Top 5 This Week

Related Posts

PERADABAN IKN MASA LALU UNTUK MASA DEPAN

Peradaban di IKN

Kembali menuju 14 km dari titik nol IKN ke arah selatan, tepatnya di Maridan. Pelabuhan kecil di Teluk Balikpapan juga menyimpan sejarah masa lalu yakni jaman logam atau perundagian. Ilmu metalurgi sudah menjadi bagian dari luluhur orang Nusantara. Bagaimana tidak, mereka dimanjakan oleh kekayaan alam, sumber mineral logam begitu melimpah, berikut dengan bahan bakarnya, yang didukung pengetahuan pengolahan logam.

baca juga, Semen Padang Bedah Rumah Warga Miskin Ekstrem di Kota Padang dengan Sepablock

Jika saat ini masih melihat benda tajam seperti parang, kapak, pisau, mata panah, atau alat musik menyerupai gong bisa saja itu adalah hasil mahakarya masa lalu yang berupa ilmu dan pengalaman yang dipakai sampai saat ini. Namun jejak, di Maridan menunjukan masa lalu tentang industri logam itu masih ada. Ini menjadi bukti peradaban di sini tidak kalah ditempat lain, terlebih di sini sudah mengenal budaya logam.

Saat itu, pertengahan tahun 2021 saya bersama Harry Octavianus Sofian, kandidat Doktor dari Universitas Nanterre Perancis yang mengambil kepakaran arkeometalurgi meneliti situs logam di Maridan. Dari temuan awal, banyak sekali ditemukan terak besi di tepian sungai di Maridan. Konon di sini dulu adalah bengkel besi, tetapi sudah tinggan cerita, bahkan tua-tua adat juga hanya mendengar cerita dari leluhurnya. Untuk melihat lebih detail, mas Harry bersama warga lokal melakukan penggalian, yang lokasinya persis di samping balai adat Maridan. Hari pertama belum terlihat, karena harus menyingkap lapisan permukaannya. Hari kedua dan seterusnya, telihat jelas pabrik peleburan besi dan pengolahannya. Temuan terak besi begitu melimpah, bahkan hari itu sudah dua karung beras penuh dengan tahi besi.

Mas Harry mulai menggambar rekronstruksi ruang kerja pande besi. “Mas ini sepertinya tanurnya, ini pipa ububan, lalu di situ ububannya”, mas Hary menunjukan denah pengolahan besi. Dari bukti sejarah, di Kalimantan situs-situs tungku lebur besi yang berasal dari abad ke-15 – 19 masehi, dan sampai saat ini masih ada dengan penambahan alat yang modern.

Jika melihat konstruksi IKN yang modern terlebih dengan Mahakarya Patung Garuda yang dibuat pematung Nyoman Nuarta menjadi bagian dari peradaban logam di Nusantara. Di Sekitar IKN pada 500 tahun lalu, budaya logam sudah mashur dan konon di sini adalah bengkel senjata untuk kebutuhan militer pada masa kerajaan. Bukankah persenjataan adalah teknologi yang canggih dan terdepan hingga saat ini dibanding bidang lain?

Merawat Ekosistem IKN

IKN yang ada saat ini berdiri di kawasana hutan tanaman produksi. Kawasan ini ibaratnya seperti kebun raksasa yang ditanami kayu, sehingga dengan mudahnya vegetasi itu bisa silih berganti, namanya saja hutan produksi. IKN masih menyimpan hutan-hutan adat, selain kawasan hutan lindung masih ada wilayah konservasi yang dikelolan oleh masyarakat.

22 km arah barat daya dari titik nol kilomter IKN, masih terjaga dengan asri hutan adat Sepan. Saya bersama Prof. Wawan Sujarwo dari BRIN mengamati hutan adat ini. Setelah mata terpaku pada homogennya ekaliptus dan sawit yang berjajar rapi, kami menikmati hutan heterogen milik masyarakat adat.

Hutan Sepan menjadi yang tersisa dari hutan hujan tropis di Kalimantan yang secara masif beralih pemanfaatannya. Meskipun hutan ini sudah revegetasi, sisa-sisa kemegahan paruparu dunia masih terlihat. Kesegaran udara dan mikroklimat yang diciptakan menjadikan hawa Kalimantan yang panas terasa sejuk dan teduh di bawah naungan kanopinya.

Sesaat saya dan Prof. Wawan masuk ke hutan, dan sudah diwanti-wanti oleh Kepala Adat di sana. Ada beberapa hal yang boleh dan tidak boleh, terlebih tempat yang dikeramatkan. Sebut saja dengan pantangan.

Kami membuat kesimpulan, konservasi berbasis kearifan lokal melalui budaya ternyata bisa menjaga hutan yang tersisa ini. Jangankan menebang, merambah, atau menjarah isi hutan, masuk ke kawasan hutan adat saja masyarakat berpikir berulang kali karena kawatir dengan akibatnya jika salah langkah.

Kami sebagai orang luar, menyadari inilah cara masyarakat ada menjaga warisan leluhurnya. Dengan cara apalagi selain menempatkan nilainilai luhur dari nenek moyangnya untuk menjaga hutan ini agar tetap lestari. Mungkin cara ini menjadi bagian dari cerita di IKN bagaimana budaya lokal bisa menyelamatkan sabuk hijau katulistiwa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles