Beranda Berita Properti Beberapa Alasan Properti Masih Melambat

Beberapa Alasan Properti Masih Melambat

24
0
Simak beberapa Alasan Properti Masih Melambat (Foto: Getty Images/iStockphoto/Zephyr18)
Simak beberapa Alasan Properti Masih Melambat (Foto: Getty Images/iStockphoto/Zephyr18)

Property and The City, Jakarta – Pasar properti dirasakan banyak pelaku bisnis masih belum mengalami peningkatan, bahkan selepas pemilu yang sudah dilaksanakan awal tahun 2024. Pasar properti masih diselimuti keraguan yang membuat konsumen mulai menengah-atas sampai bawah belum sepenuhnya bergerak.

Sebelumnya, Indonesia Property Watch pernah memberikan pernyataan seputar pergerakan bisnis properti yang diperkirakan masih akan melambat sepanjang 2024. Para rilis paar perumahan triwulan I tahun 2024, pasar sempat mengalami penurunan 5,0% (qtq) berdasarkan nilai penjualan di Jabodebek-Banten dan turun 10,8% (qtq) berdasarkan unit terjual. Melambatnya aktivitas bisnis properti di awal tahun ditengarai bersamaan dengan masuknya awal bulan puasa dan aktivitas pemilu.

Mendekati semester II tahun 2024, ternyata pasar properti belum juga tumbuh sesuai harapan para pelaku bisnis. Beberapa alasannya dari aspek makro dan mikro yang diperkirakan menjadi sebab pasar properti belum bertumbuh dengan baik.

Pasar Masih Menunggu Pemerintahan Presiden Baru

Sebagian pelaku pasar masih menunggu kepastian struktur pemerintahan baru terkait juga dengan keputusan-keputusan strategis seperti apa yang akan menjadi program unggulan pemerintahan baru. Postur kementerian juga menjadi perbincangan untuk dapat menyakinkan dan menjawab kepercayaan publik. Keyakinan dari pasar sangat diperlukan untuk dapat menjamin pertumbuhan ekonomi yang lebih baik ke depan.

Pasar Masih Menunggu Pilkada Serentak 2024

Meskipun pemilu telah selesai, namun pelaksanaan pilkada masih menjadi isu penting para pebisnis secara umum untuk melihat peta politik dan bisnis di wilayahnya masing-masing. Kesesuaian pemimpin daerahnya dapat membawa harapan untuk memajukan wilayahnya masing-masing.

Daya Beli Masyarakat Menurun

Sebagian besar pelaku bisnis mengingatkan mengenai kondisi daya beli masyarakat yang saat ini. Ekonomi Indonesia tahun 2023 tumbuh sebesar 5,05%, lebih rendah dibanding capaian tahun 2022 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,31%. Penurunan daya beli global dan tren perlambatan pada negara mitra dagang utama Indonesia terutama Tiongkok dan Eropa menyebabkan penurunan drastis terhadap permintaan produk manufaktur Indonesia. Sementara, di pasar domestik, penurunan daya beli dipicu oleh kenaikan BBM serta kenaikan suku bunga.

Pasar Menengah Atas Mengalami Tren Penurunan 

Dominasi pasar perumahan segmen menengah atas yang terjadi, bahkan saat pandemi 2021, masih terus berlanjut sampai 2023. Namun demikian memasuki akhir tahun 2023, terindikasi terjadinya penurunan pembelian segmen menengah atas. Bukan tidak mempunyai daya beli, karena data dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat jumlah tabungan dengan nominal di atas Rp 5 miliar mengalami peningkatan sebesar 9,14% pada April 2024. Fenomena kejenuhan pasar juga sedang terjadi di segmen menengah atas dan pasar akan beralih ke segmen ‘gemuk’ di segmen menengah di kisaran harga Rp500juta sampai Rp1,5miliaran.

Terjadi Mismatch Pasar

Indonesia Property Watch mengamati bahwa perlambatan yang terjadi saat ini tidak semata-mata karena kondisi makro, namun mikro pasar perumahan juga menjadi sorotan. Pasalnya saat ini banyak pengembang yang ‘latah’ untuk membuat produk segmen menengah atas, menyusul gurihnya pasar ini dalam 2 tahun sebelumnya, namun pasar ‘gemuk’ di segmen menengah seakan diabaikan. Yang terjadi adalah mismatch antara pasokan dan permintaan rumah yang menyebabkan pasar melambat bukan dikarenakan tidak ada permintaan, namun tidak ada pasokan yang sesuai dengan daya beli masyarakat.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini