EFEKTIFKAH GANJIL GENAP?

0
613

Penerapan aturan ganjil genap tidak akan berjalan efektif tanpa disertai dengan perbaikan transportasi massal. Masyarakat tidak dapat dipaksa untuk beralih ke moda transportasi umum bila dirasa masih belum efektif, nyaman, dan aman.

Jumlah kendaraan di Jakarta pada awal tahun 2017 mencapai 11 jutaan kendaraan yang sebagian besar didominasi oleh motor sebesar 68,9 persen, mobil 23,6 persen dan selebihnya bis, kendaraan barang, dan kendaraan khusus. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah mengatakan pertumbuhan kendaraan baru di Jakarta mencapai 1.500 unit setiap hari. Angka ini berdasarkan data dinas pajak DKI Jakarta, yang didominasi oleh motor sebanyak 1.200 unit, dan kendaraan roda empat atau lebih sekitar 300 unit per unit.

Selain itu Direktur Eksekutif Perhimpunan Studi Pengembangan Wilayah, Syahrial Loetan memperkirakan ada 18 juta kendaraan bermotor di Jakarta yang lalu lalang. Jika seluruhnya berbarengan di jalan maka dapat dipastikan semuanya tidak akan dapat berjalan karena macet total.

Hal inimembuat jalanan di Jakarta dibayangi kemacetan setiap hari. Kebijakan ganjilgenap saat ini menjadi salah satu alternatif yang dianggap dapat sedikitmenyelesaikan kemacetan di Jakarta meskipun belum dapat dipastikan efektifitasnya.

Bahkan,kini aturan ganjil genap diperbarui dengan menambah rute-rute baru yang bakalterkena aturan ganjil genap dan akan diterapkan pada 9 September 2019 ini.Kontan, penambahan rute ganji genap ini menimbulkan pro kontra di masyarakat.Walaupun latar belakang penambahan ini karena polusi udara di Jakarta yangsudah dalam taraf berbahaya bagi kesehatan. Polusi udara di Jakarta dianggapsebagai imbas dari banyaknya kendaraan bermotor di Jakarta.

Di satusisi sebagian menilai kebijakan ini akan membuat masyarakat beralih ketransportasi umum. Namun tentunya menjadi pertanyaan seberapa siap sistemtransportasi masal di Jakarta apabila ingin memaksa masyarakat beralih darikendaraan pribadi ke angkutan umum.

CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda menilai penerapan aturan ganjilgenap tidak akan berjalan efektif tanpa disertai dengan perbaikan transportasimasal. Masyarakat tidak dapat dipaksa untuk beralih ke moda transportasi umumbila dirasa masih belum efektif, nyaman, dan aman. “Harus ada perbaikantransportasi umum dulu baru aturan (ganjil genap – red) diterapkan. Jadi pola pikirnya jangan dibalik, “ jelas Ali.

Denganjaringan transportasi massal yang sudah terintegrasi maka masyarakat akandengan sendirinya beralih. Seperti diketahui saat ini belum semua transportasiumum dapat terintegrasi dengan baik. Dari satu moda ke moda lain membutuhkanwaktu tunggu yang cukup lama. Bahkan, lebih lama dibandingkan bila menggunakankendaraan pribadi walaupun dalam keadaan macet. Karena umumnya bila terjadikemacetan, maka pengguna transportasi massal seperti TransJakarta pun terjebakmacet dan tidak dapat dengan segera menjadi jalan alternatif. Sebagianmasyarakat akan tetap menggunakan kendaraan pribadi dan mencari jaluralternatif. Dengan demikian maka diperkirakan kemacetan di jalur alternatifakan semakin tinggi.

Perluasanrute ganjil genap yang akan menjangkau pusat-pusat perdagangan seperti kawasanGajah Mada, Hayam Wuruk, Sisingamangaraja dan Panglima Polim, yang notabene merupakan jalur sibukperdagangan juga akan memberikan tekanan bagi para pedagang. Sangat mungkinomset perdagangan di kawasan tersebut akan mengalami penurunan, seiringdibatasinya kendaraan pribadi. Apakah ini tidak dipikirkan oleh Pemda DKIJakarta?

SebagaiGubernur DKI Jakarta, Pak Anies sebaiknya dapat memberikan solusi yang terbaikdengan melakukan perbaikan transportasi dengan cepat dan seksama dan bukanmenimbulkan masalah baru bagi Kota Jakarta dan bagi masyarakatnya.