Beranda Liputan Utama MRT HADIR UNTUK MELENGKAPI PUBLIC TRANSPORT DI JAKARTA

MRT HADIR UNTUK MELENGKAPI PUBLIC TRANSPORT DI JAKARTA

DARI RENCANA ADANYA PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN TERSEBUT KITA MEMPREDIKSI AKAN ADA PERTUMBUHAN PENDUDUK YANG TERAKUMULASI DI AREA SEKITAR KAWASAN TOD MRT, DAN OLEH KARENANYA PERLU SUATU DAYA DUKUNG. DAYA DUKUNG TERSEBUT BERMACAM-MACAM SIFATNYA, ADA YANG BERBENTUK INTERKONEKSI AGAR PEMBANGUNAN SUATU MIXED USE ATAU PEMBANGUNAN PROPERTI SEPERTI ADCP, TIDAK MENIMBULKAN BANGKITAN PENGGUNAAN KENDARAAN BERMOTOR DAN MENYEBABKAN KEMACETAN. ITU SALAH SATUNYA.

0
MRT

MRT Jakarta adalah perusahaan transportasi. Kami diberi tugas oleh Pemprov DKI untuk mengelola kawasan TOD di sepanjang jalur MRT fase 1. Ridership kami di tahun 2019 sebetulnya sudah mencapai 110 ribuan orang, tetapi turun akibat pandemi, namun saat ini alhamdulillah mulai
kembali normal ke 80.000 – 90.000 orang per hari, bahkan sekali-sekali waktu mencapai 100 ribuan orang per hari. Jadi ini baru sepertiga dari total capacity yang akan kami kejar kalau seandainya kondisi supply dan demand site, dikelola dengan sempurna.

baca juga,Konsisten Catatkan Kinerja Positif, SBI Bagikan Dividen Rp251,78 Miliar

Selama ini Kota Jakarta dibangun dengan konsep car oriented development. Dimana jalan lebar, di situ bangunan tinggi boleh dibangun. Beberapa waktu yang lalu, dengan konsep pengelolaan Kawasan Berorientasi Transit (KBT), Pemerintah Jakarta mencoba melakukan repositioning atau redefining konsep pembangunan kota dari car oriented menjadi transit oriented. Jadi pembangunan gedung tinggi nantinya didorong hanya untuk area yang radius transit pedestrian dengan titik inti adalah public transport.

Ini efeknya besar sekali. Sehingga ke depan, mau tidak mau pola pengembangan kota yang mendukung efisiensi mobilitas itu menjadi mutlak. Apa itu? Konsepnya adalah transit oriented development (TOD) atau atau kawasan berorientasi transit.

Menyadur data yang disampaikan oleh Pemprov DKI Jakarta, dimana penduduk Jakarta sekitar 10 – 11 juta, yang berkomuter sekitar 7 jutaan. Akhirnya muncul isu-isu lingkungan seperti polusi udara dan lainnya. Kemudian berapa biaya yang di-spending untuk BBM, atau untuk tol, waktu yang habis di jalan dimana rata rata mencapai 4 jam. Bisa dibayangkan kalau kita kerja 8 jam + 4 jam menjadi 12 jam. Jadi the quality of lifenya sangat buruk.

MRT sendiri sebetulnya dihadirkan untuk melengkapi publik transport. Mungkin belum sempurna dari sisi rute, tetapi in principle sebetulnya ini dihadirkan untuk menyempurnakan. MRT diberi mandat dan memiliki visi increasing mobility dari sisi mobilitas biar lebih cepat tetapi juga meng-improve quality. Dan kami memiliki tiga mandat yaitu membangun infrastruktur itu sendiri, mengoperasikan dan mengembangkan jalur fase satu, maupun TOD-nya.

Alhamdulillah di beberapa hari ini ada berita baik bahwa ke depan pembangunan east-west akan diakselerasi yang menghubungkan Bekasi ke Balaraja. Kemudian sekarang kita sudah mengoperasikan fase 1 sampai ke Bundaran HI, bahkan Bundaran HI sampai ke Monas juga sudah terhubung, walaupun belum beroperasi. Tapi sampai dengan Kota paling tidak ini akan segera dioperasikan, dan akan terus sampai ke Ancol.

Selanjutnya untuk fase 4, di Fatmawati dan Taman Mini, ini juga kita harapkan bisa segera dimulai karena pembahasan pembahasan untuk pembiayaan sekarang sedang intensif.

Jadi memang sebetulnya kita terlambat tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kita sekarang sedang menyempurnakan semua integrasi dari public transport, khususnya di DKI Jakarta tetapi juga kita tidak lupa untuk menyambung dengan kota-kota di sekitarnya, baik di Provinsi Jawa Barat maupun Provinsi Banten.

Saat ini MRT mengelola 5 kawasan TOD yang sudah beroperasi, dari Lebak Bulus kemudian Fatmawati, Blok M, Sisingamangaraja, Istora Senayan, dan Dukuh Atas. Terbaru adalah Bundaran HI, Setiabudi dan Benhil serta Glodok dan Kota Tua. Jadi semua ini adalah kawasan kawasan TOD yang ditugaskan dengan menggunakan peraturan gubernur dengan Urban Design Guidelines khusus untuk area tersebut dengan radius 800 meter dan juga kewenangan kita untuk ikut serta membantu DKI Jakarta melakukan pengelolaan pembangunan pemanfaatan ruang udara di sekitar area TOD.

Dari rencana adanya pembangunan pembangunan tersebut kita memprediksi akan ada pertumbuhan penduduk yang terakumulasi di area sekitar kawasan TOD MRT, dan oleh karenanya perlu suatu daya dukung. Daya dukung tersebut bermacam-macam sifatnya, ada yang berbentuk interkoneksi agar pembangunan suatu mixed use atau pembangunan properti seperti ADCP, tidak menimbulkan bangkitan penggunaan kendaraan bermotor dan menyebabkan kemacetan. Itu salah satunya.

Selanjutnya adalah pedestrianisasi, dan peningkatan area stasiun, pelebaran trotoar dan peningkatan fungsi dari area-area hijau. Misalnya Taman Literasi Martha Christina Tiahahu yang sudah kami bangun di TOD Blok M. Dimana ini menjadi area ruang publik baru dengan fungsi yang dicampur antara fungsi taman, fungsi literasi, ruang bermain anak, juga untuk melakukan berbagai event dan sebagainya.

Sebetulnya yang akan kita dorong di kawasan TOD yang dilakukan oleh MRT adalah dalam rangka efisiensikan mobilitas warga dari origin ke destination adalah pengembangan kawasan terpadu dan kompak. Agar kawasan TOD itu bisa efisien Maka semua kebutuhan yang diperlukan itu harus ada di situ.

Oleh karena itu jenis pembangunan yang didorong di area TOD MRT adalah area mixed use. Jadi tidak hanya satu gedung memiliki satu fungsi tetapi memiliki multifungsi. Ada kombinasi kantor, hotel, apartemen, ruang terbuka hijau dan sebagainya. Bahkan fasilitas pendukung juga didorong untuk dibangun di wilayah yang sama untuk dimanfaatkan oleh properti-properti yang akan dibangun ke depan.•[Pius]

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini