Beranda Liputan Utama JAKARTA DAN BANDUNG, PERCONTOHAN IMPLEMENTASI GREEN BUILDING

JAKARTA DAN BANDUNG, PERCONTOHAN IMPLEMENTASI GREEN BUILDING

ektor konstruksi atau pembangunan gedunggedung merupakan penyumbang terbesar kedua di dunia dalam peningkatan emisi karbon dengan persentasi sebesar 25 persen.

0
jakarta dan bandung

Tahun 2050 Indonesia menargetkan menjadi bangsa yang Net Zero Emissions (NZE). Menuju tercapainya target itu, tentu banyak hal yang perlu dikerjakan. Semua komponen bangsa (pemerintah, organisasi nirlaba, masayarakat secara global) harus terus bahu membahu membantu mewujudkannya.

baca juga, Kerja Sama Strategis Sinar Mas Land dan Astra Land Indonesia, Hadirkan Kawasan Hunian Modern

Menuju cita-cita itu, dikontekskan dengan kondisi saat ini, Dennis Wu, selaku Chief Executive Officer and Executive Director of AEC Group melihat bahwa mewujudkan target itu nampaknya agak berat. Namun di sisi lain juga optimis, jika semua seirama menuju jalan dan tujuan yang sama.

Upaya dekarbonisasi di Indonesia memerlukan kerangka kebijakan yang kuat. Sebab berhubungan dengan memobilisasi teknologi dan investasi di sektor energi terbarukan. Begitupun dari sisi sektor komitmen politik dan kebijakan, harus mendukung penuh.

Menurut Dennis, saat ini Indonesia sedang konsen pada dekarbonisasi ini. Setidaknya ada lima alasan yang menyebabkannya: Kebutuhan pasar atas produk hijau terus meningkat seiring kesadaran green lifestyle dari konsumen untuk menggunakan produk yang rendah karbon. (1). Adanya perubahan iklim dan bencana yang mengakibatkan gagal panen dan krisis air yang mengganggu pasokan bahan baku industri. (2). Adanya regulasi negara tujuan ekspor yang mewajibkan praktik berkelanjutan seperti CBAM (Carbon Boarder Adjustment Mechanism) dan EUDR (EU Deforestation Regulation). (3). Adanya pasar karbon nasional dan menggeliatnya pasar modal dan investasi yang mengadopsi aspek keberlanjutan terutama dekarbonisasi. (4). Terakhir kontribusi terhadap komitmen negara dalam konvensi internasional, antara lain Persetujuan Paris, Konvensi Stockholm, dan Konvensi Minamata (5). Sektor konstruksi atau pembangunan gedung-gedung merupakan penyumbang terbesar kedua di dunia dalam peningkatan emisi karbon dengan persentasi sebesar 25 persen. Inilah yang dikhawatirkan. Kalau ini tidak bisa ditekan melalui berbagai kebijakan, maka emisi karbon dari sektor konstruksi bisa mencapai angka 60 persen di tahun 2060. Sedang suhu panas akan meningkat hingga 2 derajat celcius. Tentu ini sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, umumnya makhluk bumi.

Pada tahun 2022 saja, sektor bangunan dan konstruksi menyumbang sekitar 37% emisi CO2 terkait energi. Kalau melihat data itu, menurut Dennis, perencangan “sektor bangunan dan konstruksi belum berada pada jalur yang tepat untuk mencapai dekarbonisasi pada tahun 2050”.

Untuk itu, harus ada Langkah-langkah nyata untukmengurangi jejak karbon sektor bangunan melalui bangunan hijau (green development). Misalnya:

1. Perencanaan sepanjang siklus hidup suatu bangunan atau komunitas.
2. Mendorong penggunaan bahan ramah lingkungan.
3. Menekankan sistem hemat energi.
4. Mendukung teknologi hemat air.
5. Mengurangi dampak lingkungan secarakeseluruhan.

Upaya penekanan karbon itu setidaknya dicontohkan oleh keberpihakan pemerintahan DKI Jakarta dan Kota Bandung melalui penerapan green building. Jakarta dan Bandung telah memelopori peraturan bangunan ramah lingkungan (green building), sehingga menghasilkan sejumlah besar bangunan yang mematuhi praktik konstruksi berkelanjutan Jakarta: Penegakan aturan tersebut dilakukan melalui penerbitan izin mendirikan bangunan dan/ atau sertifikat kelayakan bangunan, serta penutupan bangunan yang tidak memenuhi kriteria bangunan hijau Jakarta.

Bandung: Terdapat tindakan wajib untuk bangunan besar yang berlaku untuk semua bangunan, serta tindakan sukarela untuk mencapai kepatuhan tingkat bintang satu; Pedoman ini juga mencakup langkahlangkah keberlanjutan tambahan untuk mencapai kepatuhan tingkat bintang dua dan tiga, dengan peluang untuk menerima insentif finansial.

Hasilnya, Jakarta telah mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah bangunan hijau, dengan 339 bangunan yang mematuhi kode bangunan hijau. Bandung, di sisi lain, telah melampaui harapan dengan lebih dari 3.000 bangunan yang mematuhi praktik konstruksi berkelanjutan. Angka-angka ini mencerminkan komitmen kedua kota terhadap menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Bahkan, bukan hanya bangunan pemerintahan dan komersial (perkantoran atau bisnis) yang sudah menerapkan aturan itu, melainkan di sektor pendidkan pun sudah dijalankan. Buktinya Pemprov DKI Jakarta sudah meresmikan empat Sekolah Net Zero Carbon dan green building, (28/9/2022), yakni SDN Duren Sawit 14, Jakarta Timur, SDN Grogol Selatan 09, Jakarta Selatan, SDN Ragunan 08 Pagi, 09 Pagi, 11 Petang, Jakarta Selatan dan SMAN 96 Jakarta, Jakarta Barat.l

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini