Setelah pandemi, pasar mencatat ada akselerasi pertumbuhan penyerapan KPR hingga dua digit. Ini tentu menjadi tantangan juga bagi BRI, bagaimana pertumbuhan KPR BRI sejauh ini?
baca juga, Ruko Sorrento Grande West, Sudah Ludes Sebelum Diluncurkan
Kalau kami lihat angka pertumbuhan di nasional masih 8 persen pada tahun 2022 lalu, tetapi BRI sendiri akselerasi growth mampu di angka 12% pada 2022, melampaui rerata pertumbuhan nasional. Catatan kami, pada Desember 2021 nilainya masih di angka Rp39,1 triliun, namun pada akhir 2022 kami sudah di angka Rp43,9 triliun, kenaikannya 12%.
Itu termasuk KPR untuk mendukung program FLPP?
Benar. Kami masuk di komersial dan rumah subsidi.
Bicara setelah pandemi, boleh jadi tantangannya justru di tahun 2023 ini. Bagaimana Anda melihatnya?
Kalau kami lihat tahun 2023 itu ada empat faktor yang akan menjadi tantangan ke depan. Pertama, kenaikan inflasi, kedua kalau dari global ada ancaman resesi itu juga akan menjadi salah satu faktor yang nanti akan berpengaruh. Kemudian ketiga, sekarang tren suku bunga acuan Bank Indonesia sedang naik sehingga kami harus menyesuaikan, faktor keempat, sepertinya di semester dua nanti orang-orang sudah mulai
bersiap untuk tahun politik. Itu akan menjadi tantangan tersendiri.
Resesi global memang memungkinkan, namun fundamental daya beli bukannya tetap terjaga? artinya, di tahun ini terlepas dari tahun politik kemungkinan masih tumbuh?
Kemungkinan masih tumbuh. Kami masih positif melihatnya di tahun 2023. Apalagi melihat data dari Kementerian PUPR Dirjen Pembiayaan Infrastruktur dan Perumahan yang menyatakan bahwa masih ada backlog perumahan sebanyak 12,7 juta. Maka itu, kami masih optimis untuk memasarkan produk-produk KPR terutama ke kalangan end-user.
Suku bunga acuan memang naik, namun di sisi lain suku bunga perbankan relatif belum tumbuh setinggi itu. BRI bagaimana?
Sampai per akhir Maret 2023 lalu kami masih belum menyesuaikan, tapi per 1 April kami sudah menyesuaikan karena ini regulasi pemerintah. April lalu kami mengeluarkan suku bunga fix 5 tahun 5,88%.
Paling banyak dipakai konsumen fix 1,2,3 atau 5 tahun?
Umumnya di sekitar 3 tahun karena biasanya setelah itu take over. Kami juga ada program untuk nasabah yang sudah bekerja sama dengan kami, itu bunganya bisa lebih rendah lagi. Bahkan lebih bagus dari kompetitor kami, yaitu di 1 tahun fix 2,65%, untuk fix 5 tahunnya 4,65%. Kami bisa jual di angka itu.
Jadi memang ada likuiditas, suku bunga Bank jadi lebih menarik ?
Iya betul. Jadi memang tergantung dari masing-masing perbankan dengan likuiditasnya, dengan biaya dananya juga.
Kendati tren bunga sedang naik, namun bungabunga perbankan di Indonesia relatif masih menahan dan terjaga. BRI sendiri apakah ada program KPR unggulan yang disukai konsumen sehingga pertumbuhannya kreditnya masih terjaga?
Momen lebaran lalu kami luncurkan KPR Lebaran, kami berikan bunga 2,88% fix 1 dan 5 tahun 5,88% untuk nasabah umum. Masyarakat yang ingin membeli rumah biasanya tidak hanya melihat bunga, tapi angsurannya juga ingin cepat selesai dan simple. Nah, kami punya satu mortgage ecosystem platform, yaitu homespot. id. Ini adalah aplikasi digital yang bisa diakses oleh masyarakat Indonesia yang ingin mencari rumah. Kami bekerja sama dengan 900 pengembang untuk 1.300 proyek di seluruh Indonesia dengan rerata nilai properti Rp500-700 jutaan, sehingga masyarakat kalau ingin mencari rumah di wilayah manapun bisa. Misalkan, kantornya pindah ke Karawang, bisa cari rumah di aplikasi ini lalu cek-cek mana yang cocok harga dan lokasinya.
Masyarakat juga langsung bisa mengajukan di homespot.id, bahkan dapat simulasi untuk menghitung suku bunga tertentu dengan jangka waktu ambil contoh 10 tahun, berapa angsurannya.
Yang mengakses homespot.id berapa banyak?
Apakah trennya sudah mengarah ke digital?
Setiap ada penambahan developer yang bekerja sama dengan kami, selalu kami minta untuk memasukkan proyek yang sedang dipasarkan ke dalam database homespot,id. Kami minta untuk selalu update sehingga informasi dan daftar rumah yang kami tawarkan melalui homespot.id selalu terbaru dan update. Secara nasional, rentang usia yang paling mendominasi di 20- 40 tahun. BRI mengacu dari report kami, penjualan
terbesar 65% di usia 25-40 tahun. Jadi sepertinya cocok platform digital ini mereka yang menyasar.
Data Indonesia Property Watch melihat ada pertumbuhan pembeli usia di bawah 25 tahun (Gen Z), terlepas dia dibiayai oleh orang tuanya atau tidak. Bagaimana menurut Anda?
Sudah mulai kelihatan. Kalau lihat trennya kemarinkemarin mereka masih ingin menambah pengalaman wisata, beli gadget, kulineran, untuk investasi mereka belum tertarik. Kita mulai di 2021 kemarin, bikin property expo tema kami sudah “Melangkah ke Rumah Sendiri”. Kami sudah menyasar milenial dan gen z karena di usia yang masih muda tentu dengan kesehatan mereka yang masih bagus tersebut bisa memberikan jangka waktu kredit yang masih bisa panjang sehingga angsurannya masih bisa ringan.
Milenial teriak suku bunga tinggi, mereka seperti
ketakutan. Bagaimana tanggapan Anda?
Kebutuhan mereka membeli rumah untuk ditinggali, rasanya dengan program DP 0%, suku bunga rendah dan jangka waktu fleksibel, harusnya terjangkau. Yang penting mereka sudah fix income. Jadi, tunggu apalagi, segera kunjungi homespot.id dan segera pilih hunian favorit Anda karena ada banyak benefit, suku bunga menarik dan akses mengajukan kredit pemilikan rumah yang cepat. Ada juga hadiah Brizzi 2,5jt untuk
masyarakat yang mengajukan KPR di BRI. Mari, Melangkan ke Rumah Sendiri !• [Andrian Saputri]