Top 5 This Week

Related Posts

PERADABAN IKN MASA LALU UNTUK MASA DEPAN

Ibu Kota Nusantara (IKN) bukanlah lembaran kosong, dia memiliki catatan hariannya hingga ribuan tahun lalu. Peneliti
mengungkapkan, 8.000 tahun yang lalu peradapan IKN ada yang sudah tinggal di sana, bahkan 500 tahun yang lalu sudah ada industri logam di sana, bahkan pabrik senjata. Saat ini IKN menjadi ikon baru, yang sudah disiapkan ribuan tahun yang lalu baik alam, manusia, dan peradabannya. Titik Nol IKN menjadi tonggak baru menuju Indonesia maju.

Sejarah Hunian

Borneo, pada masa Glasial menjadi satu daratan dengan Pulau Sumatera dan Jawa pada periode waktu 2,6 juta hingga 11.700 tahun yang lalu. Bisa dibayangkan, bisa berpergian di tiga pulau tersebut dengan jalan kaki. Pada masa itu terbentuk jembatan darat yang memudahkan migrasi manusia, begitu pula dengan fauna.

baca juga, Kementerian PKP Gandeng BP Tapera Bangun 5.500 Rumah Subsidi Khusus untuk TNI AD

Jika saat ini melihat karakter budaya, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa tidak memiliki perbedaan yang jauh, termasuk dari segi Bahasa yang memiliki banyak kesamaan, itu menunjukkan mereka adalah satu rumpun yang sama, yang pernah berjalan bersama, yang kemudian menetap dan beranak pinak di berbagai penjuru Nusantara.

Jika merujuk pada data Arkeologi, hunian awal manusia dia Kalimantan berkisar 3.500an tahun yang lalu sudah menghuni. Jejak-jejak mereka saat ini masih bisa ditelusuri melalui peninggalan artefak maupun ekofaknya. Bisa saja ada yang lebih tua hasil temuannya, namun misteri itu masih tersimpan dan belum tersingkap.

Jejak Leluhur di IKN

17 Agustus 2024, Ibu Kota Nusantara (IKN) yang ada di Kabupaten penajam Paser Utara, Kalimantan Timur menjadi sejarah baru bagi Bangsa Indonesia. Presiden Joko Widodo menjadikan Kawasan yang dulunya hutan, menjadi peradaban baru, nah apa yang menarik di dalam IKN yang kini menjadi landmark baru di Indonesia? 19 km arah timur laut dari Titik Nol Kilometer IKN, tepatnya di gunung Parung terdadat situs budaya masa lalu. Saya berangkat dari Logdam menumpang kendaraan melewati jalan logging menuju kaki Gunung Parung. Berjalan melewati hutan ekaliptus lalu masuk ke hutan primer. Gunung Parung yang menjadi Kawasan hutan lindung, ternyata menyimpan memori masa lalu.

Langkah kaki semakin berat, saat harus mendaki bukit dari batuan gamping. Setelah hampir 2 jam perjalanan, saya bersama tim Puslit Arkeologi Nasional (sekarang BRIN) sampai di Mulut Gua Panglima. Hadir hari itu, Prof. Truman Simanjutan dan Prof. Harry Widioanto menginstruksikan kepada para peneliti muda untuk meneroka mencari jejak-jejak permukaan.

Ada beberapa temuan permukaan, berupa tulang belulang yang kemudian diputuskan untuk dilakukan eskavasi atau penggalian. Ada dua kotak yang dipersiapkan untuk dilakukan pengalian senti demi senti, lapisan demi lapisan, yang selalu ditapis dengan hati-hati untuk mencari temuan.

Meskipun ini adalah pekerjaan ilmiah, para tim peneliti tetap memberikan tempat masyarakat lokal dari Suku Dayak Paser untuk melakukan ritual. Para peneliti sangat menjunjung tinggi adab dan etika kepada pemilik peninggalan tersebut. Diadakankanlah ritual doa bersama untuk meminta keselamatan dan perlindungan, yang diakhiri dengan makan bersama sebagai simbol selamatan.

Eskavasi dilakukan mulai pukul delapan pagi dan berakhir pukul empat sore. Bukan seberapa dalam penggalian, tetapi apa temuan dalam setiap lapisan tanah. 14 hari penggalian, hanya sampai pada kedalaman sekitar 2 meter, tetapi sudah cukum membuktikan ada yang pernah tinggal di sini ribuan tahun silam.

Temuan yang spektakuler adalah gigi geraham, yang secara tidak sengaja ikut tersaring saat tanah tersebut diayak. Menurut Paleontolog Dr. Sofwan Noerwidi, ini merupakan gigi manusia yang tinggal di sana. Selaian gigi, ditemukan juga tulang geraham, dan ulna. Temuan ini tidak terbantahkan lagi saat Rully Fauzi peneliti dari BRIN mengambil sampel arang untuk diuji karbon. Hasil dari pengujian karbon (C- 14) memiliki rentang 7.720 hingga 9.400 ribu tahun yang lalu, dan perkiraan pertanggalan untuknya adalah sekitar 8.000 tahun yang lalu.

Dengan demikian, sebelum IKN berdiri 8.000 tahun yang lalu nenek moyang orang Nusantara sudah menghuni dan beraktifitas di sekitaran titik nol kilometer. IKN berdiri, memiliki pondasi masa lalu yang kuat, para leluhur pernah tinggal dan menetap hingga akhir hayat di sana.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles