Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara (Untar) Dr. Dwi Sulistyawati S.Sn, M.T. Ars. mengungkapkan bahwa tempat (tinggal) itu sangat berkaitan erat dengan perasaan emosional manusia. Dalam arti, space itu bukan hanya soal kenyamanan dan kesejahteraan, tapi juga bisa menjadi bagian identitas manusia sebagai penghuninya.
baca juga, Perumnas Hadirkan Hunian Kekinian, The New Face of Samesta Sentraland Cengkareng
Lebih luas, inilah yang dimaksud keterikatan tempat dalam perencanaan interior berkelanjutan. Atau dalam kata lain, keterikatan tempat pada desain interior yang dikaitkan dengan perilaku pengguna yang lebih prolingkungan dan peningkatan upaya untuk memelihara dan melindungi lingkungan.
Jadi keterikatan tempat dalam perancangan interior yang dapat mendorong pengguna untuk secara aktif melindungi lingkungan dan terlibat dalam perilaku pro lingkungan yang lebih luas itu niscaya. Ikatan emosional yang dimiliki individu dengan ruang yang mereka huni, terutama dalam desain interior yang sadar lingkungan, mengakui pentingnya membentuk rasa memiliki dan koneksi terhadap ruang sambil memprioritaskan pelestarian lingkungan.
Dalam tataran praksisnya, Place Attachment In Sustainable Interior Design itu berhubungan langsung dengan: 1). Kenyamanan dan Kesejahteraan yang secara langsung terkait dengan healthy, happy, comfortability, scure, dan safety. 2). Partisipasi dan Keterlibatan, yang terkait dengan regulator, behavior atau lifestyle, innovation dan design process. 3). Berkelanjutan dalam Penggunaan Sumber Daya yang terkait water effisiensy, effisiency lighting, material & resources, minimize use of space, and humidity & air circulation. 4). Identitas dan Berkelanjutan yang terkait dengan history, social, and culture.





















