PropertyandTheCity.com, Jakarta– Ketidakpastian ekonomi yang ditandai dengan potensi inflasi ekstrem di tengah tren deflasi berkepanjangan terutama setelah Indonesia mengawali tahun dengan deflasi month-to-month pada lima bulan pertama di tahun 2026, tak hanya mendorong masyarakat untuk lebih waspada dalam mengelola keuangan, namun juga mengharuskan perusahaan pengembang properti untuk tetap dinamis menyusun strategi pemasaran agar produknya terserap pasar dengan baik.
Sebagai salah satu developer properti terbesar di Indonesia, PT Summarecon Agung, Tbk (SMRA) menerapkan sejumlah langkah antisipatif guna menjaga stabilitas pasar properti di tengah kondisi yang penuh tantangan. Hal ini disampaikan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2025 pada hari Kamis, 11 Juni 2026, di Jakarta, dan dihadiri oleh jajaran Direksi, Komisaris, serta Pemegang Saham.
Pada rapat tahunan itu, SMRA mencatatkan kinerja bisnis yang solid sepanjang tahun 2025, ditandai dengan pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Berdasarkan Laporan Keuangan Audited 2025, SMRA membukukan kinerja pemasaran sebesar Rp5,53 triliun, lebih tinggi atau naik 27% dibanding target Rp5 triliun.
“Pertumbuhan yang melampaui target ini menunjukkan bahwa setiap unit bisnis memiliki daya tahan dan kemampuan untuk terus berkembang di tengah dinamika industri. Kami juga tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan biaya agar sejalan dengan pertumbuhan pendapatan,” kata Presiden Direktur Summarecon Agung (SMRA) Adrianto P Adhi.
Sepanjang 2025, SMRA mencatat laba bersih senilai Rp 766,55 miliar, turun 44,18% dibanding 2024 yang mencapai Rp 1,37 triliun. Pendapatan neto perusahaan juga tercatat turun menjadi Rp 8,76 triliun dari Rp 10,62 triliun pada 2024.
Besaran dividen tahun buku 2025 juga lebih rendah dibanding periode sebelumnya, saat SMRA membagikan dividen Rp 148,57 miliar atau Rp 9 per saham dari laba 2024. Selain dividen, total penghasilan komprehensif 2025 dialokasikan ke dana cadangan Rp 11,94 miliar dan laba ditahan Rp 1,09 triliun.
Memasuki 2026, perseroan juga mencatat awal tahun yang positif. Hingga kuartal I-2026, marketing sales telah mencapai Rp 1,2 triliun atau tumbuh 37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kami tetap optimistis menjalankan bisnis properti dengan menghadirkan produk yang inovatif dan berkualitas. Dalam kondisi ekonomi yang menantang, kami juga terus menjaga pengelolaan arus kas dan menjalankan bisnis secara lebih adaptif,” terang Adrianto.
Stimulus Pemasaran

Kinerja ini didukung oleh kontribusi berbagai lini bisnis, khususnya sektor properti development (pengembangan proyek untuk dijual putus) yang tumbuh signifikan seiring penyelesaian sejumlah proyek strategis. Sektor ini menyumbang pendapatan Rp5,51 triliun, disusul segmen Investasi Properti dan Manajemen Rp2,28 triliun, serta segmen Bisnis Lain-lain Rp981,12 miliar yang menjadi recurring income (pendapatan berulang) dari proyek properti sewa seperti perkantoran, hotel dan retail.
Sebagai salah satu developer properti terbesar di Indonesia, Summarecon menerapkan sejumlah langkah antisipatif guna menjaga stabilitas pasar properti di tengah kondisi yang penuh tantangan. Untuk menjaga daya beli kelas menengah, developer turut serta menerapakan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP). untuk pembelian rumah seharga maksimal Rp5 miliar dengan dasar pengenaan pajak hingga Rp2 miliar. Insentif free PPN diberikan 100 persen selama Januari-Juni 2026, dan 50 persen selama Juli-Desember 2026. Insentif diberikan untuk transaksi properti yang sudah siap huni seharga maksimal Rp2 miliar.
Lydia Tjio, Director & Corporate Secretary Summarecon Agung mengatakan, unit-unit baru itu juga juga direncanakan siap dihuni, sehingga tidak hanya memberikan kepastian waktu serah terima, tetapi juga peluang bagi konsumen membelinya lebih hemat dengan memanfaatkan insentif bebas PPN.
“Insentif free PPN 11 persen yang diberlakukan pemerintah menjadi penggerak signifikan permintaan properti tahun ini. Tahun 2025 penjualan properti Summarecon dengan insentif PPN DTP mencapai Rp874 miliar. Kami menargetkan hingga akhir tahun ini penjualan dengan skema PPN DTP bisa mencapai Rp1,6 triliun,” ujar Lydia.
Kejar Fasilitas Mall

Untuk diketahui, Summarecon memiliki 9 township antara lain Summarecon Kelapa Gading, Summarecon Serpong, Summarecon Bekasi, Summarecon Bandung, Summarecon Emerald Karawang, Summarecon Mutiara Makassar, Summarecon Bogor, Summarecon Crown Gading, dan Summarecon Tangerang. Pilihannya beragam dan produknya menjangkau seluruh segmen mulai kalangan milenial, menengah, hingga premium.
“Kami mengelola sembilan townhsip dengan diversifikasi produk dan harga yang variatif sehingga membuat konsumen bisa memilih sesuai daya beli mereka. Ini bagian dari strategi kami saat krisis daya beli,” ucap Adrianto.
Untuk proyek pusat perbelanjaan, Adrianto tak menampik bahwa para peritel kini berhadapan dengan tren belanja online melalui e-commerce atau online shopping. Gerai ritel mesti bisa menawarkan customer experience atau customer journey agar tetap bisa menarik minat konsumen. Meski demikian, ia mengklaim perkembangan mal yang dikelola oleh Summarecon masih dalam situasi stabil.
“Kami serius mengikuti perkembangan mal dari sisi traffic, selalu kita perhatikan setiap hari, kita juga aktif mengundang brand-brand baru, mengadakan event-event dengan harapan akan menambah kepercayaan para tenan dan masyarakat yang berkunjung ke mal kami,” jelasnya.
Perseroan berencana untuk mengembangkan pusat perbelanjaan baru di beberapa kawasan township yang saat ini belum memiliki fasilitas serupa. Salah satu proyek yang dipertimbangkan adalah pembangunan Summarecon Mall di area Summarecon Mutiara Makassar, yang diproyeksikan mulai beroperasi pada tahun 2028.





















