Jakarta, Propertyandthecity.com – Ada kisah keluarga yang melekat pada setiap lapis identitas Si.Se.Sa. Namanya merupakan rangkaian suku kata dari tiga saudari pendirinya, yakni Siriz Tentani, Senaz Nasansia, dan Sansa Enandera. Bahkan warna violet, oranye, dan biru pada logonya diambil dari warna busana pernikahan mereka. Di balik sentuhan personal itu, Si.Se.Sa tumbuh menjadi bisnis mode dengan pembagian peran yang terukur, segmentasi pasar yang tegas, dan bahasa desain yang mudah dikenali.
Ketiganya merupakan putri desainer busana muslim Merry Pramono. Sejak kecil, mereka terbiasa melihat sang ibu menggambar, memilih bahan, dan bekerja bersama penjahit di rumah. Pengalaman tersebut membuat mode bukan sesuatu yang asing, meski jalan profesional mereka pada awalnya bergerak ke bidang berbeda.
Siriz, anak tertua, menempuh pendidikan Manajemen di Universitas Trisakti dan pernah bekerja sebagai Marketing Officer di Citibank. Perjalanan mendampingi suaminya melanjutkan studi di Eropa kemudian mempertemukannya dengan keragaman budaya dan estetika. Ketertarikan itu membawanya kembali belajar mode di ESMOD Jakarta. Di Si.Se.Sa, ia kemudian memegang peran dalam pengembangan bisnis dan penjualan.
Senaz berasal dari disiplin yang berbeda. Lulusan Arsitektur Universitas Trisakti ini pernah bekerja sebagai arsitek dan mendirikan konsultan yang menangani rumah tinggal, renovasi kantor, serta desain interior. Setelah menikah, ia pindah ke Eropa mengikuti pekerjaan suaminya dan meninggalkan bisnis konsultannya. Persinggungan dengan mode dan kebudayaan selama tinggal di Eropa turut membentuk minatnya membangun bisnis fesyen bersama keluarga. Dalam perusahaan, Senaz menangani pemasaran serta keuangan.
Adapun Sansa, si bungsu, memiliki latar pendidikan Psikologi. Ia kemudian memperdalam desain mode melalui program di ESMOD Jakarta dan mengambil tanggung jawab sebagai Creative Director. Setelah proses bertukar gagasan bersama kedua kakaknya, Sansa menerjemahkan hasilnya menjadi rancangan koleksi.
Perbedaan latar belakang itu justru membentuk fondasi bisnis Si.Se.Sa. Siriz membawa perspektif manajemen, penjualan, dan pengembangan pasar. Senaz menggabungkan ketajaman membaca ruang dengan strategi pemasaran. Sansa mengarahkan keseluruhan gagasan menjadi koleksi yang memiliki kesatuan visual.
Berawal dari Lini Kedua, Menemukan Identitas Sendiri
Si.Se.Sa berdiri pada 2011. Gagasan awalnya berasal dari rencana Merry Pramono menghadirkan lini kedua busana muslim. Tiga saudari tersebut kemudian mengembangkan usaha pakaian jadi bagi perempuan muslim dengan pendampingan sang ibu sebagai konsultan.
Pada fase awal, mereka belum langsung memusatkan bisnis pada busana syar’i. Arah tersebut menguat menjelang akhir 2013, bertepatan dengan keputusan ketiganya mengenakan pakaian syar’i dalam keseharian.
Motivasinya muncul dari pengalaman personal sebagai pengguna. Mereka melihat busana syar’i ketika itu masih memiliki keterbatasan dalam kenyamanan dan pilihan desain, termasuk ketika digunakan untuk aktivitas seperti umrah. Tantangannya adalah menghadirkan pakaian yang tetap mengikuti ketentuan berbusana, dalam arti longgar, tidak membentuk tubuh, dan tertutup, nmaun tetap tak kehilangan kenyamanan serta daya tarik visual.
Debut di Indonesia Fashion Week 2013 menjadi penanda arah baru tersebut. Si.Se.Sa membawa busana syar’i ke panggung mode, lalu membangun positioning pada kategori ready-to-wear dan deluxe yang feminin serta elegan.
Pilihan ini bukan sekadar mengikuti pertumbuhan pasar busana muslim. Si.Se.Sa menyasar ruang yang saat itu belum banyak digarap: perempuan yang ingin menjalankan kaidah berbusana syar’i, tetapi tetap menghendaki desain premium, warna yang ekspresif, material berkualitas, dan pengerjaan setingkat butik.
Kreativitas di Tengah Batas Desain
Busana syar’i memiliki batas bentuk yang jelas. Potongannya tidak dapat dibuat terlalu ketat, transparan, atau menonjolkan lekuk tubuh. Kondisi tersebut membatasi eksplorasi siluet dibandingkan kategori mode lainnya.
Si.Se.Sa menjawab keterbatasan itu dengan mengalihkan inovasi pada material, warna, aplikasi, tekstur, dan detail pengerjaan. Senaz pernah menjelaskan bahwa ketika potongan tidak dapat dieksplorasi terlalu jauh, pembaruan harus muncul melalui bahan dan aplikasi. Strategi itu membuat pelanggan menunggu koleksi baru karena setiap peluncuran menawarkan detail yang berbeda.
