Home Travel and City DANAU DUA RASA LABUAN CERMIN

DANAU DUA RASA LABUAN CERMIN

1412
0

DANAU DUA RASA LABUAN CERMIN

Danaunya tidak begitu besar, namun sangat jernih dan mempunyai air asin dan air tawar yang tidak bercampur.

Sebenarnya saya sudah lama memimpikan untuk bisa mengunjungi Danau Labuan Cermin di Desa Biduk-biduk. Apalagi kalau bisa dilanjutkan berkeliling ke pulau-pulau di Kabupaten Berau. Lokasinya toh masih di Kalimantan Timur, provinsi yang sama dengan kota saya tinggal, Samarinda.

Tapi, setelah mencari informasi ke teman yang sudah pernah kesana, ternyata untuk ke Biduk-biduk tidak semudah yang dibayangkan. Alternatif pertama, saya mesti terbang dulu ke Berau, dilanjutkan perjalanan darat 5-6 jam melalui jalur Berau-Talisayan-Biduk-bidukmemakai transportasi umum dari Terminal Berau. Alternatif kedua,melalui perjalanan darat dari Samarinda, dengan waktu sekitar 11 jam untuk sampai ke Biduk-biduk. Kalau start dari Balikpapan berarti tinggal ditambah 2-3 jam lagi. Saya memilih alternatif kedua ini.

Perjalanan dari Samarinda kami mulai saat sudah tengah hari, dan langsung menuju Bengalon setelah melewati Bontang dan Kutai Timur. Bontang ke Bengalon relatif lancar karena jalan masih ramai dan lumayan bagus walau ada beberapa tempat yang sudah berlubang dan longsor, dan sekitar pukul 18 saya sampai di Bengalon. Saya memang berencana menginap rumah saudara, walaupun di Bengalon ada beberapa penginapan. Melanjutkan perjalanan malam sangat riskan karena banyak melewati perkebunan sawit dengan banyak persimpangan.

Pagi hari berikutnya sekitar pukul 6 saya sudah melanjutkan perjalanan. Perjalanan dari Bengalon menuju Kaliorang selama 1,5 jam ini agak ‘menyiksa’ karena jalannya rusak dan sebagian masih dalam perbaikan. Walaupun memakai mobil 4×4 tetapi tetap saja terasa goncangannya. Sepanjang perjalanan sebagian besar adalah hutan dan kebun masyarakat. Baru setelah melewati Simpang Kaliorang menuju Kaubuh perjalanan lancar kembali karena jalannya baru selesai diperbaiki.

Dari Kaubuh saya harus menyeberang di penyeberangan sungai dengan perahu, biayanya Rp 250.000 untuk mobil beserta penumpangnya. Setelah ini, jalan yang saya lalui adalah jalan logging kayu yang sudah diperkeras, tetapi sepertinya sudah tidak terlalu aktif karena di kiri-kanan dan sejauh mata memandang sudah menjadi perkebunan sawit. Jarak sekitar 25 km itu saya lalui dengan tiga kali bertanya karena banyaknya persimpangan. Keluar dari jalan logging barulah bertemu jalan aspal mulus dan sekitar pukul 11 siangsaya sampai di plang Selamat Datang di Desa Wisata Biduk-biduk.

Keindahan pemandangan di sini sudah terasa. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi tertata rapi, dengan sungai-sungai kecil yang jernih memotong jalan. Rumah-rumah di pinggir pantai yang walaupun kecil dan terbuat dari kayu tapi terasa asri, karena rapi dengan rumput hijau yang menyejukkan mata. Lelah perjalanan panjang sekitar 11 jam langsung hilang.

Ada tiga penginapan di Biduk-biduk yang cukup layak, ber-AC dan juga kamar mandi di dalam. Tetapi karena hari ini Jumat dan kami tidak booking dahulu, penginapan dengan harga Rp.200.000/malam penuh semua. Akhirnya kami menginap di homestay dengan fasilitas kipas angin dan kamar mandi diluar, tarif Rp.100.000/malam.

Wisata Danau Labuan Cermin dikelola oleh warga desa secara swadaya. Selain menyediakan penginapan, penduduk juga menyediakan kapal kayu untuk mengantar wisatawan menuju lokasi danau. Untuk rombongan, tarif kapal hanya Rp 10.000/orang. Namun jika sewa penuh,tarifnya Rp 100.000 pergi-pulang. Mereka juga menyewakan alat snorkel dengan tarif Rp.50.000/set.

