Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Indonesia Property Watch, sebesar 80% pengembang berjalan tanpa riset pasar dan studi pasar. Fakta ini menjelaskan mengapa saat ini sebagian proyek yang dikembangkan tidak sesuai dengan karakter permintaan pasar yang ada.
baca juga, NO PAIN NO GAIN
Sebut saja pengembang A, mereka lebih memilih untuk mengembangkan lahan sesuai keinginan mereka, bukan keinginan pasar. Dan menganggap pasar akan mengikuti mereka. Pengembang A menentukan harga rumah sesuai dengan harga perolehan ditambah profit jadilah harga jual. Harga perolehan belum tentu juga sesuai. Artinya dengan harga perolehan yang tinggi, maka harga jual pun menjadi semakin tinggi dan pasar ‘dipaksa’ untuk menerimanya. Yang terjadi adalah pengembang masuk dalam perangkap pasar.
Ironisnya, pengembang A dianggap dapat meningkatkan harga di kawasan tersebut. Pengembang lain yang baru masuk pasar ‘terkecoh’ dengan hadirnya pengembang A yang menganggap bahwa harga jual pengembang A merupakan patokan harga. Selanjutnya sudah bisa dipastikan semua bermain di pasar latah dan keduanya masuk perangkap pasar perumahan.
Hal ini yang dicermati oleh konsultan properti Indonesia Property Watch yang mengatakan bahwa sebuah riset dan studi yang cermat akan
dapat meminimalkan pasar yang ada. Sayangnya saat ini sebagian pengembang memposisikan konsultan properti bukan sebagai profesi, namun sebagai pelicin, apalagi bila sebuah studi menjadi persyaratan pengembang untuk pencairan dana dari perbankan. Pentingnya integritas sebuah perusahaan konsultan properti agar dapat menjamin kinerja proyek yang lebih baik dan menghindari risiko yang tidak perlu.
baca juga, Proyek IKN Diserbu Investor Asing, Presiden Jokowi: Rem Dulu, Utamakan Lokal
Tidak hanya pengembang yang baru masuk pasar, hal ini juga terjadi pada pengembang besar. Sebagian besar pengembang melihat kondisi saat ini, tren saat ini, dan persaingan saat ini. Yang sebenarnya persaingan ke depan perlu dicermati. Market intelligence yang baik harus dimiliki oleh para pengembang agar pasokan yang ada ke depan tidak menjadi over supply di segmen atau tipe tertentu. Dan market intelligence ini umumnya lebih banyak dimiliki oleh konsultan properti yang selalu update dengan informasi dan perkembangan ke depan sehingga dapat mengembangkan sebuah strategi dengan melihat mendahului siklus ke depan.
Dengan riset dan studi pasar yang baik, maka investasi pengembang relatif dapat terjaga dengan baik dengan melihat celah pasar yang harus dibidik agar terjadi persaingan yang lebih sehat ke depan.





