Salah satu kekuatan produknya terletak pada bahan yang dikembangkan secara khusus. Chiffon untuk khimar, misalnya, dipesan dengan tingkat ketebalan dan ketipisan tertentu. Koleksinya juga mengeksplorasi katun, crepe, brokat, scuba, denim, hingga material yang berasal dari serat kulit jagung. Setiap produk dipadukan dengan jahitan butik, bordir, payet, dan permainan warna.
Kristal Swarovski kemudian menjadi salah satu penanda visual terkuat Si.Se.Sa. Merek tersebut tercatat menjadi mitra co-branding Swarovski Austria di Indonesia. Kristal tidak sekadar ditempelkan sebagai ornamen, tetapi digunakan untuk memperkuat karakter mewah pada busana yang tetap mengikuti pakem syar’i.
Identitas Si.Se.Sa juga dibangun melalui warna. Di saat busana syar’i kerap diasosiasikan dengan warna gelap dan bentuk yang sangat konservatif, mereka menghadirkan palet pastel, warna cerah, motif, serta detail dekoratif. Keunikan ini membuat busana tertutup tidak harus kehilangan sisi feminin dan ekspresif.
Eksplorasi terus diperluas ke beragam kebutuhan. Selain gaun dan khimar, Si.Se.Sa mengembangkan lini anak, busana untuk perjalanan, koleksi pesta, hingga sportswear. Pertunjukan seperti The Journey, Blossom of Hope, dan berbagai annual fashion show menjadi sarana untuk memperkenalkan gagasan baru sekaligus menjaga hubungan dengan komunitas pelanggan.
Keberanian Menetapkan Pasar Premium
Keunggulan Si.Se.Sa tidak hanya terletak pada rancangan, tetapi juga pada keberaniannya mempertahankan posisi pasar. Harga busananya berada di kelas premium karena menggunakan material khusus, kristal asli, serta pengerjaan butik.
Si.Se.Sa pernah mencoba membuat koleksi dengan bahan yang lebih ekonomis agar produknya dapat dijual dengan harga lebih rendah. Respons pelanggan justru menunjukkan bahwa strategi tersebut tidak sejalan dengan ekspektasi pasar inti mereka. Konsumen menilai kualitasnya tidak lagi memiliki “rasa Si.Se.Sa”. Pengalaman itu menguatkan keputusan perusahaan untuk tidak bersaing melalui harga murah.
Pilihan tersebut memperlihatkan pemahaman mereka terhadap segmentasi. Si.Se.Sa tidak berusaha melayani seluruh lapisan pasar dengan satu produk. Mereka memilih konsumen yang mencari kenyamanan, desain orisinal, eksklusivitas material, dan konsistensi mutu.
Strategi itu juga membentuk perilaku pelanggan yang kuat. Sejumlah koleksi dilaporkan habis dalam waktu singkat karena peluncurannya telah dinantikan. Selain desain baru, kualitas yang konsisten menciptakan kepercayaan bahwa produk berikutnya akan tetap membawa karakter yang sama.
Ekspansi dilakukan melalui butik dan titik penjualan di pusat perbelanjaan. Pada akhir 2021, Si.Se.Sa dilaporkan memiliki 17 butik, terdiri dari delapan butik mandiri dan sembilan gerai di dalam mal. Pada 2023, jumlahnya disebut telah mencapai 18 butik di Indonesia.
Warisan Keluarga yang Dikelola sebagai Bisnis
Si.Se.Sa lahir dari tradisi desain keluarga, tetapi pertumbuhannya tidak hanya bergantung pada nama Merry Pramono. Ketiga putrinya membangun sistem kerja berdasarkan kompetensi masing-masing. Proses kreatif dilakukan bersama, lalu diterjemahkan Sansa menjadi rancangan; Siriz mengembangkan peluang bisnis dan penjualan; sedangkan Senaz menjaga pemasaran serta keuangan.
Ikatan keluarga memberi mereka kesamaan nilai, tetapi bisnis tetap membutuhkan pembagian tanggung jawab. Inilah salah satu kekuatan Si.Se.Sa: warisan kreatif dari sang ibu tidak berhenti sebagai nostalgia, melainkan diolah menjadi identitas produk, strategi pasar, dan organisasi usaha.
Baca Juga: Rekomendasi AC Tahan Lama dan Cepat Dingin Midea, Siap Dipakai Jangka Panjang
Motivasi mereka juga berkembang melampaui penciptaan pakaian. Si.Se.Sa ingin menunjukkan bahwa kepatuhan pada kaidah busana syar’i tidak menutup ruang bagi kreativitas. Batas desain justru mendorong pencarian kemungkinan baru melalui bahan, warna, detail, dan cara pemakaian.
Dari tiga nama yang disatukan menjadi satu merek, Si.Se.Sa membangun bahasa mode yang khas: tertutup tanpa kehilangan ekspresi, nyaman tanpa terlihat biasa, serta mewah tanpa meninggalkan prinsip yang menjadi fondasinya. Di situlah kekuatan ketiga saudari tersebut, bukan menghapus batas, melainkan mengubahnya menjadi sumber kreativitas. (*)





















