Tuti Mugiastuti: Penjualan Rumah Subsidi Turun Lebih dari 60 Persen

Di tengah makin merosotnya penjualan rumah subsidi dampak Covid-19, nasib pengembang rumah subsidi makin terpukul setelah keluarnya kebijakan adanya pembatasan pemberian KPR subsidi.

0
315
Tuti Mugiastuti
Tuti Mugiastuti, Direktur Marketing SPS Group./ Foto: Pius Klobor

Propertyandthecity.com, Jakarta – Hanya dalam waktu dua bulan setelah Indonesia menyatakan masuk negara terkena pandemi wabah Covid-19, ancaman krisis ekonomi sudah menjadi masalah serius bagi perekonomian Indonesia. Jutaan tenaga kerja telah kehilangan pekerjaan akibat terkena PHK, pengurangan karyawan hingga karyawan dirumahkan.

Nasib bisnis properti tidak kalah buruk dari sektor lainnya karena makin melemahnya daya beli masyarakat. Kalaupun ada yang masih memiliki dana, tidak bisa mendatangi gallery marketing karena keharusan social distancing.

Baca: Penjualan Ciputra Residence Tumbuh 11 Persen di Kuartal I

Tidak heran kalau sudah muncul analisa dalam tiga bulan ke depan tidak sedikit pengembang yang bakal tumbang atau tidak mampu bertahan. Jangankan menaikkan revenue tahun ini, bisa survive saja sampai akhir tahun sudah bagus. Beberapa pengembang harus mengubah business plan yang dibuat di akhir tahun 2019 kalau ingin bertahan di 2020. Lalu bagaimana dengan nasib pengembang rumah subsidi yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Apakah sama terpukulnya dengan pengembang real estate.

Menurut Tuti Mugiastuti, Direktur Marketing SPS Group, kondisi pengembang rumah subsidi saat ini betul-betul berat akibat dampak dari Covid-19. Apabila wabah Covid-19 lewat sampai lewat bulan Juli, krisis ekonomi bakal betul-betul terjadi. Saat ini saja penurunan penjualan rumah subsidi sudah lebih dari 60 persen. Kondisi pengembang rumah subsidi diyakini makin berat karena adanya pembatasan ekpansi KPR subsidi untuk segmen calon debitur tertentu. Pihak bank mengeluarkan daftar sejumlah kategori calon konsumen yang tidak bisa mendapatkan KPR. Akibatnya ini mempersempit pasar rumah subsidi.

“Sekarang ada pembatasan pemberian KPR subsidi. Ini makin membuat developer rumah subsidi semakin sulit,” ujar Tuti.

Kategori calon debitur fixed income yang tidak bisa mendapat KPR subsidi antara lain, pegawai pada perguruan tinggi swasta non Akreditasi A, pegawai di sektor pariwisata, perhotelan, perdagangan, pertanian, konstruksi, keuangan, pertambangan, otomotif, transportasi ( penerbangan dan pelayaran). Sedangkan yang masih bisa mendapatkan KPR subsidi dalam situasi saat ini yaitu karyawan dari ASN atau BUMN (kecuali sektor industri dan transportasi) dan anggota TNI/Polri.

Baca: Pasar Perumahan Jabodebek-Banten Drop Rata-Rata 50,1%

“Ini ujian berat buat developer, karyawan, wirausaha, buruh,” ujar Tuti Mugiastuti.

Sementara menurut Soelaeman Soemawinata, Ketua Badan Pertimbangan Organisasi REI, sampai saat ini pengembang rumah subsidi justru tidak terlalu terpukul, programnya jalan terus. Walaupun di lapangan ada sedikit kendala yang dihadapi pengembang rumah subsidi. Bank juga melakukan beberapa langkah untuk merelaksasi kondisi saat ini. (Hendaru)