Setelah berperahu sekitar 15 menit dari bagian muara teluk ke arah hulu, sampailah kami di Danau Labuan Cermin, setelah melewati bagian seperti lorong yang lebarnya sekitar 3-5 meter. Wahhhh… airnya jernih sekali, tenang, dan sangat asri dengan pohon-pohon rindang yang mengelilingi danau. Hilang sudah letih selama perjalanan, luluh bersama kesegaran air danau.Apalagi pengelola wisata Danau Labuan Cermin juga rajin menjaga kebersihan danau. Mereka rutin memunguti seluruh sampah yang biasanya ada di sekitar dermaga kayu di dalam area danau. Tak heran, danau ini selalu terlihat bersih meski sering dikunjungi banyak wisatawan domestik.

Bagian atas air danau ini tawar seperti air danau pada umumnya, karena memang ada air sungai yang masuk di salah satu ujung danau. Namun beberapa meter di bawahnya adalah air asin, karena danau ini dekat dengan muara teluk. Kedua jenis air ini tidak bercampur. Bila menyelam, kita akan menemukan sebuah batas lapisan antara keduanya yang menyerupai awan.

Danau Labuan Cermin memiliki warna air danau yang hijau bening. Bahkan dari atas permukaan danau,  ikan dan dasar danau bisa terlihat jelas. Apalagi ketika matahari bersinar cerah, sinarnya mampu menembus hingga dasar danau. Itu sebabnya warga sekitar menamai danau ini dengan tambahan ‘cermin’. Setelah puas snorkeling, kami pun berganti baju di tempat yang tersedia di dekat danau, dan kembali ke penginapan.

Sore itu, dalam perjalanan pulang ke penginapan, kami dimanjakan dengan pemandangan pantai yang meneduhkan hati. Rumah-rumah berjejer di pinggir pantai dengan pohon-pohon kelapanya yang menjulang tinggi, dan anak-anak kecil yang riang-gembira bermain. Kami juga sempat berhenti untuk bermain ayunan di pohon kelapa bersama mereka. Sungguh suasana yang ‘mahal’ bagi orang kota, tetapi menjadi menu sehari-hari anak Desa Biduk-biduk. Desa ini juga punya garis pantai yang membentang panjang dengan pasir putih dan lautnya yang jernih dan biru, meski tampaknya pantai ini belum dikelola dengan maksimal.

Pagi hari berikutnya, setelah sarapan, kami menuju Teluk Sulaiman di ujung Desa Biduk-biduk. Hanya sekitar 15 menit berperahu, kami sudah sampai di teluk yang panjang sekali dan kanan-kiri dibentengi oleh jajaran pegunungan. Di Teluk Sulaiman ini terdapat banyak ikan laut yang diburu para pemancing warga lokal Biduk-biduk. Ada sebuah dermaga kayu berukuran besar di sekitar teluk, di ujungnya banyak warga yang memancing ikan sambil menghabiskan waktu. Pemandangan teluk yang indah terkadang mampu menghibur si pemancing meski kail belum membuahkan hasil.

Setelah puas menyusuri Teluk Sulaiman, kami menuju Pulau Kaniungan Besar, yang perlu kami tempuh sekitar 40 menit dari Teluk Sulaiman dengan kapal yang kami sewa Rp 600 ribu/hari.Kami sempat singgah dulu ke Teluk Sumbang untuk melihat air terjun dan juga bermain di pantai berpasir putih yang tak kalah indah.

Pulau Kaniungan Besar mempunyai pantai pasir putih dengan pohon kelapa yang menjadi ciri khas pantai-pantai indah di indonesia. Selain bersantai di pantai dengan minum air kelapa muda, kita juga bisa snorkeling, meski saat kami berkunjung ini cuaca kurang begitu bagus, sehingga air laut terlihat agak keruh. Tetapi terumbu karang dan ikannya cukup bervariasi.

Semakin siang arus laut semakin kencang, sehingga kami mengakhiri snorkeling dan kembali ke penginapan. Sekitar pukul 2 siang kamipun bergerak kembali menuju Samarinda. Terasa berat meninggalkan Desa Biduk-biduk dengan danaunya yang ‘tembus pandang’, lautnya yang biru kehijauan dan juga pohon-pohon kelapa yang asri dan kini seakan berlari menjauhi mobil kami yang terus melaju. (Jkt,3/3/2016)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here