Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) selesai membangun Alun-Alun Pondok Aren di Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangsel.
baca juga, Penghargaan Properti Pacu Developer Rancang Proyek Terbaiknya
Pembangunan Alun-Alun Pondok Aren ini diapresiasi banyak warga, karena menjadi destinasi wisata dan area berkumpul gratis
bagi masyarakat setempat.
Seperti yang diutarakan warga Puri Bintaro Hijau, Weni Adriyanti. Ia mengungkapkan kegembiraannya tatkala Alun-Alun Pondok Aren
rampung dibangun dan seluruh fasilitasnya sudah bisa digunakan warga.
“Sebagai warga Pondok Aren, saya mengapresiasi upaya Pemkot Tangsel yang terus membangun fasilitas-fasilitas publik semacam ini. Kami sebagai warga juga mengucapkan terimakasih kepada pak Walikota yang telah mencetuskan ide dan program pembangunan Alun-Alun ini,” ujar Weni ditemui Kamis, 14 Maret 2024, dinukil dari Radar Banten.
Weni berharap Alun-Alun Pondok Aren akan terjaga kebersihan dan kenyamanannya. Ia juga meminta agar petugas kebersihan dan trantib dihadirkan di tempat ini, mencegah kotornya tempat tersebut. “Harapannya mungkin sama ya, semuanya ingin agar Alun-Alun Pondok Aren
tetap terjaga kebersihan dan kenyamanannya,” jelasnya.
Apresiasi juga disampaikan oleh Haikal, seorang warga Parigi. Haikal mengaku senang dengan fasilitas olahraga yang ia nilai cukup lengkap. “Fasilitas olahraganya cukup lengkap ya, jadi gak perlu ke gym lagi nih,” ujar Haikal. Sebelumnya Walikota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, hadirnya Alun-Alun Pondok Aren dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam aktifitas masyarakat, seperti berolahraga, berkumpul, menggelar acara dan masih banyak lagi.
“Kami akan terus berupaya keras untuk menangkap setiap kebutuhan masyarakat seperti apa. Apa yang dapat kami persembahkan melalui instrumen pembangunan ini bagi masyarakat sesuai kebutuhannya,” jelas Benyamin. Benyamin berharap dengan adanya penambahan ruang terbuka hijau ini, masyarakat dapat menjaganya dengan baik. Menurutnya, pengelolaan dan pemeliharaan Alun-Alun Pondok Aren akan terus
berlanjut.
Ia juga berpesan kepada warga Pondok Aren untuk sama-sama menjaga fasilitas yang sudah ada. “Silahkan masyarakat memanfaatkan tempat ini sebaik-baiknya dengan batasan-batasan yang nanti diterbitkan. Tentu di sini, untuk aktivitas olahraga, tetapi kalau pertunjukan musik belum bisa kita izinkan karena ada beberapa hal yang harus kita perhatikan,” kata Benyamin.
“Saya titip jangan dicorat-coret, mari kita jaga kebersihan dan keindahan ini. Kita pelihara ini bersama, toilet juga dijaga,” tambahnya.
Beda dari Pamulang
Alun Alun Pondok Aren secara konsep pembangunannya berbeda dengan Alun Alun yang sudah ada seperti Alun Alun di Kecamatan Pamulang. “Memang secara konsep berbeda, untuk Alun Alun di Pondok Aren ini cenderung banyak fasilitas olahraga. Beda dengan yang di Pamulang, di Pondok Aren ini, lapangannya kita tata ulang. Rumputnya nanti diganti semuanya,” beber Benyamin.
Menurutnya, pembangunan Alun Alun Pondok Aren merupakan komitmen Pemkot dalam menyediakan fasilitas umum bagi masyarakat, khususnya masyarakat Pondok Aren untuk berkumpul dan melakukan aktivitas olahraga Berlokasi di dekat kota baru Bintaro Jaya, Alun-Alun
Pondok Aren memiliki luas area keseluruhan : ± 8500 m². Desainnya cukup modern dan futuristik. Selain itu seluruh area Alun-Alun juga dibuat multifungsional, sehingga dapat digunakan untuk tempat berkumpul dengan jumlah banyak orang.
Fasilitas dari Alun-Alun Kecamatan Pondok Aren juga lengkap, mulai Shelter / Viewing Deck, Jembatan Skywalk, Plaza / Area Terbuka, Jogging Track, Lapangan Mini Soccer, Lapangan Basket, Lapangan Voli. Selain itu, dilengkapi juga dengan toilet gratis, ruang ganti, mounding dan tribun serta area taman hijau.
