Memasuki triwulan kedua tahun 2026, pasar perumahan berkutat untuk dapat kembali pada tren siklus kenaikan dan percepatan pasar yang sudah lama dinantikan. Namun demikian, beberapa kondisi membuat pasar perumahan saat ini masih dalam tekanan.
Baca juga, Kinerja Penyaluran Moncer, Plafon KUR Perumahan Naik Jadi Rp50 Triliun
Beberapa kondisi pasar perumahan saat ini adalah sebagai berikut:
Perlambatan pasar masih terjadi saat ini. Nilai penjualan rumah di Jabodebek- Banten Q1-2026 mengalami penurunan sebesar 12,9% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu pergerakan jumlah unit terjual mengalami penurunan 14,2% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi tren perlambatan ini diperkirakan masih akan terjadi sampai akhir tahun.
Mismatch pasar masih terjadi namun mulai terjadi keseimbangan antara pasokan dan permintaan di segmen pasar menengah yang lebih baik. Banyaknya pasokan rumah di menengah-atas diperkirakan tidak sebanding dengan tingkat permintaan di segmen ini yang mulai mengindikasikan kejenuhan. Sementara itu pasar terus bergeser ke segmen menengah yang lebih stabil dan sebagian besar merupakan end-users meskipun pasar juga belum sepenuhnya pulih.
Pengembang besar diuntungkan dengan kondisi saat ini. Para pengembang menengah sampai kecil akan bersaing ketat dengan pengembang besar yang masuk ke pasar rumah segmen yang sama di segmen harga rumah menengah.
Harga konstruksi bahan bangunan diperkirakan akan mengalami lonjakan eskalasi kenaikan yang cukup tinggi mencapai 9% – 13% di tengah inflasi konstruksi sebesar 5,93%, yang didorong oleh naiknya harga komponen esensial perumahan berbahan aluminium, besi, tembaga, dan beton. Kenaikan tertinggi didominasi oleh komoditas turunan komponen aluminium dan instalasi listrik. Kusen aluminium melonjak hingga +24,21%, disusul oleh Kabel Listrik sebesar +20,06%.
Kondisi nilai tukar Dolar Amerika yang tinggi membuat banyak pihak berpendapat bahwa kondisi ini dapat menguntungkan pasar properti dengan mengkonversi ‘keuntungan’ nilai tukar untuk membeli rumah, meskipun belum dapat dipastikan secara pasti mengingat saat ini properti bukan menjadi salah satu instrumen primadona lagi.
Dengan kenaikan BI Rate, maka tingkat suku bunga KPR juga diperkirakan akan turut mengalami kenaikan yang membuat daya beli semakin tertekan dan minat membeli rumah menjadi menurun.
Rejection atau penolakan pengajuan KPR masih cukup tinggi, meskipun sudah ada pelonggaran SLIK OJK. Berdasarkan data Indonesia Property Watch, tingkat pembatalan pada triwulan 1 tahun 2026 mengalami lonjakan dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi 17,28% dari total penjualan unit.
Pasar perumahan subsidi menjadi prioritas program pemerintah sehingga pergerakannya mengalami tren kenaikan, meskipun sektor ini bukan murni mekanisme pasar namun sangat tergantung anggaran dan kuota yang dicadangkan oleh pemerintah di sektor perumahan.
Stimulus perpajakan di pasar perumahan subsidi relatif lebih banyak dibandingkan segmen rumah komersial yang juga membuat animo masyarakat lebih tinggi untuk membeli rumah subsidi.
Pasar perumahan seken mulai dibanjiri oleh penawaran rumah yang akan dijual yang membuat harga pasar sekunder relatif sedikit tertekan. Banyaknya penawaran di pasar sekunder sebagai akibat sebagian investor melakukan exit strategy dengan melepas sebagian aset yang dimilikinya untuk dipindahkan ke instrumen lainnya ata sekedar berjaga-jaga di tengah ketidakpastian saat ini.
Pasar sekunder didominasi oleh sektor pergudangan, diikuti komersial dibandingkan sektor lainnya. Sementara itu dari status kepemilikan, pasar sewa masih cukup berperan sejak pertengahan tahun lalu dan diperkirakan masih akan berlanjut sampai akhir tahun 2026.
Program PPN DTP masih menjadi faktor strategis yang meningkatkan minat pembelian rumah. Hampir semua konsumen memanfaatkan kesempatan ini untuk membeli rumah.
Baca juga, Schneider Electric Hadirkan Inspirasi Rumah Nyaman dan Listrik Aman di IndoBuildTech 2026
Berbagai kondisi yang tidak menguntungkan di sektor perumahan ini membuat para pengembang harus jeli untuk dapat bertahan dengan mengatur arus kas secara ketat untuk menghindari dampak yang lebih buruk lagi. Hampir semua pengembang relatif tidak melakukan pengembangan secara agresif dan memilih untuk wait and see.





















