Di tengah derasnya pembangunan hunian dan infrastruktur, konsumen kini datang dengan ekspektasi yang berbeda. Mereka tidak lagi sekadar membeli material bangunan, tetapi memilih solusi yang mampu melindungi, mempercantik, dan memberi nilai jangka panjang. Perubahan perilaku inilah yang menggeser arah industri material bangunan memasuki 2026.
Baca juga, BI Optimistis Ekonomi Indonesia Menguat pada 2026–2027
Husodo Hoe, Head of Marketing PT Jotun Indonesia, menilai bahwa konsumen kini tidak lagi mencari produk semata, melainkan solusi yang memberikan nilai jangka panjang.
“Memasuki 2026, kami melihat industri material bangunan bergerak ke arah yang lebih berkualitas (khususnya terkait produk cat), yakni lebih terstandarisasi dan semakin berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Konsumen saat ini mencari solusi, seperti material yang tahan lama, mudah diaplikasikan, dan memberikan nilai tambah dalam jangka panjang,” ujarnya kepada redaksi Majalah Synergy Indonesia, pertengahan bulan lalu di Jakarta.
Perubahan perilaku ini, menurut Husodo, menjadi faktor kunci yang membedakan pemain industri ke depan. Teknologi memungkinkan konsumen membandingkan produk dengan mudah, sehingga kualitas, konsistensi, dan integritas produk menjadi penentu utama keputusan pembelian.
Inovasi dari Efisiensi Lapangan
Dalam merespons perubahan tersebut, Jotun menempatkan inovasi sebagai alat untuk membantu pelanggan bekerja lebih efisien dan produktif. Fokusnya bukan hanya pada peningkatan performa material, tetapi juga pada pengalaman pengguna, khususnya para profesional di lapangan.
“Inovasi selalu kami mulai dari satu pertanyaan sederhana: bagaimana kami bisa membantu pelanggan bekerja lebih efisien, lebih aman, dan lebih produktif,” kata Husodo.
Pengembangan teknologi formulasi diarahkan agar produk lebih tahan lama, lebih hemat dalam pemakaian, serta mengurangi kebutuhan perawatan. Selain itu, desain solusi juga difokuskan untuk mempercepat proses aplikasi, sehingga menghemat waktu dan tenaga kerja, yaitu dua faktor yang semakin krusial di tengah tekanan biaya proyek.
Dari sisi keberlanjutan, Jotun juga terus memperhatikan penggunaan material yang lebih bertanggung jawab, efisiensi energi dalam proses produksi, serta pengembangan produk yang selaras dengan standar lingkungan modern.
“Fokus kami adalah bagaimana mendukung tujuan keberlanjutan pelanggan, sambil terus menekan dampak lingkungan dari operasional kami sendiri,” ujarnya.
Uji Ketahanan dan Laboratorium Global
Tahun 2025 diakui sebagai periode yang menantang. Ketidakpastian pasar, persaingan yang semakin agresif, serta perilaku konsumen yang lebih selektif memengaruhi keputusan investasi dan pembelian di sektor konstruksi dan properti. Untuk menjaga stabilitas bisnis, Jotun menempatkan kedekatan dengan pelanggan dan penguatan rantai pasok sebagai prioritas. “Dengan memahami kebutuhan pelanggan secara lebih dekat dan memastikan ketersediaan produk tetap terjaga, kami dapat merespons dinamika pasar dengan lebih cepat dan disiplin,” jelas Husodo.
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menjaga kualitas layanan sekaligus mempertahankan keandalan distribusi di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Adapun terkait peluang Indonesia di pasar global, Husodo melihat keunggulan justru berangkat dari kompleksitas pasar domestik. Keragaman kebutuhan di setiap wilayah, misalnya dari ketahanan terhadap cuaca ekstrem hingga tuntutan estetika hunian modern, menjadi ruang uji yang sangat kaya bagi produsen lokal.
“Indonesia adalah laboratorium pasar yang sangat lengkap. Ketika produsen mampu memenuhi kebutuhan domestik yang beragam secara konsisten, mereka membangun kompetensi yang kuat untuk bersaing secara global,” ujarnya.
Jika pengalaman ini dipadukan dengan standar mutu internasional, konsistensi produksi, dan inovasi berkelanjutan, Indonesia berpeluang tidak hanya mengikuti tren luar negeri, tetapi juga menjadi pemain yang diperhitungkan di tingkat global.
2026 Fokus Memberi Nilai Lebih bagi Pelanggan
Alih-alih memilih satu fokus sempit, Jotun memandang ekspansi, efisiensi, dan inovasi sebagai elemen yang saling melengkapi. Namun benang merahnya tetap satu: menciptakan nilai lebih bagi pelanggan di setiap segmen.
“Peran kami adalah memastikan produk, solusi, dan layanan Jotun dapat mendukung kebutuhan pelanggan, baik untuk meningkatkan efisiensi di lapangan, memperluas kapasitas bisnis, maupun mendorong inovasi dalam proyek mereka,” kata Husodo.
Ekspansi membuka akses ke lebih banyak segmen, efisiensi memastikan setiap langkah strategis berjalan optimal, dan inovasi menjaga relevansi di tengah perubahan pasar. Dengan pendekatan ini, bisnis material bangunan di 2026 tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling murah, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan solusi yang konsisten, bernilai, dan berkelanjutan. l [anwar andjung]






















