Beranda Property Mancanegara KONDISI PROPERTI GLOBAL: JUNGKIR BALIK LAWAN KRISIS PROPERTIDI CHINA, JERMAN, DAN AMERIKA

KONDISI PROPERTI GLOBAL: JUNGKIR BALIK LAWAN KRISIS PROPERTIDI CHINA, JERMAN, DAN AMERIKA

Tantangan properti di China, Jerman, dan Amerika mencerminkan kompleksitas yang beragam, tetapi menandakan adanya tantangan global yang membutuhkan solusi holistik.

42
0
properti global

Tantangan properti di China, Jerman, dan Amerika memperlihatkan realitas yang berbeda namun memiliki kesamaan dalam dampak sosial yang mengkhawatirkan. Sementara China berjuang menghadapi penurunan harga properti baru dan kelebihan pasokan, Jerman menghadapi kekurangan besar apartemen terjangkau yang memicu lonjakan harga sewa dan meningkatnya jumlah tunawisma. Di Amerika, ketegangan antara permintaan yang tinggi dan pasokan yang rendah telah mendorong harga rumah melambung, menyebabkan kesulitan bagi banyak keluarga untuk membeli atau menyewa rumah.

Upaya Pemerintah China Atasi Krisis Properti

Sejak pertengahan tahun 2021, sektor properti China telah bergulat dengan krisis likuiditas, dengan banyak pengembang yang gagal bayar, atau menunda, pembayaran utang karena mereka kesulitan menjual apartemen dan mengumpulkan dana. Perlambatan di sektor yang menyumbang sekitar seperempat perekonomian ini merupakan pukulan besar terhadap kepercayaan konsumen dan investor. Akibatnya, China sekarang dikabarkan sedang melakukan berbagai upaya untuk bisa memulihkan kembali sektor properti di negaranya.

baca juga, Komitmen dalam Pengembangan Properti, BSDE Borong Saham DUTI Senilai Rp69 Miliar

Pemerintah kota Zhengzhou mendorong penduduknya untuk menjual rumah bekas mereka ke perusahaan milik negara dan membeli
rumah baru, dengan harapan menghidupkan kembali pasar properti yang lesu. Tak hanya itu, untuk mengatasi penurunan harga rumah dan
menggerakkan pasar properti, pemerintah kotakota lokal telah diberikan otonomi penuh untuk menyesuaikan kebijakan pasar properti mereka.Langkah-langkah yang diambil termasuk melonggarkan pembatasan pembelian rumah, menurunkan suku bunga hipotek, mengurangi
uang muka, dan memberikan subsidi untuk pembelian rumah. Meskipun demikian, kebijakan ini hanya memberikan dampak jangka pendek yang terbatas. Calon pembeli enggan membeli rumah baru karena khawatir pengembang akan berhutang untuk menyelesaikan proyek dengan tepat waktu.

Kepala Ekonom Greater China di ING, Lynn Song, menyatakan bahwa dengan ketidakstabilan harga properti, properti masih berpotensi menjadi hambatan besar bagi pertumbuhan China pada tahun ini.

Kekurangan Apartemen dan Perumahan Terjangkau Dorong Krisis Sosial

Di Jerman, kekurangan besar dalam pasokan apartemen terjangkau telah menyebabkan harga sewa meroket. Saat ini, Jerman mengalami kekurangan lebih dari 800.000 unit apartemen, dan jumlah ini terus meningkat. Berdasarkan data kantor Statistik Federal Destatis, lebih dari 9,5 juta penduduk, terutama orang tua tunggal beserta anak-anak mereka, tinggal di apartemen yang terlalu kecil.

Sebelumnya, koalisi pemerintah Jerman menargetkan pembangunan 400.000 apartemen baru setiap tahun, termasuk 100.000 unit perumahan sosial terjangkau. Namun, realisasi target tersebut jauh dari harapan. Menurut Ifo Institute for Economic Research, pada 2023, hanya sekitar 245.000 apartemen yang dibangun, dengan perkiraan hanya 210.000 unit yang akan selesai pada tahun ini.

Dikutip dari Deutsche Welle (DW), Direktur Asosiasi Penyewa Rumah di kawasan Bonn dan sekitarnya, Peter Kox mencatat lonjakan anggota di organisasinya, mencapai rekor tertinggi hampir 25.000 anggota. Karena banyak orang terpaksa tinggal di tenda atau tempat penampungan umum akibat lonjakan harga apartemen. Saat ini, diperkirakan ada sekitar 3.500 tunawisma di wilayahnya, sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Ketegangan Antara Permintaan dan Pasokan di Pasar Properti Amerika

Sama hal nya dengan kedua negara adidaya dunia diatas, negara yang saat Sama halnya dengan kedua negara adidaya dunia di atas, negara yang saat ini menjadi negara yang menguasai perekonomian dunia, yakni Amerika Serikat (AS), tengah menghadapi krisis perumahan yang serius akibat lonjakan harga rumah, khususnya di California. Menurut laporan Fox Business pada Selasa (23/4/2024), harga rata-rata rumah di
kota-kota kelas pekerja melebihi angka US$ 1 juta atau sekitar Rp 16,2 miliar per unit.

Berdasarkan data Zillow, California memiliki 210 kota dengan nilai median rumah di atas US$ 1 juta, yang merupakan hampir 40% dari total 550 ‘kota bernilai jutaan dolar’ di seluruh AS.

Kawasan seperti Placentia, Orange, Tustin, Bonita, Cerritos, San Gabriel, San Diego County, dan Los Angeles County mencatat kenaikan harga rumah hingga hampir 12% dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sebagian besar California selatan, harga rumah melonjak antara 12 hingga 17%. Terutama di kotakota seperti La Cañada Flintridge, Irvine, Laguna Niguel, Laguna Hills, dan Poway. Hal ini dipengaruhi oleh suplai yang sedikit dengan banyaknya permintaan rumah di selatan California membuat harga rumah melonjak tajam.

Tantangan properti di China, Jerman, dan Amerika mencerminkan kompleksitas yang beragam, tetapi menandakan adanya tantangan global yang membutuhkan solusi holistik. Dengan adanya tren urbanisasi yang terus meningkat dan ketegangan yang timbul antara permintaan dan pasokan, diperlukan implementasi kebijakan yang cerdas dan inovatif guna mengatasi krisis perumahan dan memastikan aksesibilitas yang terjangkau bagi semua segmen masyarakat. l[Tentya Richyadie]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini