Jakarta, Propertyandthecity.com – Gedung pintar bukan hanya soal penggunaan teknologi digital untuk mengatur berbagai perangkat di dalam bangunan. Lebih dari itu, teknologi dapat membantu pemilik dan pengelola gedung mengetahui pola konsumsi energi, menemukan pemborosan, dan membuat operasional bangunan berjalan lebih efisien.
Hal ini membuat efisiensi energi semakin dekat dengan konsep smart building. Ketika sistem bangunan mampu membaca kondisi secara real-time dan menyesuaikan penggunaan energi berdasarkan kebutuhan, teknologi tidak hanya membuat gedung lebih mudah dikelola, tetapi juga membantu menekan biaya dan emisi.
Pakar ESG sekaligus Chairman Indonesian ESG Professional Association (IEPA) Herry Ginanjar mengatakan, efisiensi energi dan digitalisasi bangunan semakin penting bagi pemilik dan pengelola gedung di Indonesia karena berkaitan dengan ketahanan dan daya saing bisnis.
“Dalam konteks ESG, efisiensi energi dan digitalisasi bangunan di Indonesia bisa meningkatkan ketahanan dan daya saing bisnis, selain mendukung pemerintah dalam mencapai target SDG serta mengurangi jejak karbon, yang merupakan indikator penting dalam pelaporan keberlanjutan,” kata Herry, saat dihubungi Property and The City, Senin (31/8/26).
Menurutnya, digitalisasi juga dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan bangunan yang semakin diperhatikan investor dan regulator. Data mengenai penggunaan energi dan emisi dapat menjadi bagian dari pelaporan keberlanjutan sekaligus membantu pemilik gedung mengambil keputusan investasi.
Penghitungan emisi karbon juga menjadi salah satu aspek penting untuk memenuhi persyaratan sertifikasi bangunan hijau global seperti LEED dan Green Mark. Transformasi tersebut juga sejalan dengan tujuan PLN untuk mendorong pengurangan emisi sebesar 0,3 juta metrik ton CO2e melalui program bangunan hijau cerdas.
Data Membantu Gedung Lebih Efisien
Pemanfaatan teknologi seperti Building Management System (BMS), energy monitoring, dan integrated energy management dapat membantu pengelola mengendalikan penggunaan energi dengan lebih baik.
Sistem tersebut memungkinkan operasional HVAC, pendingin, pencahayaan, dan berbagai perangkat lainnya dipantau dan diatur berdasarkan kebutuhan. Pengelola juga dapat mengetahui adanya pemborosan energi secara lebih cepat dan melakukan perawatan prediktif sebelum terjadi gangguan.
Herry menyebut penerapan teknologi tersebut telah menunjukkan hasil di sejumlah gedung. Di Rogier Tower, Belgia, kombinasi sistem manajemen energi dengan deteksi dini pada instalasi mampu menghemat konsumsi gas dan listrik tahunan hingga sekitar 40 persen.
Sementara itu, studi kasus Trinity Tower Jakarta menunjukkan penerapan Energy Management System (EMS) yang terintegrasi dengan BMS dapat menekan biaya listrik sekitar Rp1,2 miliar per tahun. Penerapan tersebut juga diikuti penurunan emisi CO2 sekitar 450 ton per tahun.
“Peran teknologi seperti Building Management System (BMS), energy monitoring, dan integrated energy management terbukti secara empiris bisa menekan konsumsi energi serta emisi di gedung,” ujar Herry.
Dengan sistem berbasis data, pengelola tidak lagi hanya mengandalkan perkiraan untuk mengetahui bagian gedung yang boros energi. Data konsumsi dapat digunakan untuk menentukan sistem mana yang perlu dioptimalkan dan kapan perawatan perlu dilakukan.
Tantangan Ada pada Investasi dan Kesiapan Pengelola
Meski menawarkan manfaat, penerapan teknologi untuk efisiensi energi masih menghadapi sejumlah tantangan di Indonesia.
Herry menyebut tiga persoalan yang cukup signifikan, yaitu biaya investasi awal, rendahnya kepatuhan terhadap pelaporan manajemen energi, dan kesiapan organisasi.
Untuk gedung berukuran sedang, biaya sistem manajemen gedung pintar diperkirakan mencapai Rp2 miliar hingga Rp5 miliar. Nilai investasi tersebut cukup besar bagi sebagian pemilik gedung, meskipun dapat memberikan penghematan dalam jangka panjang.
Dari sisi pelaporan, tingkat kepatuhan juga masih rendah. Herry memperkirakan hanya sekitar 1,6 persen atau 90 dari 5.430 gedung yang diwajibkan melaporkan manajemen energi kepada pemerintah telah memenuhi ketentuan tersebut.
Padahal, data menjadi dasar untuk mengetahui kinerja energi sebuah gedung. Tanpa pengukuran yang baik, pemilik gedung akan kesulitan menentukan bagian mana yang membutuhkan perbaikan dan seberapa besar hasil yang diperoleh setelah investasi dilakukan.
Kesiapan organisasi juga ikut menentukan. Kebijakan internal, kesiapan teknis dan finansial, serta dukungan dari para pemangku kepentingan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi keberhasilan penerapan teknologi hemat energi.
Merancang Bangunan yang Efisien dan Nyaman
Menurut Herry, konsep bangunan masa depan perlu melihat gedung sebagai satu ekosistem. Efisiensi energi, ketahanan bangunan, keberlanjutan, dan kenyamanan manusia seharusnya dirancang secara bersama-sama.
Energi, air, struktur bangunan, dan kesehatan pengguna saling berkaitan. Karena itu, efisiensi tidak selalu harus dimulai dari penggunaan teknologi.
Desain pasif seperti orientasi bangunan yang tepat, pemanfaatan cahaya alami, dan ventilasi silang dapat mengurangi kebutuhan energi sejak awal. Setelah itu, teknologi seperti panel surya dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan energi bangunan.
Dari sisi air, penampungan air hujan dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus ketahanan pasokan. Pendekatan tersebut juga perlu disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia melalui penggunaan bukaan untuk sirkulasi udara dan perlindungan dari paparan sinar matahari.
Dengan pendekatan yang terintegrasi, efisiensi energi tidak harus mengurangi kenyamanan penghuni. Sebaliknya, desain dan teknologi yang tepat dapat membuat bangunan lebih hemat sekaligus memberikan lingkungan yang lebih nyaman.
“Efisiensi, ketahanan, dan kenyamanan manusia merupakan unsur-unsur yang tak terpisahkan,” kata Herry.
Mulai dari Audit Energi
Bagi pemilik gedung yang ingin memulai transformasi, Herry menyarankan agar langkah pertama dilakukan dengan audit energi secara menyeluruh.
Audit diperlukan untuk mengetahui kondisi awal konsumsi energi dan menetapkan baseline sebelum target efisiensi ditentukan. Salah satu indikator utama yang perlu diperhatikan adalah Energy Use Intensity (EUI), yaitu jumlah energi yang digunakan per meter persegi bangunan dalam satu tahun.
Herry menyebut rata-rata EUI gedung perkantoran di Indonesia berada di sekitar 160 kWh/m²/tahun. Gedung yang efisien memiliki EUI di bawah 115 kWh/m²/tahun, sedangkan gedung yang tidak efisien berada di atas 190 kWh/m²/tahun.
Selain EUI, penggunaan energi pada sistem utama juga perlu dipantau. HVAC menjadi salah satu komponen terbesar karena menyumbang hampir 65 persen konsumsi listrik gedung. Pencahayaan dan peralatan kantor juga perlu diperhatikan.
Pemilik gedung juga perlu menghitung emisi karbon operasional yang berasal dari penggunaan energi. Pengukuran secara rutin akan membantu melihat perkembangan kinerja gedung sekaligus menjadi dasar dalam menentukan investasi berikutnya.
Dengan demikian, digitalisasi dan efisiensi energi dapat berjalan beriringan. Teknologi membantu gedung membaca dan mengelola penggunaan energinya, sementara data memberikan dasar bagi pemilik dan pengelola untuk menentukan langkah perbaikan yang paling dibutuhkan.





