Diketahui pembangunan Alun-alun itu menghabiskan anggaran Rp6.700.268.000 dan dikerjakan selama 170 hari kalender. Kepala Bidang Bangunan pada Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Tangsel, Ikhtiyan Hermansyah mengatakan, untuk pengelolaannya akan diserahkan kepada pihak Kecamatan Pondok Aren.
“Kebetulan ini sudah kami serahkan ke kecamatan Pondok Aren untuk pengelolaannya, karena ini merupakan aset dari kecamatan Pondok Aren,” jelas Hermansyah.
Menurutnya, untuk masa perawatan Alun-alun Pondok Aren, saat ini masih tanggungjawab pihak ketiga sebagai pengembang dan kontraktor pembangunan Alun alun hingga pertengahan tahun 2024 ini. “Iya masih ada (tanggungjawab pihak ketiga-red), selama kurang lebih nanti sampai pertengahan tahun ini masih menjadi tanggungjawab pihak penyedia,” pungkasnya.
Masih Minim
Pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat diiringi dengan kebutuhan masyarakat akan sarana prasarana di perkotaan membuat pembangunan di wilayah tersebut meningkat pula. Penataan ruang pun dilakukan dengan maksud agar kualitas lingkungan dapat lebih baik sehingga terciptanya keseimbangan antara perkembangan dan tata kehidupan masyarakat. Hal tersebut selaras pula dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang sedang dimasifkan.
Namun sayangnya kenyataan di lapangan menunjukkan fakta bahwa di tengah pembangunan yang terus digencarkan di lingkungan perkotaan, aspek kehadiran lahan hijau sering dikesampingkan. Salah satunya adalah pengadaan ruang terbuka hijau publik. Padahal jika dilihat dari kebutuhan masyarakat saat ini, mereka sangat membutuhkan kawasan hijau yang mudah diakses di perkotaan sebagai tempat untuk sekadar melepas penat.
Ruang terbuka hijau adalah area memanjang dan mengelompokkan yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanami. Instruksi Menteri Dalam Negeri No.14 tahun 1988 mengklasifikasikan RTH kedalam beberapa bagian, yaitu taman kota, kawasan hutan kota, jalur hijau kota, lapangan olahraga, perkarangan, perkuburan, dan RTH produktif.
Ruang terbuka hijau yang memiliki fungsi paling penting saat ini untuk lingkungan perkotaan yaitu kawasan hijau taman kota dan kawasan hijau lapangan olahraga. Kawasan hijau taman kota memiliki hampir seluruh fungsi RTH, sedangkan lapangan olahraga dibutuhkan untuk mendukung terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik, Terlebih lingkungan perkotaan didominasi oleh para pekerja kantoran, mereka tentu membutuhkan fasilitas olahraga yang memadai untuk digunakan.
Di tengah hiruk-pikuknya pembangunan di perkotaan, hendaknya kemajuan tidak terjadi pada sektor ekonominya saja, tetapi terjaga pula dari segi ekologinya. Salah satu langkah untuk menjaga ekologi di tengah perkotaan yaitu dengan menghadirkan RTH. Keberadaan ruang terbuka hijau di perkotaan tentu memberikan dampak baik bagi lingkungan sebab RTH mampu menjaga keseimbangan oksigen dan karbondioksida, menambah keasrian kota, membantu adanya ketersediaan tanah, dan menciptakan iklim yang lebih sejuk.
Pengadaan RTH di perkotaan tentu tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan resiko yang dapat terjadi. Terlebih jika ruang terbuka hijau tersebut dibuka untuk publik dengan sentuhan nilai estetikanya maka akan memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk berbondong-bondong mendatanginya.
Realita tersebut dapat kita lihat dalam beberapa kejadian yang ditampilkan di media sosial. Ketika seseorang memberikan rekomendasi ruang terbuka hijau, masyarakat lainnya selalu ingin mengunjungi RTH tersebut. Warga dari luar kota pun rela mengeluarkan biaya transportasi yang tinggi agar dapat mendatangi dan ikut merasakan suasana tempat itu. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan masyarakat akan ruang hijau publik sangat tinggi tetapi pengadaannya masih minim. l[Andrian Saputri]





















