengan unik namun tetap fungsional mengingat generasi Z ini butuh pengakuan dan bersifat ingin mempunyai nilai pembeda pada diri mereka.

• Simple Tidak Ribet: Tidak ada pembatasan antar ruang tamu, dapur, dan ruang makan. Desain yang ditampilkan simple dengan biaya maintenance yang tidak perlu ribet.

• Instan: Generasi lebih menyukai budaya instan. Hunian fully furnished menjadi prioritas pilihan dibandingkan mereka harus menata sendiri atau membeli sendiri furnitur.

• Teknologi: Penerapan teknologi menjadi daya tarik bagi generasi Z (Gen Z). Dari mulai jaringan internet, smart home, dan smart technology lainnya yang menunjang aktivitas mereka.

• Promo: Strategi promosi atau bonus yang berkaitan langsung dengan gadget atau semua yang berbau teknologi.

• Fasilitas: Fasilitas lingkungan dibuat khusus sesuai kebutuhan generasi Z mulai dari desain taman dan semua kelengkapan teknologi yang dapat diterapkan didalamnya.

Tentunya para pengembang tidak mau kehilangan peluang untuk dapat membidik generasi milenial termasuk juga generasi Z (Gen Z). Namun apakah generasi Z sudah mapan secara finansial? Bagi sebagian generasi Z tentunya ada juga yang mempunyai penghasilan cukup untuk membeli hunian. Profesi sebagai content creator, digital marketer, dan lainnya yang berbau teknologi dipercaya dapat mendatangkan penghasilan yang cukup. Namun sebagian lagi tentunya belum cukup untuk dapat membeli hunian. Terlepas dari cukup atau belum bisanya generasi Z ini secara mandiri membeli hunian, maka orang tua dari generasi ini cukup mempunyai peranan untuk membelikan anak-anak mereka aset berupa hunian. Jadi apakah target pasar untuk hunian bagi generasi Z tidak harus generasi itu sendiri. Orang tua mereka dapat menjadi target pasarnya.

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini