Tak Pernah Sepi
Serpong dan Gading Serpong di Kota Tangerang, Banten, yang berbatasan dengan Jakarta Barat dan Selatan, Kabupaten Bogor dan Tangerang, adalah wilayah di megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) yang pengembangan real estatenya dinilai paling kinclong. Alasannya di wilayah itu banyak dikembangkan proyek berskala kota (township) berfasilitas lengkap, dan aksesnya ke Jakarta mudah baik melalui jalan biasa, tol, maupun kereta.
Paramount Land di kawasan Gading Serpong, Tangerang (Banten), baru-baru ini melansir klaster Menteng Grand berisi rumah-rumah besar tipe 328/300 dan 331/375 dilengkapi 4 kamar tidur seharga mulai dari Rp9,8 miliar. Target pasar hunian eksklusif berkonsep urban resort di kawasan Il Lago itu kalangan high end.
Menurut M Nawawi, Presiden Direktur Paramount Land, Menteng Grand dipasarkan setelah dua produk hunian eksklusif sebelumnya sold out. Layaknya hunian mewah, ruang-ruangnya serba luas termasuk carport yang bisa menampung lebih dari 2 mobil. Bangunan rumah didukung material berkualitas premium didukung teknologi smarthome. Begitu pula fasilitas di dalam klaster, serba mewah. Jumlah rumah yang ditawarkan hanya 15 unit.
baca juga , Bingung Memilih Warna Tampak Rumah? Berikut Langkah-Langkah Sebelum Memilihnya
Menteng Grand memiliki 7 keunggulan utama yang menjadikan hunian ini istimewa dan eksklusif. Pertama, Extra Large Private Driveway. Setiap unit memiliki area parkir yang dapat menampung 5-6 kendaraan, yang terdiri dari carport berkapasitas 2 mobil dan dedicated space selebar 4,5 meter untuk parkir mobil tambahan. Dedicated space ini merupakan fasilitas klaster (tidak terhitung dalam luas lahan) yang dapat digunakan penghuni kapan pun dibutuhkan.
Kedua, Spacious Double Living Room layaknya hotel berkonsep resort yang dapat dimanfaatkan penghuni untuk fungsi berbeda, misalnya living room di lantai dasar untuk menerima tamu dan kerabat, sedangkan living room di lantai 2 sebagai home theatre, home office, atau aktivitas yang lebih privat untuk keluarga inti.
Ketiga, Captivating Inner Court. Inner court ditempatkan di tengah lahan, di antara living room dan kamar tidur utama, sehingga setiap ruangan bisa mendapatkan pencahayaan dan penghawaan alami, serta pemandangan ke arah inner court layaknya resort.
Keempat, Resort-style Master Bedroom. Kamar tidur utama ekstra luas selebar lahan ditempatkan di sisi belakang untuk memaksimalkan kenyamanan penghuni dari kebisingan jalan raya. Kamar tidur utama ini dilengkapi berbagai fitur penghalang kebisingan, yaitu double glass, extra thickness aluminium frame, double insulation roof dan high ceiling.
Di sisi lain, SML terus menyorot pentingnya pembangunan berkelanjutan dengan memperluas pembangunan yang ramah lingkungan dan
berkelanjutan hingga ke kawasan residensial terbaru yakni Terravia. Terravia menawarkan konsep “Back to Nature, Enriching Future” yang menawarkan pilihan hunian ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup penghuninya.
Kawasan ini diperkaya dengan ragam fasilitas yang dapat dinikmati warga, mulai dari Green Pathway (jogging track), Concordia Lanes (communal park), Serenita Lane (stepped seating pods dan outdoor gym), dan Lattea Park (amphitheater, children arcade, serta collaboration & working pods).
Kawasan tersebut akan dikembangkan dalam beberapa fase, mulai dari klaster pertama yakni Adora. Klaster ini diperkaya dengan ragam fasilitas yang dapat dinikmati warga, mulai dari ruang terbuka hijau yang terintegrasi (sekitar 2 hektar), fasad berdesain modern dan berkelanjutan, vertical garden, balkon yang ada di tiap master bedroom, ruang keluarga yang luas, smart door lock & air purifier, panel surya, hingga integrated waste management.
CEO Residential BSD – Sinar Mas Land, Theodore G. Thenoch menyampaikan, “Terima kasih atas kepercayaan masyarakat yang terus menunjukkan animo positif terhadap hunian di BSD City. Dengan bangga kami meluncurkan Terravia yang dikembangkan dengan konsep sustainability sehingga warga dapat hidup selaras dengan lingkungan.
Klaster Adora berdiri di atas lahan ± 4 hektare serta dibangun sebanyak 87 unit yang dilego mulai Rp1,9 miliar. Unit di klaster Adora memiliki luas bangunan 93 m2 dengan luas tanah 6×11 m2, dan besaran yang lebih luas di hoek. Setiap unitnya terdiri atas 2 lantai yang dilengkapi carport, ruang keluarga, ruang makan, dapur, master bedroom beserta kamar mandi dalam dan balkon, 2 kamar tidur anak/tamu, serta sebuah
study room yang bisa digunakan sebagai ruang kerja atau menyalurkan hobi.
Mature dan Tetap Untung
Saat ini sektor properti belum pulih menyeluruh, kendati pelemahan pasarnya sudah berlangsung hampir 1 dekade. Namun, berinvestasi properti hingga saat ini masih menarik. Memang, ada surat berharga negara (SBN) yang bunganya lebih tinggi, antara 4,9 – 6,5% per tahun tergantung jenisnya. Tapi, setelah dipotong pajak atas bunganya sebesar 15%, pengembaliannya tetap kecil. Sementara properti, sepanjang developer mampu menawarkan produk yang tepat dan berkualitas baik dengan harga yang rasional sesuai segmen masing-masing, return-nya jauh lebih tinggi daripada itu kendati butuh waktu lebih panjang untuk bisa menikmati hasilnya.
Pengamat Properti Panangian Simanungkalit menegaskan, bahwa suplai properti di Indonesia selalu lebih rendah dibanding kebutuhannya. Itu terlihat dari masih sangat rendahnya kapitalisasi bisnis properti atau rasio penyaluran KPR terhadap PDB di Indonesia yang di bawah 3%, dibanding negara lain yang sudah belasan sampai puluhan persen. Jadi, bisnis properti di Indonesia masih jauh dari mature. Karena itu kalaupun sekarang pasarnya lesu, harganya akan tetap naik. Tinggal bagaimana investor memilih properti yang tepat sebagai investasi dan sabar menunggu momentum melepasnya saat pasar rebound.
Disamping itu, harga properti selalu di atas inflasi. Kalau sekarang saat pasar lesu inflasi sekitar 3% kenaikan nilai properti lebih dari dua kali lipat angka inflasi tersebut. Bunga deposito saat ini memang di atas inflasi juga, sekitar 5-6%. “Tapi, setelah dikurangi pajak bunga deposito 20%, return bersihnya hampir sama dengan inflasi,” ujarnya.
Ketiga, properti bisa dibeli dengan sedikit modal (10– 30 persen dari nilai jualnya berupa uang muka) dengan kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) dari perbankan. Sebaliknya deposito, serta investasi dalam saham, obligasi, emas, dan sejenisnya harus dibayar
penuh. Jadi, kalaupun return investasi properti tidak begitu jauh dari bunga bersih deposito, investor tetap lebih untung karena mengeluarkan modal awal jauh lebih kecil untuk membeli properti.
Kendati properti bukan investasi yang likuid alias tidak serta merta bisa diuangkan, tetapi liquidity risk properti itu menurut Panangian cukup moderat. Alasannya, dilepas dalam situasi mendesak pun harga properti tidak akan di bawah nilai perolehannya. Apalagi, kalau mempertimbangkan modal awal yang jauh lebih kecil untuk membeli sebuah properti, adalah wajar perlu lebih bersabar saat menjualnya.
“Properti tetap menarik sebagai investasi karena ada anomali (fenomena yang sulit dijelaskan secara rasional) di Indonesia. Dalam situasi apapun, harga properti di Indonesia selalu naik karena pasarnya lebih dikendalikan oleh developer (supply driven). Bahkan, saat suplainya berlebihan, harganya tidak jatuh karena investor tidak lantas ramai-ramai melepas propertinya seperti di negara maju. Mereka tetap menahannya,” terangnya.
Kepercayaan orang Indonesia terhadap nilai properti yang diyakini harganya selalu naik, membuat properti masih menjadi aset utama mereka. “Harganya tidak pernah berfluktuasi tajam seperti harga surat-surat berharga atau emas. Kalaupun ada properti yang turun harganya, skalanya terbatas di beberapa lokasi atau proyek,” imbuhnya.
Meski begitu, investasi properti masih menarik kalau lokasinya masih di kawasan berkembang, mudah diakses, dekat dengan area bisnis, perkantoran, perdagangan, industri, pendidikan, hiburan, dan sejenisnya, dan dikembangkan oleh developer dengan reputasi yang baik.l [Andrian Saputri]





















